Liputan6.com, Jakarta - Bank Dunia (World Bank) memperkirakan perekonomian negara-negara berkembang hanya akan bertumbuh 4,4 persen di tahun ini. Alasannya karena negara berkembang tengah menghadapi kondisi ekonomi lebih sulit akibat tekanan harga komoditas. Menanggapi pernyataan ini, Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro menganggap prediksi tersebut sebagai sebuah tantangan bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
"Saya dapat kabar pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat akan dipangkas dari 3 persen menjadi 2,5 persen. Jadi memang tahun ini tahun yang berat, seperti di kuartal I ada masalah global yang bikin semua turun, cuma Filipina yang sedikit naik 5,8 persen, itupun di bawah perkiraan mereka 6,2 persen," jelas dia di kantor Ditjen Pajak Kemenkeu, Jakarta, Kamis (11/6/2015).
Pemerintah Indonesia pesimistis terhadap ekspor karena pelemahan kondisi global, penurunan harga komoditas. Namun pemerintah akan bekerja keras untuk meningkatkan ekspor, minimal tidak bertumbuh negatif.
Pemerintah, lanjut Bambang, telah mengeluarkan tiga kebijakan perpajakan untuk memperbaiki struktur insentif. Tujuannya mendorong peran investasi, konsumsi yang menopang pertumbuhan ekonomi di kuartal-kuartal selanjutnya.
"Pertumbuhan ekonomi 5 persen-6 persen kurang, makanya kita mau dorong investasi tahun ini supaya lebih mengarah pada 7 persen-8 persen. Dari investasi swasta dan kombinasi belanja infrastruktur. Itu resep ekonomi kita tumbuh lebih cepat," papar Bambang.
Bank Dunia melaporkan negara-negara berkembang menghadapi serangkaian tantangan berat di 2015, termasuk adanya prospek biaya pinjaman yang lebih tinggi karena mereka harus beradaptasi dengan era baru harga minyak dan komoditas penting lain yang lebih rendah. Hal tersebut berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang telah mengecewakan selama empat tahun.
Dalam laporan Global Economic Prospect (GEP), negara-negara berkembang kini diproyeksikan tumbuh 4,4 persen tahun ini, dengan kemungkinan naik 5,2 persen pada 2016, dan 5,4 persen pada 2017.
"Semenjak krisis keuangan, negara berkembang adalah mesin pertumbuhan dunia. Tapi sekarang mereka menghadapi kondisi ekonomi yang lebih sulit," kata Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim.
Bank Dunia, akan melakukan segala upaya untuk membantu agar negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah lebih tangguh, sehingga mereka dapat melalui masa transisi ini.
"Kami percaya, negara-negara yang berinvestasi di bidang pendidikan dan kesehatan masyarakat, memperbaiki iklim usaha, dan menciptakan lapangan kerja melalui perbaikan infrastruktur akan semakin kuat di masa mendatang. Investasi semacam ini akan membantu ratusan juta orang mengangkat diri keluar dari kemiskinan," terang dia.
Masih dari laporan Bank Dunia, dengan kenaikan suku bunga di Amerika, pinjaman semakin lebih mahal bagi negara berkembang selama beberapa bulan mendatang. Proses ini akan berlanjut mengingat pemulihan ekonomi Amerika terus berlangsung dan suku bunga di negara-negara besar lainnya tetap rendah.(Fik/Gdn)
Advertisement