Ini Tanggapan Bos Bank Mandiri Soal Merger 3 Bank Malaysia

Jika ada kesempatan, Bank Mandiri tetap ingin melakukan akuisisi bank.

oleh Arthur Gideon diperbarui 26 Jul 2014, 16:03 WIB
Ilustrasi (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Mandiri Tbk memandang langkah penggabungan tiga bank Malaysia memberikan dampak positif kepada industri perbankan di negara tersebut. Seharusnya, perbankan Indonesia pun juga mencontohnya.

Direktur Utama Bank Mandiri, Budi Gunadi Sadikin mengatakan, penggabungan tiga bank di Malaysia membuat permodalan dan ekspansi bank tersebut menjadi lebih kuat. Ia pun berharap industri perbankan di Indonesia pun juga seharusnya melakukannya.

"Mungkin dengan adanya contoh dari perbankan Malaysia, maka Indonesia menjadi bisa mengerti pentingnya konsolidasi. Orang Indonesia kan baru ngerti kalau dikasih contoh dulu," jelasnya seperti ditulis, Sabtu (26/7/2014).

Budi pun bercerita, langkah konsolidasi tersebut sebenarnya sudah pernah akan dilakukan oleh Bank Mandiri dengan mencoba melakukan akusisi PT Bank Tabungan Negara TBk (BTN). Tetapi langkah tersebut terganjal.

Saat ini, Bank Mandiri tetap ingin melakukan akuisisi. "Kalau ada kesempatan pasti akan kami lakukan, dana sudah kami persiapkan," tuturnya.

Budi pun melanjutkan, langkah konsolidasi sangat penting bagi perbankan nasional untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN untuk industri perbankan yang akan berlaku pada 2020 nanti.

Industri perbankan nasional yang jumlahnya cukup banyak tetapi kekuatan modalnya tidak maksimal sehingga sulit untuk melakukan ekspansi dan menantang industri perbankan asing.

Seperti diketahui, tiga bank di Malaysia berencana untuk melakukan konsolidasi dengan melakukan merger. Ketiga bank tersebut  adalah CIMB Group Holdings Bhd. (CIMB) RHB Capital Bhd dan Malaysia Building Society Bhd. Setelah bergabung, kapitalisasi pasar ketiganya mencapai US$ 28 miliar.

Saat ini bank di Indonesia yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar adalah PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dengan nilai kapitalisasi pasar di kisaran US$ 24 miliar.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya