Liputan6.com, Kiev- Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Minsk, ibukota Belarusia menyepakati gencatan senjata di kawasan timur Ukraina yang bergejolak mulai Minggu 15 Februari 2015 dini hari. Namun, jelang waktu yang telah disepakati, kematian demi kematian terus terjadi.
Pertempuran terjadi di 2 kota di kawasan timur Ukraina, Sabtu pagi. Artileri yang menyelonong masuk, juga yang digunakan untuk serangan balasan, terlihat jelas di kota pantai Mariupol. Saling serang juga terjadi di Donetsk.
Dua orang tewas dan 6 lainnya terluka saat rudal menghantam sebuah cafe di Shchastya, kota yang dikendalikan Kiev, yang terletak didekat wilayah para pemberontak Luhansk.
"Sistem pemanas di kota hancur, jaringan listrik rusak, juga pasokan air...Jadi, seperti ini gencatan senjata yang komperehensif disiapkan?," kata kepala pemerintahan Hennadiy Moskal seperti dimuat situs World Bulletin.
Seorang juru bicara militer Ukraina mengatakan 11 tentara tewas dan 40 terluka dalam 24 jam terakhir. "Musuh terus membangun kekuatan di wilayah utama konflik bersenjata," kata Andriy Lysenko. Sementara dari kalangan sipil, korban tercatat setidaknya 27 jiwa.
Sebaliknya, pemberontak menuding pasukan Ukraina menyerang markas spearatis di Donetsk dan Horlivka -- di mana mereka melaporkan 3 anak tewas akibatnya.
Konflik yang berkelanjutan terjadi setelah Presiden Ukraina Petro Poroshenko pada Jumat lalu memperingatkan bahwa gencatan senjata antara pasukan negaranya dengan separatis pro-Rusia dalam 'bahaya besar'.
Poroshenko mengatakan bahwa setelah kesepakatan gencatan senjata dicapai oleh sejumlah pemimpin negara dari Ukraina, Rusia, Jerman, dan Prancis, pihak separatis justru makin intensif menyerang pasukan pemerintah.
Separatis, kata dia, mungkin mencoba untuk merebut kendali atas sejumlah lokasi strategis, seperti Mariupol yang masih dikuasai pemerintah, juha pusat rel kereta api dari Debalts ke utara.
Berdasarkan gencatan senjata, masing-masing sisi diharapkan menarik persenjataan berat dari garis depan, menciptakan zona batas (buffer zone) setidaknya selebar 50 km.
Organisasi Keamanan dan Kerjasama Eropa (OSCE), diberi tugas yang menantang untuk mengawasi proses tersebut.
"Kita membutuhkan gencatan senjata yang efektif," kata Sekretaris Jendera OSCE Lamberto Zannier Jumat kemarin, seperti Liputan6.com kutip dari CNN, Sabtu (14/2/2015). "Saya mengkhawatirkan kondisi pagi ini, yang justru merupakan kelanjutan dari konflik." (Ein/Tnt)
Advertisement