Apa Cowok Jadi Kurang Macho Jika Nonton Cinderella?

Benarkah film Cinderella hanya cocok ditonton cewek?

oleh Ade IrwansyahDiterbitkan 19 Maret 2015, 11:30 WIB
Apa Cowok Jadi Kurang Macho Jika Nonton Cinderella?

Liputan6.com, Jakarta Seorang kawan bercerita, akhir pekan kemarin ia nonton film Cinderella versi baru rilisan Disney di bioskop bersama kekasihnya.

Kawan itu tak menikmati filmnya. "Kalau bukan karena nonton bareng cewek saya, nggak bakalan saya mau nonton film itu," keluhnya.

Cerita itu membawa saya pada sebuah pertanyaan: benarkah Cinderella hanya cocok ditonton cewek?

Hm, begini, saya seorang pria. Dan saya toh menyukai film Cinderella tersebut. Lantas, apa dengan begitu saya jadi "kurang cowok"?

Sebelum menjawabnya, saya menemukan sebuah artikel opini menarik di laman Time yang ditulis Jaclyn Friedman, seorang penulis isu feminisme. Berbeda dengan kritikus Time yang menyukai Cinderella (seorang pria, omong-omong), Friedman (seorang wanita) tak menyukainya.

Foto dok. Liputan6.com

Kata Friedman, meski hadir di tahun 2015, Cinderella versi baru terasa membawa nilai-nilai lama. Di tengah Disney merilis film-film yang pro feminisme macam Frozen, Brave, maupun Maleficent—yang artinya tokoh utama wanitanya lebih mandiri dan bahkan perkasa, lewat film Cinderella baru Disney justru kembali ke nilai-nilai lama era 1950-an saat wanita mengerjakan tugas-tugas domestik dan sekadar menanti dinikahi Pangeran Tampan (baca: pria kaya).

Pandangan seperti itu tak sepenuhnya salah. Kisah Disney Princess atau Putri Disney memang kerap dikritik hanya menjual mimpi. Kisahnya juga dikritik kaum feminis tak mendidik perempuan untuk mandiri. Gambaran cantik versi kisah Putri Disney lawas juga sangat stereotip: kurus dan pirang.

Dikritik begitu, (studio) Disney sepeninggal Walt (Disney, sang pendiri) berubah. Barangkali untuk meralat Putri Tidur dan Cinderella yang pirang dan pasrah, Disney menyuguhkan Belle di Beauty and the Beast (1991) yang seorang kutu buku dan punya pendirian teguh. Disney juga kemudian menyuguhkan Pocahontas, putri Indian yang perkasa, serta Mulan, pendekar wanita dari Tiongkok. Dan, puncaknya, Anda tentu paham, saat Frozen (2013) mengedepankan kasih sayang kakak-beradik perempuan, menghadapi kejamnya dunia di luar sana.

Lanjut Baca:

Seperti saya tulis saat mengulas Cinderella di situs ini, sutradara Kenneth Branagh memang tak tertarik menyuguhkan pandangan—pandangan pro feminisme di Cinderella versi barunya. Ia tampak lebih tertarik mengajak penonton bernostalgia dengan Cinderella dari film animasi 1950-an, yang berarti mengusung pula nilai-nilai lawas Disney masa itu. Yang perlu Anda pahami pula, meski mengusung nilai-nilai masyarakat lama, Cinderella Disney versi 1950-an terus diputar hingga kini dinikmati berbagai generasi. Persentuhan kebanyakan orang dengan cerita Cinderella pertama kali lewat versi animasi Disney tahun 1950-an, bukan dengan cerita aslinya yang merupakan dongeng Prancis. Maka, pertanyaannya kemudian menjadi: kenapa cerita Cinderella yang mengusung nilai-nilai lama tetap disukai penonton sekarang?

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya