Roda-Roda Kecil Membelah Ujung Barat Nusantara

Lagu nasional Dari Sabang Sampai Merauke, ciptaan R. Sunaryo memang sudah melekat di benak kita semua.

oleh Liputan6Diterbitkan 04 Juni 2015, 16:04 WIB
Lagu nasional Dari Sabang Sampai Merauke, ciptaan R. Sunaryo memang sudah melekat di benak kita semua.

Citizen6, Jakarta Lagu nasional `Dari Sabang Sampai Merauke`, ciptaan R. Sunaryo memang sudah melekat di benak kita semua. Lagu wajib yang sejak kecil kerap didengar dan dinyanyikan dalam berbagai kesempatan ini memang sudah menjadi bagian hidup seluruh masyarakat Indonesia.

Namun apakah Anda mengetahui kedua daerah yang dinyanyikan itu? Nah, Campursari Vespa Jakarta (CSVJ) menjadi salah satu kumpulan pecinta otomotif khususnya roda dua yang terdorong untuk lebih mengetahui salah satu bagian dari tanah air dan mengulik seluruh keindahan alam serta sejarah yang terdapat di pulau pulau atol (pulau karang) seluas 156,3 km² yang letaknya paling barat di wilayah nusantara ini.

“Perjalanan yang bertema CSVJ Goes Kilometer-0 Powered by Pertamax yang berlangsung tanggal 13 - 18 Mei 2015 lalu ini sukses digelar. Anggota CSVJ yang berpartisipasi dalam perjalanan ini melibatkan 21 unit Vespa dari berbagai model dan tahun produksi.,” ujar Anton Bramana salah satu tetua CSVJ.

Lagu nasional Dari Sabang Sampai Merauke, ciptaan R. Sunaryo memang sudah melekat di benak kita semua.

Ya, tugu Kilometer-0 saat ini memang sudah menjadi destinasi yang sangat dituju bagi banyak orang terutama penggemar traveling. Sejumlah komunitas otomotif khususnya roda dua memang telah banyak yang mencapai titik awal penghitungan jarak bentangan nusantara ini. Untuk kegiatan touring yang dilakukan CSVJ sendiri, Banda Aceh adalah titik awal perjalanan, dimana lima hari sebelumnya semua unit Piaggio ini diangkut kendaraan ekspedisi dari Jakarta. Lahan parkir Hermes Hotel, Banda Aceh adalah titik kumpul pertama semua unit Piaggio.

Setelah bermalam di kota Serambi Mekah dan melakukan pertemuan dengan bapak Walikota Sabang, Zulkifli H Adam, serta beberapa komunitas Vespa lokal seperti Scooter Kutaraja Club dan Bireun Scooter Club. Keesokan harinya rombongan mulai meluncur ke arah pelabuhan Ulee Lheue untuk melakukan penyeberangan ke Pulau Weh.

Lepas dari pelabuhan Balohan, rombongan bergerak ke arah kota Sabang yang berjarak tak jauh dari situ. Jadwal pertama setelah menginjak kaki di Pulau Weh adalah bercengkrama dengan Kadis Pariwisata Kota Sabang, Zulfi Purnawati di sebuah Café tongkrongan komunitas Vespa setempat. Setelah itu kami mulai bergerak ke arah Kilometer 0 yang berjarak sekitar 33 km dari kota Sabang.

Rute Sabang – Kilometer 0 ini adalah pengalaman baru bagi kami. Kontur jalan yang berkelok-kelok serta lapisan aspal mulus yang tak banyak dilalui kendaraan membuat kami bagai anak kecil yang baru mendapat hadiah. Semua kegirangan menghadapi jalan menanjak yang mengarah ke titik paling barat di Indonesia. “Perjalanan ini memang benar-benar memuaskan hasrat touring kami. Dengan bahan bakar Pertamax, tarikan menjadi lebih enteng, mesin bertenaga dan lebih irit. Kilometer-0 juga menjadi monumen yang cukup memiliki nilai simbolis bagi bangsa ini. Dimana ini adalah titik awal pengukuran bentangan nusantara dari titik paling Barat. Kami akan melalui jalur pesisir pantai yang berpanorama indah serta menghampiri Pantai Iboih lalu menyelam di pulau Rubiah.
” tambah Anton Bramana.

2

Lagu nasional Dari Sabang Sampai Merauke, ciptaan R. Sunaryo memang sudah melekat di benak kita semua.

Jadwal hari ke tiga hingga hari terakhir (ke lima) adalah menuju Medan melalui rute lintas Sumatera. Di hari Sabtu pagi rombongan kembali menyebrang ke Banda Aceh untuk melanjutkan etape kedua kami ke Lhokseumawe yang berjarak hampir 300km. Selepas makan siang di kedai kopi Solong khas NAD. Perjalanan yang cukup menguras tenaga lantaran panas Matahari yang menyinari sepanjang jalan dihadapi rombongan ini. Jalur utama NAD – Medan sepanjang 550 km menjadi jalan yang mengasyikan saat menyusuri pesisir Pantai, jalannya mulus dan jarang perempatan.

“Area pegunungan Seulawah yang kami lintasi satu jam lepas Banda Aceh cukup menghibur diri lantaran jalan yang lebar dan berliku. Namun selepas itu jalan lurus yang kita hadapi cukup melelahkan badan dan mata. Hingga setelah empat jam berjalan, kami sampai di Kota Bireun yang notabene pernah menjadi ibukota NKRI selama satu minggu di tahun 1948 saat masa pendudukan sekutu,” ujar Dendi Aviandry, salah satu anggota CSVJ.

Perjalanan paling seru dan menegangkan yang dialami rombongan ini adalah hari keempat. Dimana setelah bermalam di Lhokseumawe rombongan mulai bergerak ke arah Medan. Di sini rombongan melalui daerah konflik yang sesekali masih sering terjadi letupan. Masuk ke kota Idi dan Peurlak rombongan sempat berhadapan dengan para separatis yang menggenggam senjata api rakitan serta rencong kala sama-sama duduk di warung kopi. Namun tak ada kejadian yang tak diharapkan saat itu. Hanya saja demi kebaikan bersama rombongan cepat-cepat angkat kaki dari warung kopi yang ternyata menjadi basis para separatis itu. Setelah enam jam berjalan, akhirnya rombongan sampai di kota Medan sekitar jam 17.00 langsung menuju Vespark. Sebuah dealer Paiggio yang didesain apik dilengkapi café dan wadah kongkow.

Well, perjalanan menuju wilayah Barat Indonesia memang cukup menyenangkan. Jadi rasanya cukup mainstream bila pilihan jelajah pulau masih berkutat dengan Bali dan Lombok. “Bila Anda gemar touring, Anda harus singgah ke Kilometer-0,” tutup Anton.

“Modern meet classic, not modern only, not classic only, we are MIX !” inilah slogan yang dimiliki sekumpulan anak muda pecinta Vespa baik tipe klasik maupun modern. Wadah yang terbentuk secara tak sengaja di tahun 2008 dari hasil pertemuan beberapa penggemar skuter Italia, akhirnya secara resmi di proklamirkan pada 17-Agustus-2008. Ya, itulah Campursari Vespa Jakarta (CSVJ) yang dari namanya saja mencerminkan keragaman.

Sejatinya CSVJ adalah hanya sebagai wadah untuk kita berkumpul, bertukar informasi mengenai masalah Vespa dan hal lainnya. CSVJ juga sebagai tempat untuk ketawa-ketiwi untuk menghilangkan kepenatan setelah beraktifitas. Di kumpulan ini tak ada jabatan ketua, wakil dan lainnya. Jadi semua dianggap memiliki kapasitas yang sama. Pembentukan ketua dan susunan panitia hanya berlaku ketika ada gelaran touring maupun acara besar.

Titik kumpul alias lokasi kongkow awalnya di Circle K Panglima Polim, Pertokoan Pondok Indah hingga DNA Carwash, Lapangan Ros Tebet.


Penulis:
Anton Bramana

**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini
 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya