Satu Langkah Lagi, The Raid 2 Rajai Indonesia

Kejayaan The Raid 2: Berandal di Indonesia boleh dibilang semakin tidak terhentikan.

oleh Feby Ferdian diperbarui 08 Apr 2014, 18:40 WIB
Kejayaan The Raid 2: Berandal di Indonesia boleh dibilang semakin tidak terhentikan.

Liputan6.com, Jakarta Kejayaan The Raid 2: Berandal di Indonesia boleh dibilang semakin tidak terhentikan. Memasuki pekan kedua sejak dirilis pertama kali pada 28 Maret 2014 lalu, karya terbaru sutradara Gareth Evans itu bahkan berhasil menduduki peringkat dua sebagai film dengan penonton terbanyak di tahun ini.

Mengalahkan 99 Cahaya di Langit Eropa Part 2 yang menutup angka penjualan lewat 586 ribu penonton. Tak heran, dengan posisi The Raid yang masih tayang, banyak yang meramalkan jika film ini bakal mampu melampaui kejayaan Comic 8 beserta 1,6 juta penontonnya.

Berikut daftar lengkapnya:

1. Comic 8 - 1.624.067
2. The Raid 2: Berandal - 925.055
3. 99 Cahaya di Langit Eropa Part 2 - 586.003
4. oo Nina Bobo - 228.010
5. Killers - 170.135
6. Street Society - 167.212
7. Malam Suro di Rumah Darmo - 85.598
8. Aku Cinta Kamu - 84.560
9. 4 Tahun Tinggal di Rumah Hantu - 71.144
10. 12 Menit: Kemenangan untuk Selamanya - 64.475

Di luar lajunya yang melesat bak roket, The Raid 2 belakangan juga mulai mendapatkan protes dari pemerhati film nasional. Menurut Ketua Persatuan Produser Film Indonesia (PPFI) Firman Bintang, film bertema kekerasan seperti The Raid 2: Berandal dapat menimbulkan persepsi yang salah terkait budaya masyarakat Indonesia di dunia luar.

Ia juga tak mengerti film yang menampilkan adegan baku hantam, tembak-tembakan serta pembunuhan seperti The Raid bisa mendapat apresiasi tinggi dari pemerintah. "Apa tujuan pemerintah memberi apresiasi pada film The Raid 2: Berandal? Kalau memang didukung dan diapresiasi seperti itu, Indonesia ramai-ramai saja bikin film tentang kekerasan," kritik Firman dalam dialog 'Hari Film Nasional (HFN) 2014' di Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI), Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (1/4/2014).

Bagi Firman, dukungan terhadap film besutan sutradara Gareth Evans bertolak belakang dengan himbauan yang didengungkan pemerintah terhadap para insan film selama ini.

"Kita semua, insan film dihimbau untuk memproduksi film yang mengusung semangat kultural edukatif. Seperti film Sang Kyai, Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, Soekarno, dan 99 Cahaya di Langit Eropa misalnya. Film-film itu saja dalam gala premiere-nya tidak dihadiri pemutarannya oleh perwakilan pemerintah, apalagi mendapatkan apresiasi sepatutnya seperti yang diperlihatkan dalam film The Raid 2: Berandal," keluhnya lagi.

http://cdn-e.production.liputan6.static6.com/medias/658223/big/the-raid-2-berandal-29.jpg


Menanggapi hal itu, Arifin Putra selaku salah satu pemain mencoba menanggapi dengan bijak. Menurutnya, film The Raid murni dibuat sebagai hiburan masyarakat.

"Kebanyakan orang selalu menanyakan pesan moral atau mendidiknya di mana. Padahal kan ada film yang khusus untuk menghibur saja, jadi di film The Raid 2: Berandal ini, orang akan dihibur selama 2,5 jam di bioskop," komentar Arifin saat mengunjungi kantor Liputan6.com di SCTV Tower.

Diketahui, selain menjabat sebagai Ketua PPFI, Firman Bintang juga dikenal sebagai produser di sejumlah film layar lebar nasional. Sebut saja yang terbaru Mengejar Setan, 3 Cewek Petualang, Kerasukan, hingga Di Sini Ada Yang Mati yang diluncurkan pada 21 Februari 2013 lalu.(Gie/Feb)

Baca juga:

Gitaris New Found Glory Kagumi Julie Estelle
Alasan Arifin Putra Hijrah ke Film Laga
The Raid 2: Pertempuran Sadis itu Bertajuk Berandal

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya