Wall Street Naik Dipicu Kesepakatan Utang Yunani

Reli pasar pada hari ini, menandai perubahan yang menyusul kemerosotan di pasar saham sebelumnya.

oleh Nurmayanti diperbarui 11 Jun 2015, 04:30 WIB

Liputan6.com, New York - Wall Street berakhir menguat pada penutupan perdagangan Rabu (Kamis pagi waktu Jakarta), dipicu keyakinan investor jika pembahasan utang antara Yunani dengan kreditor mendekati kesepakatan dan adanya kenaikan pada saham perusahaan teknologi serta keuangan.

Melansir laman Wall Street Journal, indeks Dow Jones Industrial Average naik 256 poin (1,4 persen) ke posisi 18.020. Ini menjadi titik dan persentase kenaikan terbesar sejak 8 Mei.

Sementara indeks S & P 500 bertambah 26 poin (1,3 persen) menjadi 2.107 poin. Kemudian indeks Nasdaq Composite naik 67 poin (1,3 persen) ke posisi 5.081 poin.

Kenaikan pasar saham AS ini, terpicu meningkatnya saham perusahaan teknologi dan keuangan, yang terangkat ekspektasi bahwa kenaikan suku bunga akan meningkatkan keuntungan di sektor perbankan.

"Pasar melepaskan sedikit hal terpendam setelah beberapa hari dalam kondisi tenang," kata Michael Antonelli, Pedagang di Brokerage firm Robert W. Baird.

Pasar saham juga terangkat kemungkinan terjadinya kesepakatan soal utang antara Yunani dan kreditor internasional, yang berdampak ke bailout.

"Orang-orang merasa jauh lebih nyaman daripada yang mereka lakukan di hari Senin atau Selasa, karena kesepakatan ini," kata Sahak Manuelian, Managing Director Wedbush Securities.

Reli pasar pada hari ini, menandai perubahan yang menyusul kemerosotan di pasar saham sebelumnya. Investor mengatakan sejumlah kendala telah menahan pergerakan saham, seperti tanda-tanda melambatnya pertumbuhan ekonomi AS, perlambatan pertumbuhan laba perusahaan dan kegelisahan atas rencana kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve.

Namun akhir-akhir ini, terjadi perubahan yang cukup untuk memikat beberapa minat aksi beli. Pada saat yang sama, data ekonomi membaik, meyakinkan investor bahwa ekonomi AS kemungkinan dalam posisi yang lebih kuat untuk menahan biaya pinjaman yang lebih tinggi.

"Seperti sejumlah kekhawatiran muncul kemudian ada beberapa jenis resolusi," kata Jeffrey Yu, Kepala Derivatif Saham UBS AG.(Nrm/Igw)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya