Beranikah Jokowi Menaikkan Harga BBM Rp 4.500 Per Liter?

Ekonom Bank Mandiri ragu Jokowi akan menaikkan harga Rp 4.500 karena anggaran kompensasi yang disiapkan cukup besar.

oleh Fiki Ariyanti diperbarui 23 Sep 2014, 14:00 WIB
BBM bersubsidi sejatinya ditujukan bagi rakyat menengah kebawah namun pada kenyataanya tak sedikit kalangan berduit yang tanpa rasa malu memilih BBM bersubsidi.

Liputan6.com, Jakarta - Desakan kepada Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi terus bergulir. Sejumlah pihak sibuk mengusulkan besaran penyesuaian harga, ada yang sebesar Rp 1.000, Rp 2.000 dan Rp 3.000 per liter.

Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk, Destry Damayanti mengatakan, kenaikan harga BBM subsidi Rp 1.000 per liter akan menghemat anggaran sekitar Rp 46 triliun.

Sementara pengamat ekonomi lain pernah menyatakan, penyesuaian harga Rp 2.000 mampu menghemat Rp 100 triliun, dan sekitar Rp 150 triliun untuk kenaikan harga BBM subsidi Rp 3.000 per liter.

"Itung-itungan kami dengan naikkan harga Rp 4.500 per liter atau 60 persen, subsidi habis. Pemerintahan baru bisa menghemat lebih dari Rp 200 triliun," terang Destry di acara Seminar Internasional Befriending with The Boom Bust Cycle, Jakarta, Selasa (23/9/2014).

Namun dia ragu Jokowi dapat menaikkan harga BBM Subsidi di level tersebut. Pasalnya selain harus menyiapkan anggaran kompensasi yang besar, penyesuaian harga sebesar Rp 4.500 akan mendongkrak inflasi hingga lebih dari 11 persen.

"Tapi kalau sampai Rp 4.500 per liter terlalu ekstrem, jadi paling banter kenaikan harga BBM sampai 50 persen," jelasnya.

Destry menyarankan Jokowi-JK dapat menaikkan harga langsung secara signifikan, minimal 30 persen atau Rp 2.000. Kemudian pemerintahan baru harus mengamati perkembangan harga minyak maupun konsumsi BBM pada tahun-tahun selanjutnya.  

"Saya harap satu kali naik biar tidak create ekspektasi berlebihan. Minimal kenaikan Rp 2.000 atau 30 persen, tapi kalau ngelihat disparitas harga yang sudah tinggi, maka bisa kenaikan harga 50 persen. Pantau dua tahun lagi perkembangan harganya," tegas dia. (Fik/Gdn)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya