Kisah Heroik Pembantu di Semarang Gagalkan Perampokan

Asep Bahrudin tak bisa tidur saat malam itu. Beberapa kali ia mencoba tidur, namun gagal.

oleh Edhie Prayitno Ige diperbarui 07 Mar 2015, 06:52 WIB
Ilustrasi garis polisi (Liputan6.com)

Liputan6.com, Semarang - Asep Bahrudin tak bisa tidur saat malam itu. Beberapa kali lelaki berusia 25 tahun ini mencoba tidur, namun gagal.

Akhirnya pada Jumat (6/3/2015) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB, ia mengelus sebilah gobang atau pisau daging. Jam 03.00 ia sudah keluar rumah. Entah apa yang ada di pikirannya, namun ia menuju ke kompleks perumahan BPD II, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Sekitar pukul 05.00 WIB, ia memilih memasuki sebuah rumah bernomor 52 milik Hartanto. Ia nekat mencongkel kunci garasi dengan pisau daging yang dibawanya. Asep kemudian bersembunyi menunggu keadaan aman.

"Saya lompat pagar dulu terus congkel kuncinya. Saya sembunyi di bawah kursi di lantai dua," kata Asep di Mapolsek Pedurungan, Jumat (6/3/2015).

Sekitar pukul 08.30 WIB, Asep berdebar-debar. Ia mendengar suara mobil keluar rumah. Maka, ia memutuskan untuk keluar dari persembunyian.

"Saya pikir rumah sudah kosong dan nggak ada orang," kata Asep.

Keluar dari tempatnya bersembunyi, Asep masih berhati-hati dengan jalan mengendap-endap mencari kamar utama pemilik rumah. Asep terkejut saat tiba-tiba ia terpergok oleh Yuli Endah Sari (19). Yuli adalah asisten rumah tangga di keluarga Hartanto.  

"Saat itu dia langsung berteriak dengan histeris. Seperti orang kesurupan dia teriak-teriak," kata Asep.

Mendengar teriakan yang tak terkendali, Asep panik. Saat itu secara reflek tangannya menyambar bantal dan digunakan untuk membekap mulut Yuli. Bukannya diam, Yuli semakin kencang berteriak dan meronta-ronta.

"Saya makin panik. Setelah saya bekap pakai bantal, pisau yang saya bawa saya gunakan menggorok lehernya," kata Asep.

Teriakan histeris Yuli ternyata sempat didengar oleh Atindria. Nama terakhir ini adalah anak dari Hartanto majikan Yuli. Atindria (22) segera menghampiri kamar korban dan terkejut melihat pria bersenjata sedangkan Yuli memegangi lehernya yang bersimbah darah.

Belum habis kagetnya, Asep berbalik arah mengejar Atindria sambil mengacungkan senjata hingga keluar rumah. Atindria tak tinggal diam. Saat dikejar Asep, ia berteriak-teriak minta tolong hingga para tetangganya berdatangan.

Mengetahui rencananya nyaris gagal, Asep kembali masuk rumah lewat pekarangan belakang. Sialnya, ia dihadang tembok setinggi 2 meter.

"Saya nekat mau melompat, tapi gagal. Setelah terjatuh, warga sudah sampai di tempat saya dan langsung memukuli," kata Asep.

Setelah sang perampok tunggal ini dilumpuhkan, warga menghubungi Mapolsek Pedurungan. Hanya butuh waktu 15 menit, petugas Polsek Pedurungan sudah tiba di lokasi dan langsung menangkap Asep yang sudah babak belur. Sementara Yuli, sang pembantu heroik, langsung dilarikan ke RS Bhayangkara karena luka robek sepanjang 12 cm di lehernya.

"Setelah mendapat informasi, kami segera mengamankan tersangka. Dia sudah babak belur dihajar massa," kata Kapolsek Pedurungan Komisaris Polisi Hendrawan.

Saat ini, Asep masih diperiksa penyidik Polsek Pedurungan. Polisi tak langsung percaya ia beraksi sendirian dalam perampokan tersebut. Sementara ini ia masih diancam percobaan pencurian dan penganiayaan dengan hukuman maksimal 10 tahun penjara. (Ans)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya