BMKG: Potensi Kebakaran Kecil Musim Kemarau Tahun Ini

Andi menjelaskan, dalam kondisi iklim normal suhu permukaan laut di sekitar Indonesia atau pasifik equator bagian barat umumnya hangat.

oleh Putu Merta Surya Putra diperbarui 05 Mar 2015, 01:15 WIB
Kekeringan di musim kemarau. (Antara)

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia akan segera memasuki musim kemarau. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) ada beberapa daerah berpotensi mengalami kebakaran. Kendati, BMKG mengklaim potensi tersebut lemah lantaran tidak ada El Nino.

El Nino adalah suatu gejala penyimpangan kondisi laut yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut (sea surface temperature) di Samudra Pasifik sekitar equator (equatorial pacific), khususnya di bagian tengah dan timur (sekitar pantai Peru).

"Karena lautan dan atmosfer adalah 2 sistem yang saling terhubung, maka penyimpangan kondisi laut ini menyebabkan terjadinya penyimpangan pada kondisi atmosfer yang pada akhirnya berakibat terjadinya penyimpangan iklim," ujar Kepala BMKG Andi Eka Sakya di kantornya, Jakarta, Rabu (4/3/2015).

Andi menjelaskan, dalam kondisi iklim normal suhu permukaan laut di sekitar Indonesia atau pasifik equator bagian barat umumnya hangat, sehingga proses penguapan mudah terjadi dan awan-awan hujan mudah terbentuk.

Namun ketika fenomena El Nino terjadi, lanjut Andi, saat suhu permukaan laut di pasifik equator bagian tengah dan timur menghangat, justru perairan sekitar Indonesia umumnya mengalami penurunan suhu atau menyimpang dari biasanya.

"Akibatnya, terjadi perubahan pada peredaran masa udara. Setelah Juni sampai Juli terdapat potensi El Nino tetapi lemah, tidak sampai memengaruhi. Sehingga potensi kebakaran seperti tahun 1998 tidak akan terjadi," ujar Andi.

"Ada beberapa potensi kebakaran seperti di Riau, Jambi, Pekanbaru. Mereka itu banyak gambut, gambut itu panas dan kering, karena itu saya sudah melaporkan ke Kementerian Lingkungan Hidup," jelasnya.

Saat ditanya beberapa titik yang berpotensi kebakaran, Andi hanya menerangkan bahwa hal tersebut sulit karena berubah-ubah.

"Titik hotspot itu banyak, tapi berubah-ubah setiap harinya. Karena itu saya himbau, agar tidak membuat hal yang memicu kebakaran," tandas Andi. (Rmn/Ali)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya