Defisit Transaksi Berjalan Menyusut di Kuartal III-2014

Perbaikan kinerja transaksi berjalan tersebut terutama didukung neraca perdagangan barang yang kembali surplus.

oleh NurmayantiDiterbitkan 14 November 2014, 16:27 WIB
Rupiah (Antara Foto)

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat defisit transaksi berjalan pada kuartal III-2014 menyusut 4,06 persen PDB atau sebesar US$ 8,7 miliar menjadi sebesar US$ 6,8 miliar (3,07 persen PDB), lebih rendah dibandingkan dengan kuartal II-2014 dan defisit pada periode yang sama tahun 2013 sebesar US$ 8,6 miliar (3,89 persen PDB).

"Penurunan ditopang kebijakan stabilisasi yang ditempuh BI dan pemerintah. Perbaikan kinerja transaksi berjalan tersebut terutama didukung neraca perdagangan barang yang kembali surplus seiring dengan meningkatnya surplus neraca perdagangan nonmigas, di tengah defisit neraca perdagangan migas yang tetap besar," dijelaskan Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara BI dalam keterangan tertulisnya, Jumat (14/11/2014).

Dia menyebutkan, kenaikan surplus neraca nonmigas dibandingkan kuartal sebelumnya terutama didorong penurunan impor nonmigas, khususnya impor bahan baku, sejalan dengan moderasi permintaan domestik. Secara tahunan, impor nonmigas pada kuartal III-2014 masih terkontraksi 2,7 persen.

Ekspor produk primer yang meningkat, antara lain karena mulai pulihnya ekspor mineral pascakeluarnya izin ekspor mineral mentah, juga memberikan kontribusi terhadap perbaikan surplus nonmigas, meskipun ekspor nonmigas secara keseluruhan masih mencatat penurunan.

Meskipun secara kuartalan menurun, namun secara tahunan ekspor nonmigas pada kuartal III-2014 kembali tumbuh positif 3,1 persen setelah dalam dua tahun terakhir mengalami penurunan.

Pertumbuhan ekspor nonmigas tersebut ditopang oleh kenaikan harga ekspor dan perbaikan permintaan ekspor, terutama minyak nabati dan produk manufaktur.

Seiring dengan berlanjutnya pemulihan AS, beberapa produk ekspor manufaktur mengalami peningkatan seperti TPT, barang dari logam, makanan olahan, dan kendaraan dan bagiannya.

Di sisi migas, besarnya defisit neraca perdagangan migas pada kuartal III-2014 dipengaruhi masih tingginya impor migas, di tengah ekspor minyak yang menurun seiring dengan penurunan harga minyak dunia.

Selain itu, berkurangnya tekanan defisit transaksi berjalan dipengaruhi oleh pola musiman defisit neraca jasa dan pendapatan primer yang lebih rendah.

Sementara itu, kepercayaan investor yang masih positif terhadap prospek ekonomi Indonesia mendorong aliran masuk modal asing yang tetap kuat.

Pada kuartal III-2014, surplus transaksi modal dan finansial mencapai US$ 13,7 miliar, terutama didukung aliran masuk modal asing dalam bentuk investasi langsung dan penarikan pinjaman luar negeri korporasi.

Di sisi lain, aliran masuk investasi portofolio tercatat lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Penurunan tersebut dipengaruhi faktor sentimen, baik yang bersumber dari eksternal maupun domestik.

Selain itu, penempatan simpanan swasta domestik di luar negeri juga meningkat. Secara keseluruhan, surplus transaksi modal dan finansial kuartal III-2014 tercatat masih cukup besar dan dapat membiayai sepenuhnya defisit transaksi berjalan, meskipun  lebih rendah dibandingkan dengan surplus kuartal II-2014 sebesar US$ 14,3 miliar.

Dengan perkembangan tersebut, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) menunjukkan kinerja yang semakin baik sejalan dengan proses penyesuaian ekonomi ke arah yang lebih seimbang dan berkesinambungan.

Secara keseluruhan, NPI pada kuartal III-2014 mengalami surplus US$ 6,5 miliar, meningkat dari US$ 4,3 miliar pada kuartal sebelumnya.

Peningkatan surplus NPI tersebut pada gilirannya mendorong kenaikan posisi cadangan devisa dari US$ 107,7 miliar pada akhir kuartal II-2014 menjadi US$ 111,2 miliar pada akhir kuartal III-2014.

'Jumlah cadangan devisa ini cukup untuk membiayai kebutuhan pembayaran impor dan utang luar negeri Pemerintah selama 6,3 bulan dan berada di atas standar kecukupan internasional," jelas dia.

Pada Oktober 2014, posisi cadangan devisa kembali meningkat menjadi  US$ 112,0 miliar. Proses pemulihan keseimbangan eksternal Indonesia, yang tercermin pada defisit transaksi berjalan yang membaik, diperkirakan berlanjut pada kuartal IV-2014.

Pemulihan ekonomi global diprakirakan akan berdampak positif pada ekspor di tengah harga komoditas dunia yang masih menurun.

Sementara itu, impor diprakirakan masih tertahan seiring dengan  pertumbuhan ekonomi domestik yang mengalami moderasi.

Surplus neraca perdagangan barang diperkirakan meningkat dibandingkan dengan kuartal III-2014 dan menopang perbaikan kinerja transaksi berjalan.

Di sisi transaksi modal dan finansial, aliran masuk modal asing diperkirakan masih berlanjut meskipun dengan intensitas yang menurun dipengaruhi sejumlah sentimen negatif global maupun domestik.

Pada Oktober 2014, perilaku investor yang menunggu rencana kerja pemerintahan baru dan faktor eksternal terkait normalisasi kebijakan the Fed telah mendorong investor asing untuk membukukan net jual pada instrumen saham, namun masih menambah kepemilikannya atas intrumen SUN dan SBI.

Ke depan, Bank Indonesia meyakini kinerja NPI akan semakin sehat sejalan dengan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang ditempuh Bank Indonesia, serta langkah reformasi struktural yang akan ditempuh Pemerintah, termasuk di sektor migas.

Bank Indonesia akan terus fokus menjaga inflasi dan menurunkan defisit transaksi berjalan pada level yang sehat dengan terus memonitor berbagai perkembangan, baik domestik maupun eksternal, dan memastikan agar dinamika perekonomian nasional berjalan dengan sehat dan berkelanjutan. (Nrm)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya