Kisah Pilu Bocah Pekerja Tambang Afrika

oleh Arny Christika PutriDiterbitkan 10 Mei 2014, 10:52 WIB
Kisah Pilu Bocah Pekerja Tambang di Afrika
Para bocah menambang emas di pertambangan tradisional di desa Gam, Afrika Tengah (AFP PHOTO / ISSOUF SANOGO)
Para bocah menambang emas di pertambangan tradisional di desa Gam, Afrika Tengah (AFP PHOTO / ISSOUF SANOGO)
Para bocah ini menghabiskan waktunya untuk mencari butiran emas dari pagi hingga sore hari, Afrika Tengah (AFP PHOTO / ISSOUF SANOGO)
Para bocah ini tidak bersekolah. Mereka lebih memilih menjadi pekerja tambang karena tuntutan ekonomi, Afrika Tengah (AFP PHOTO / ISSOUF SANOGO)
Dengan peralatan seadanya, mereka menambang emas. Padahal air berlumpur mengandung mercury yang beracun, Afrika Tengah (AFP PHOTO / ISSOUF SANOGO)
Tangan mungil para bocah Afrika mengeruk dasar sebisanya, membawanya ke permukaan dan memberikannya ke bocah lainnya untuk diayak, (AFP PHOTO / ISSOUF SANOGO)
Lumpur hasil kerukan dijunjung di atas kepala untuk kemudian diayak untuk dicari butiran emasnya (AFP PHOTO / ISSOUF SANOGO)
Menjadi pekerja tambang sejak masih kecil adalah hal yang lumrah di Afrika. Para orangtua mereka lebih senang anaknya bekerja daripada sekolah (AFP PHOTO / ISSOUF SANOGO)
Tak kenal lelah. Para bocah ini menghabiskan waktunya untuk mencari butiran emas. Sekolah dan bermain adalah mimpi. Bagi mereka yang terpenting adalah sepotong roti untuk bisa makan hari ini (AFP PHOTO / ISSOUF SANOGO)
Suasana penambangan tradisional di Desa Gam, Afrika Tengah (AFP PHOTO / ISSOUF SANOGO)
Di penambangan tradisional di Desa Gam, Afrika Tengah hampir semua pekerjanya adalah anak-anak (AFP PHOTO / ISSOUF SANOGO)
Seperti lirik Iwan Fals yang berbunyi Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu. Dipaksa pecahkan karang, lemah jarimu terkapar (AFP PHOTO / ISSOUF SANOGO)

 

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya