Liputan6.com, Jakarta Saat orang meninggal yang dikatakan selalu yang baik-baik. Pun begitu dengan Joan Rivers yang meninggal dunia Kamis (4/5/2014) waktu setempat di usia 81 tahun.
Di saat Joan meninggal, media Amerika sana ikut bersedih. Bulan Juli, CNN menyebut Joan sosok yang "kejam", hari ini mereka menyebut seorang "pionir". Hollywoodlife menyebutnya "keji" dan "penuh benci", tapi hari ini ia disebut sosok yang "dicintai." Laman blog tenar Jezebel yang selama ini tak pernah suka lelucon-lelucon Joan menyebutnya "seorang komedian legendaris" saat menulis berita kematiannya.
Advertisement
Andai Joan Rivers bisa bangkit sebentar dan membaca semua berita kematiannya ataupun komentar-komentar orang yang merasa sangat kehilangan dirinya, ia bakal bilang, "Semuanya ta*k kucing!"
Tidak berarti Joan Rivers bukan seorang pionir ataupun sosok legendaris. Dia pantas dipuji. Hanya saja, ketika hidup, Joan tak cukup mendapat sanjungan sebagaimana berhak ia dapatkan. Kebanyakan orang menganggap lelucon-leluconnya kasar dan tidak lucu.
Soal gaya bercandanya yang kasar dan ofensif, Joan prenah bilang begini: "Kalau kau bisa tertawa dengan leluconku berarti kau bisa menerimanya, jika tidak ya berarti kau tak bisa terima. Jangan larang saya bicara apa yang saya mau. Itu memang gaya saya. Saya bahkan bisa tertawa bila berada di Auschwitz."
Asal anda tahu, Auschwitz adalah salah satu kamp konsentrasi NAZI di masa Perang Dunia II. Di kamp itu jutaan warga Yahudi tewas.
Lelucon Joan Rivers Tanpa Batasan
Lelucon Joan memang terbilang kasar. Dia tanpa tedeng aling-aling bilang Adele gendut. Dia juga berkelakar putri Kim Kardashian, North west adalah bayi buruk rupa yang perlu di-waxing. Dia bahkan membuat lelucon tentang suaminya, Edgard Rosenberg yang tewas bunuh diri tahun 1987.
Selanjutnya>>
Mengenang Joan Rivers
Saat majalah New York bertanya apa ada batasan untuk tak membuat lelucon, Joan menjawab, "Tidak ada. Batasan itu tak ada. Jika ada lelucon terlintas di kepalamu, itulah saat untuk berkelakar. Saat suami saya bunuh diri, hari itu tak ada yang lucu melintas di kepala saya. Tapi esok harinya, saya dan teman-teman dekat saya mulai bercanda membuat humor-humor getir."