ISIS Punya Operator 24 Jam Sehari untuk Bantu Latih Teroris

'Help Desk' itu disinyalir berada di balik teror Paris dan mengajarkan para pelaku menggunakan bahasa enkripsi untuk menghindari deteksi.

oleh Arie Mega Prastiwi diperbarui 19 Nov 2015, 13:44 WIB
Melalui rekaman video, ISIS ancam serang Amerika Serikat. (Reuters)

Liputan6.com, Washington DC Kelompok ISIS bukan sekedar kelompok militan yang menguasai teknik propaganda di lapangan saja. Mereka juga merambah dunia maya.

Bahkan mereka kini punya semacam 'Help Desk' 24 jam untuk membantu anggota kelompoknya dalam melatih teroris pemula. Help desk itu punya halaman Facebook, akun Twitter, majalah online, bahkan aplikasi di telepon cerdas.

Saat Prancis dan sekutunya bertanya-tanya bagaimana 8 orang militan meluncurkan serangan mematikan ke Paris pada 13 November lalu, ternyata, grup itu punya bantuan 24 jam yang siap sedia berada di belakang mereka.

Nama 'bantuan' itu adalah The Jihadi Help Desk, yang menurut ahli antiteroris, help desk tersebut dibantu oleh 5 hingga 6 anggota senior ISIS. Tujuannya selain merekrut anggota baru, tapi juga bersembunyi dari deteksi para intel.

Aaron Brantly, ahli antiteror dari Combating Terrorism Center, sebuah organisasi penelitian independen di Akademi Militer AS, mengatakan help desk itu berfungsi untuk melatih teroris menggunakan kode enkripsi dalam berkomunikasi agar tidak tercium oleh pihak keamanan.

"Mereka membangun beberapa cara komunikasi yang berbeda untuk mengajarkan para teroris menggunakan keamanan digital agar bisa terhindar dari deteksi para intel dan aparat keamanan, terutama untuk perekrutan, propaganda, dan operasional," ujar Brantly seperti dilansir dari Newscom.au, Kamis (19/11/2015).

"Mereka telah membuat gerakan teror menjadi sebuah serangan global," ujarnya lagi.

"Jelas bahwa mereka bisa menggunakan bahasa-bahasa enkripsi yang membuat operasi mereka kali ini berbeda dengan sebelumnya," tutur Brantly.

"Mereka sekarang beroprasi dengan kecepatan siber dibanding dengan kecepatan berbicara biasa satu sama lain."

Salah satu teori setelah serangan di Paris pada 13 November yang membunuh 129 orang,  adalah para teroris itu menggunakan Sony PlayStation 4 untuk berkomunikasi satu sama lain.  Ada sebuah laporan--kendati belum dapat terkonfirmasi-- ditemukan perangkat permainan tersebut di salah satu rumah pelaku di Brussel.

Jan Jambon, menteri dalam negeri Belgia, mengakui sangat sulit mengkontrol komunikasi dari permainan online itu. "Yang paling sulit memonitor para teroris itu lewat PS4," kata Jambon. 

"Sungguh, sungguh susah bagi kami, tidak cuma aparat Belgia, tapi seluruh dunia, untuk memecahkan kode komunikasi via PS4," keluh Jambon. "Bahkan, PlayStation4 itu lebih susah untuk dicari jejaknya dibanding dengan WhatsApp."

WhatsApp adalah media komunikasi yang menggunakan enkripsi. Selain WhatsApp, ISIS juga menggunakan Telegram. Layanan komunikasi yang sejenis.

Ketika Telegram dipakai oleh para teroris, pihak pembuat memblokir akun ISIS sebanyak 78 pengguna.

"Kami sangat tertanggu ketika mengetahui Telegram telah digunakan ISIS untuk alat propaganda. Kami telah memblokir 78 akun yang disinyalir dimiliki oleh mereka," tulis Telegram kepada seluruh penggunanya.

Brantly juga menemukan para pemain di balik 'Help Desk' setidaknya adalah para ahli IT dan memiliki gelar master. Mereka menggunakan seluruh saluran di sosial media kendati situs mereka diblokir.

"Ini tidak hanya perang di dunia nyata, tapi perang di dunia maya. Mereka benar-benar menggoyahkan perspektif kriptografik atau coding di dunia internet," ucap dia. (Rie/Hmb)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya