Sisi Positif dari Sikap Protektif Seorang Ayah

Ada anggapan protektif yang ditunjukan oleh sang ayah, membuat mereka jadi terkekang, dan tidak diberi kepercayaan secara penuh.

oleh Aditya Eka Prawira diperbarui 13 Nov 2014, 15:00 WIB
Tanda-tanda pasangan Anda akan menjadi `good daddy` layaknya sang ayah di google doodle sebagai perayaan Hari Ayah.

Liputan6.com, Jakarta Sifat protektif yang dimiliki seorang ayah kerap dibenci oleh sang buah hati. Mereka beranggapan, sikap protektif yang ditunjukan oleh sang ayah, membuat mereka jadi terkekang, dan tidak diberi kepercayaan secara penuh.

Padahal, protektif yang diperlihatkan seorang ayah merupakan bentuk kasih sayang tulus yang dia berikan kepada sang buah hati.

"Kalau anak dibiarkan berbuat semaunya, orangtua akan khawatir, terlebih ayah. Jadi, sifat protektif tidak seburuk yang dibayangkan anak," kata Psikolog Kasandra Putranto kepada Health-Liputan6.com, Rabu (12/11/2014)

Hal senada dibenarkan oleh Muhammad Ali, seorang wartawan senior di salah satu media yang ada di Indonesia. Menurut dia, di tengah arus moderenisasi, kecenderungan protektif kepada buah hati merupakan keharusan.

"Kalau saya, karena anak-anak masih sangat kecil, paling protektifnya lebih kepada tayangan yang ditontonnya. Apalagi, saat ini banyak tayangan yang tidak mendidik, yang tidak baik untuk disaksikan oleh seorang anak," kata Ali.

Ayah dari Alisa Qonitafillah (2,8 tahun) dan Aliya Amira Zahra (8 bulan) menjelaskan bahwa sifat protektif yang dimiliki oleh dia, untuk menangkal segala hal-hal negatif sedini mungkin.

"Apalagi, usia-usia segitu seorang anak akan menangkap apa yang disaksikannya, dan tidak jarang menirunya. Sebelum hal-hal yang tidak diinginkan, ada baiknya untuk melakukan itu," kata Ali menerangkan.

Nanti, ketika sang anak menginjak usia 4 atau 5 tahun, di mana dia sudah dapat menggunakan nalar mana yang baik dan tidak, mungkin sifat protektif itu akan berubah menjadi pengamanan.

Proses terjadinya protektif

Menurut Kasandra, bila seorang ayah memiliki sifat protektif berlebihan, kemungkinan dahulu dia pun dibesarkan dengan cara seperti itu. Setelah melihat bahwa apa yang dilakukan oleh orangtuanya menjadikan dia sosok yang hebat, maka hal serupa dilakukannya kepada sang buah hati.

"Sebenarnya, semua itu tergantung kondisinya. Ada yang dulu dibesarkan dengan cara seperti itu, namun karena melewati proses identifikasi, maka dia berubah menjadi sosok yang cuek," kata Kasandra.

Namun, ada juga ayah yang dahulunya tidak pernah diurus oleh orangtuanya, dan tumbuh menjadi sosok yang tidak diinginkan, menjadi sosok yang protektif karena tidak ingin anaknya seperti itu.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya