7 Sejarah Kelam Pendukung Fanatik Chelsea 'HeadHunter'

Basis pendukung Chelsea yang terkenal dengan sebutan HeadHunters ternyata memiliki sejarah kelam yang panjang di dunia sepak bola.

oleh Yosef Deny PamungkasDiterbitkan 19 Februari 2015, 20:44 WIB
Laga Chelsea melawan PSG berkesudahan dengan skor 1-1.

Liputan6.com, Jakarta Tindakan rasialisme kembali terjadi di dunia sepak bola. Kali ini, giliran suporter Chelsea yang melakukan tindakan tersebut. Namun jika dilihat ke belakang, ternyata basis pendukung Chelsea yang terkenal dengan sebutan HeadHunters ternyata memiliki sejarah kelam yang panjang di dunia sepak bola.

Pertandingan antara Paris Saint-German (PSG) kontra Chelsea di leg pertama babak 16 besar Liga Champions, Rabu (18/2/2015) dini hari WIB, menyisakan cerita memilukan. Bagaimana tidak, pada pertandingan yang berkesudahan 1-1 tersebut sekelompok pendukung Chelsea terlibat tindakan rasialisme di stasiun kereta.

Kala itu, suporter Chelsea yang hendak menggunakan kereta tertangkap kamera mencegah pria berkulit hitam untuk masuk dalam kereta. Bahkan mereka secara beramai-ramai meneriaki pria dengan kata-kata yang tak pantas.

"Kami rasis, kami rasis dan itulah cara yang kami suka," kata suporter The Blues.

Akan tetapi, hal ini bukanlah hal baru bagi pendukung klub asal London tersebut. Sejak berdiri, suporter Chelsea yang bernama HeadHunters ini memiliki catatan kelam yang membuat orang geleng-geleng kepala.

Lanjut ke halaman selanjutnya---->


Sejarah Berdiri HeadHunter

Chelsea Headhunter

1. Berdiri pada akhir tahun 1960-an, Chelsea HeadHunters awalnya bernama 'Chelsea Shed Boys'. Mereka dan suporter West Ham United yang bernama Mile End Mob merupakan perusahaan pendukung asli Inggris.

Chelsea HeadHunters awalnya dipimpin oleh Danny ‘Eccles’ Harkins yang berjalan beriringan dengan kelompok skin head. Mereka memiliki tujuan untuk menyiapkan para pemuda Inggris untuk melawan siapa saja. Namun, hubungan mereka dan skin head berakhir karena skin head memiliki beberapa anggota kulit hitam yang tergabung dalam ‘One armed Babs.

Sejak saat itu, selain Chelsea HeadHunter yang tak mau bersinggungan dengan orang kulit hitam, Combat 18 yang berbasis neo nazi juga berdiri pada tahun 1992.


Anggota HeadHunter Terlibat Organisasi Rasialisme

Chelsea fans

2. Pada tahun 1997-1999, Chelsea HeadHunter sempat disusupi oleh wartawan Inggris yang bernama Donal MacIntyre untuk membuat sebuah film dokumenter.

Pada saat sedang melakukan pembuatan film, ia menemukan fakta mengejutkan bahwa beberapa anggota HeadHunter yang juga tergabung dalam combat 18 ditangkap oleh polisi karena juga terlibat dalam pergerakan anti kulit hitam yang lebih dikenal dengan Ku Klux Klan.

Lanjut Baca:

3. Anggota HeadHunter yang bernama Jason Marriner ditangkap polisi dan dipenjara karena terlibat dalam sebuah kekerasan rasis. Meski begitu, ia mengaku tak bersalah karena pada rekaman yang menunjukkan kekerasan yang dilakukan dirinya kepada pria kulit hitam tampak berbeda dari realita. Ia menilai bahwa video tersebut telah diedit dan dimanipulasi. Ia menilai bahwa ia dipenjara tapi tak melakukan kesalahan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya