Menteri Anies: Yuk Jujur dalam Ujian Nasional

Anies mendorong seluruh siswa bersikap jujur saat UN agar daerah mereka masuk dalam indeks kejujuran dengan nilai baik.

oleh Ahmad Romadoni diperbarui 14 Apr 2015, 13:11 WIB
Mendikbud, Anies Baswedan memberikan pesan khusus untuk peserta ujian nasional (UN) 2015 di Kemendikbud, Jakarta, Kamis (9/4/2015). Anies berpesan agar peserta ujian belajar dengan keras dan tidur yang cukup sebelum ujian. (Liputan6.com/Yoppy Renato)

Liputan6.com, Jakarta - Ujian Nasional (UN) perlahan sudah tidak jadi momok bagi siswa karena bukan menjadi syarat kelulusan. Karena itu, Menteri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengajak semua siswa untuk jujur dalam mengerjakan soal UN.

Anies mendorong seluruh siswa bersikap jujur saat UN agar daerah mereka masuk dalam indeks kejujuran dengan nilai baik. Siswa tidak perlu khawatir risiko tidak lulus karena mengerjakan soal UN dengan jujur. Sebab sistem kelulusan dengan nilai UN sudah gugur.

"Tahun ini UN tidak dikaitkan dengan syarat kelulusan. Jadi risikonya dihilangkan. Yuk, kita jujur. Mungkin karena kekhawatiran itu (tidak lulus) maka segala macam cara dilakukan," ujar Anies di Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Jakarta, Selasa (14/4/2015).

Anies mengatakan akan memanggil kepala sekolah dan kepala dinas dari daerah yang indeks kejujurannya tinggi untuk berdiskusi demi meningkatkan kejujuran siswa dalam mengerjakan soal UN, tapi bukan untuk memberi penghargaan.

"Melakukan hal jujur itu normal. Masa yang normal harus dikasih reward? Justru yang sekarang ini banyak yang tidak jujur, karena itu kita akan fokus pada kejujuran," imbuh Anies.

Penggagas Gerakan Indonesia Mengajar itu tidak akan menampilkan daerah yang indeks kejujurannya rendah. Tapi dia akan memberitahu pada masyarakat setempat bahwa dengan adanya indeks kejujuran, setiap perbuatan curang yang dilakukan siswa selama UN sesungguhnya dapat diketahui, sehingga sekolah dan siswa harus lebih memperhatikan itu.

Kata Anies, jika ada sekolah yang dianggap tidak jujur dan kemudian tidak diminati warga, maka itu merupakan konsekuensi. Pemerintah tidak akan memberikan sanksi pada sekolah yang belum bisa memenuhi indeks kejujuran.

"Itu bukan soal keadilan, tapi konsekuensi dari masyarakat. Kita semua dengar ada praktik kecurangan. Tapi kecurangan jalan terus bukan karena banyak orang jahat tapi karena orang baik memilih diam. Ini bagian usaha kita untuk melakukan perubahan," tutup Anies.

Sebelumnya Anies mengumumkan 52 kabupaten/kota yang indeks kejujurannya mencapai 90. Artinya, 90% siswa di wilayah itu sudah menjalankan UN dengan jujur.

52 kabupaten/kota itu, yakni Lingga, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Utara, Pangandaran, Sukabumi, Kota Bogor, Banjarnegara, Cimahi, Banyumas, Blora, Cilacap, Karanganyar, Kebumen, Klaten, dan Magelang. Lalu, Purbalingga, Purworejo, Rembang, Semarang, Sukoharjo, Temanggung, Wonogiri, Wonosobo, Kota Magelang, Salatiga, Surakarta, Bantul, Gunung Kidul, Kulon Progo, Sleman, Yogyakarta, Kayong Utara, dan Mahakam Ulu.

Daerah dengan indeks kejujuran lainnya, adalah Lombok Utara, Ende, Flores Timur, Lembata, Sikka, Banggai Laut, Kolaka Timur, Konawe Kepulauan, Manokwari Selatan, Pegunungan Arfak, Dogiayi, Intan Jaya, Memberamo Raya, Membramo Tengah, Nduga, dan Puncak. (Riz/Yus)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya