Jurus Menteri Anies Atasi Nasib Sekolah Terdampak Kabut Asap

Menurut Anies, bencana kabut asap ini memiliki karakter berbeda dengan lainnya.

oleh Nafiysul Qodar diperbarui 08 Okt 2015, 17:30 WIB
Mendikbud, Anies Baswedan (kiri) memberikan pernyataan di Gedung Kemendikbud, Jakarta, Kamis (8/10/2015). Anies memberikan beberapa pernyataan seputar 50 thn SEAMEO (Organisasi Menteri Pendidikan Se Asia Tenggara). (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Liputan6.com, Jakarta - Kabut asap masih terjadi di sejumlah daerah di Sumatera dan Kalimantan. Kondisi ini telah mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar para siswa di sekolah.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mengatakan, bencana kabut asap ini memiliki karakter berbeda dengan lainnya.

"Semua kegiatan terganggu dengan adanya asap, bukan hanya pendidikan. Berbeda dengan bencana lain seperti banjir dan gempa. Kalau asap tidak bisa karena semua terganggu dari sisi udara," ujar Anies saat ditemui di Kantor Kemendikbud, Senayan, Jakarta, Kamis (8/10/2015).

Kendati begitu, pihaknya tetap menjalin komunikasi rutin dengan sejumlah Dinas Pendidikan di daerah-daerah terdampak kabut asap. Tujuannya, untuk memantau kegiatan belajar mengajar (KBM) di sejumlah daerah tersebut.

"Jadi kegiatan belajar mengajar di sana itu tergantung kondisi asapnya dan kebijakan pemdanya. Saya sudah perintahkan kabupaten dan kota, ada 3 hal. Pertama KBM bisa tetap dilaksanakan di sekolah, kedua KBM dilaksanakan di rumah, atau ketiga KBM ‎ditiadakan," ucap dia.

Akibatnya, tidak sedikit siswa di daerah terdampak kabut asap ketinggalan jam pelajaran lantaran kerap libur sekolah.

Skenario Sekolah

Anies mengaku, telah menyiapkan skenario khusus bagi sekolah-sekolah terdampak kabut asap.‎ Bahkan Kemendikbud siap menyesuaikan kalender akademik bagi sekolah-sekolah itu.

Namun perubahan kalender akademik hanya berlaku bagi sekolah yang libur lebih dari 1 bulan. Kalender ini akan mundur sampai seluruh pelajaran selesai. Selain itu, jadwal Ujian Nasional (UN) dan seleksi mahasiwa baru juga akan disesuaikan.

"Dibagi 3 (skenario). Ketinggalan kurang dari 15 hari solusinya beda. ‎Yang 15-29 hari juga beda. Tapi yang di atas 29 hari harus melakukan penyesuaian kembali kalender akademik," ucap Anies.

Anies menjelaskan, bagi sekolah yang hanya libur di bawah 15 hari, KBM akan dilaksanakan pada musim liburan Desember. Sementara pelaksanaan UAS ‎semester ganjil di Januari. Dan, pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tetap sama‎.

Adapun bagi sekolah yang siswanya diliburkan selama 15-29 hari juga akan menggunakan masa liburan Desember untuk menggantikan jam belajar yang hilang. Namun, pelaksanaan UAS semester ganjil dilakukan di Februari. Sementara pelaksanaan UN dapat mundur 2 hingga 3 pekan dari jadwal yang telah ditetapkan.

Anies juga menegaskan, kesehatan para siswa merupakan hal yang paling utama. Jika kondisi tidak memungkinkan, sebaiknya sekolah diliburkan. Namun begitu, ia mengimbau para siswa agar tetap memanfaatkan waktu untuk belajar di rumah.

"Kemendikbud telah membuat program pendidikan yang akan disiarkan di TVRI dan TV lokal. Materi bersahabat dengan anak-anak, yang ringan-ringan. Tujuannya agar anak-anak yang libur tidak main di luar. Ini juga agar exposure pada asap berkurang," pungkas Anies. (Ali/Mvi)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya