Derita TKI Fatmawati di Arab, 6 Tahun Tak Digaji

Selain tak mendapat gaji, TKI asal Kabupaten Tangerang, Banten itu bahkan tak diperbolehkan pulang ke Indonesia.

oleh Yandhi Deslatama diperbarui 20 Jul 2015, 18:47 WIB
Selain tak mendapat gaji, TKI asal Kabupaten Tangerang, Banten itu bahkan tak diperbolehkan pulang ke Indonesia.(Foto: themalaysianinsider.com)

Liputan6.com, Tangerang - Kisah pilu tenaga kerja Indonesia atau TKI seakan tiada henti. Salah satunya dialami Fatmawati, TKI yang telah bekerja selama 12 tahun di Arab Saudi.

Selama 6 tahun TKI asal Kampung Cibetok, RT 09 RW 04, Desa Cibetok, Kecamatan Gunung Kaler, Kabupaten Tangerang, Banten tersebut tak mendapatkan gaji. Wanita berusia 36 tahun itu bahkan tak diperbolehkan pulang ke Indonesia. Padahal, wanita dengan satu anak itu menjadi tulang punggung keluarganya.

"Sang majikan dengan alasan keamanan memindahkan Fatmawati dari Najran menuju Riyadh. Sering dengar ada suara bom dekat tempat majikannya. Alasannya sih lagi kurang aman di Najran, makanya sekarang ada di Riyadh," tutur ibunda Fatmawati, Neni di Banten, Senin (20/7/2015).

Kabar kepindahan TKW tersebut diterima keluarga melalui sambungan telepon seluler dari Fatmawati yang menggunakan telepon genggam temannya.

"Kalau nelepon pakai HP (handphone) temannya. Majikannya melarang (Fatmawati) pakai HP. Jadi kalau nelepon sembunyi-sembunyi, takut diketahui majikan," terang wanita berusia 61 tahun tersebut..

Duka Fatmawati terus berlanjut dengan meninggal sang ayahanda, dua tahun lalu.

"Keluarga enggak tega kasih tahunya. Makanya, sekarang kita kasih tahu. Majikan tetap tidak kasih izin untuk pulang. Bagaimana mau pulang, gajinya aja enggak dikasih," kata Nacun, adik kandung TKI tersebut.

Penyalur Lepas Tangan?

Pihak keluarga sendiri telah berupaya untuk memulangkan Fatmawati dengan mendatangi perusahaan penyalur tenaga kerja di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Namun hingga kini, perusahaan tersebut hanya memberi janji tanpa bukti.

"Janjinya dua minggu lagi mau diurus. Malah pernah kami disuruh bawa anaknya (Fatmawati) untuk bukti bahwa teteh punya anak perempuan. Tapi, sampai saat ini selang berapa tahun, tidak ada kelanjutannya," jelas wanita berusia 26 tahun tersebut.

Selain mendatangi perusahaan penyalur tenaga kerja yang memberangkatkan Fatmawati, pihak keluarga pun meminta pertolongan dari Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI). Namun pemerintah pun tak bisa berbuat banyak dan pihak keluarga tak tahu harus meminta tolong kepada siapa lagi.

"Sama aja, sudah beberapa kali kita datangi (BNP2TKI), tapi tetap tidak ada kepastian dan kami disuruh menunggu," jelas Nacun.

Sementara, Munajah putri Fatmawati yang kini duduk di kelas tiga madrasah aliyah, mengaku ingin bertemu ibunya. Gadis yang kini menginjak remaja itu mengaku sudah ditinggal ibunya sejak usia tiga tahun.

"Pengin ketemu ibu," ucap remaja berusia 15 tahun tersebut.

Kerinduan Munajah, sang putri semata wayang tersebut semakin kuat kepada ibunya. Sebab, sang ayah tidak pernah menemuinya sejak ibundanya berangkat untuk mencari nafkah di Arab Saudi.

Kota Najran yang berada di bagian selatan Arab Saudi berbatasan dengan Yaman. Kota ini menjadi salah satu sasaran serangan dari kelompok pemberontak Syiah Yaman, Houthi. Sararan Houthi ke Najran tersebut merupakan bagian dari serangan balasan atas gempuran udara koalisi Arab pimpinan Arab Saudi ke Yaman melawan milisi Syiah Haouthi. (Ans/Ali)

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya