Liputan6.com, Fortaleza - Stadion Brasil yang baru saja direnovasi terlihat megah. Saat hari mulai gelap, di depannya, para perempuan berdiri di pojokan jalan, bersandar ke mobil atau memamerkan tubuh hampir telanjang di keremangan malam.
Kota Fortaleza -- tempat stadion berdiri -- berada di sudut timur laut Brasil. Salah satu tuan rumah ajang Piala Dunia 2014, sekaligus magnet wisata seks di Negeri Samba.
Prostitusi legal di Brasil, untuk mereka yang berusia 18 tahun ke atas. Namun, kini, pemerintah dan para pejabat urusan sepakbola sedang berusaha membongkar praktik perdagangan anak-anak -- sebelum kick off dilakukan pada 12 Juni 2014 mendatang.
Antonio Carlos da Silva, pekerja sosial dari lembaga O Pequeno Nazareno mengatakan, pekerja seks komersial (PSK) di sekitar stadion kini melayani para sopir truk, sembari berharap bisa meraup duit para fans yang berdatangan dari penjuru Bumi.
"Sejak Brasil terpilih menjadi tuan rumah Piala Dunia pada 2014, itu membuat harapan mereka melambung," kata Antonio, seperti dimuat CNN, 2 April 2014.
"Gadis-gadis itu terus bertanya padaku, 'di mana kami bisa kursus Bahasa Inggris biar aku bisa mendapatkan lebih banyak pelanggan."
Salah satu dari gadis itu adalah Taina, transeksual berusia 18 tahun. Ia bahkan sudah berkeliaran di jalanan sejak masih belia. "Ada yang ingin dilayani seperti kami (transeksual), ada juga yang memilih perempuan."
Akar: Kemiskinan
Taina menceritakan, para PSK cilik tak mangkal di dekatnya. Para gadis ABG itu biasanya bersembunyi di balik halte.
Sejumlah kritikus mengatakan, pemerintah Brasil berusaha menghilangkan keberadaan PSK cilik, namun tak berbuat cukup banyak untuk memberantas akar permasalahannya. Para pekerja seks di bawah umur diperkirakan akan makin menjamur selama Piala Dunia.
Sebanyak 600.000 orang asing akan tiba di Brasil. Ditambah lagi 3 juta fans berat sepakbola dari dalam negeri.
"Gadis-gadis itu datang dari keluarga yang sangat miskin, atau dari lingkungan di mana pengucilan sosial dilakukan terhadap perempuan, juga kebiasaan tak menghargai kaum hawa," kata Antonia Lima Sousa, seorang jaksa.
Keputusasaan demikian besar. Sejumlah orangtua bahkan tega menjual anak mereka di jalanan.
Masalah lain yang tak kalah serius adalah keberadaan geng kriminal, yang menganggap para gadis itu sebagai komoditas. Bukan manusia.
"Melibatkan jaringan wisata, dari agen, hotel, bahkan sopir taksi," kata jaksa perempuan itu. "Dengan adanya perhelatan akbar seperti ini, eksploitasi seksual lebih terorganisasi -- kebanyakan lewat internet.
Jumlah perkiraan pekerja seks anak di Brasil mencapai sekitar setengah juta pada tahun 2012. Demikian menurut LSM National Forum for the Prevention of Child Labor.
Fortaleza dianggap sebagai 'surganya' wisata seks anak, akibat kemiskinan dan reputasi buruknya itu. Banyak pelanggan potensial memilih kota itu di banding resor pantai lain di Brasil. Kata jaksa, sampai-sampai ada orang yang mencarter pesawat langsung dari Eropa. Untuk menikmati kesenangan haram itu.
Kampanye
Advertisement
Pemerintah Brazil menyisihkan US$ 3,3 juta atau Rp 37,4 miliar untuk melawan perdagangan anak di kota-kota tuan rumah.
Para pemain bola terkenal juga ambil bagian dalam kampanye jelang laga 2014 World Cup. Termasuk, David Luiz asal Brasil dan Gary Lineker dari Inggris.
"Yang menyedihkan, sejumlah orang memanfaatkan kesempatan ini untuk mengeksploitasi para bocah secara seksual," kata Lineker dalam sebuah video. "Membayar untuk berhubungan seks dengan siapapun yang berusia di bawah 17 tahun adalah terlarang!"
Polisi pun bergerak, giat membongkar sindikat perdagangan seksual anak dan mengimplementasikan program baru.
Juga ada lembaga seperti O Pequeno Nazareno, yang bekerja langsung dengan anak-anak jalanan, termasuk para bocah laki-laki yang dipaksa terlibat dalam jaringan perdagangan seksual -- dengan dalih menawarkan makanan, tempat tinggal, dan bahkan dengan kedok membentuk tim sepakbola.
Lembaga yang didirikan para biarawati Katolik, Sisters of Remption juga berperan dengan membantu para korban eksploitasi seksual yang hamil.
Salah satunya sebut saja Bruna, di usia 12 tahun ia menjajakan cinta akibat kecanduan kokain. Awalnya ia mencoba untuk tak terlibat prostitusi.
"Lalu tiba waktunya aku terpaksa harus melakukannya, itu solusi terakhir untukku," kata dia. "Aku lalu ke motel bersama seorang pria, berusia 47 tahun, dan mendapatkan 20 reais." Uang itu setara Rp 102.060.
Bruna kini berusia 15 tahun dan hamil. Ia tinggal di kamar kecil tapi nyaman di susteran. Ada tempat tidur dan kamar mandi untuknya sendiri.
Suster Maria mengatakan bahwa Juni lalu selama Piala Konfederasi, PSK di bawah umur dan anak-anak jalanan ditangkapi polisi dan ditempatkan di penampungan. Namun, setelah turnamen berakhir, mereka lalu dilepaskan.
Kemudian, ada LSM Vira Vida, yang menyediakan pendidikan dasar dan pelatihan kerja bagi korban eksploitasi seksual. Banyak yang kemudian beralih menjadi koki, penata rambut ,dan teknisi komputer.
Jucileide, sekarang 21 tahun, menyelesaikan pelatihan kini magang di bank. "Aku dulunya seorang gadis panggilan, kata dia. "Sejak berusia 13 tahun."
Awalnya ia tak memberitahukan soal profesinya itu pada sang ibu. "Saat mengetahui apa yang saya lakukan, saat aku berusia 15 tahun, ibu menangis dan minta aku berhenti," kata Jucileide. Jawabannya saat itu, "Ibu, itu uang yang gampang banget didapat."
Jucileide menceritakan, para PSK cilik biasa melayani laki-laki asing yang lebih tua, terutama dari Eropa. Setelah hotel mulai menerapkan pembahasan pada anak perempuan di bawah 18 tahun, para pelanggan mulai menyewa apartemen atau penginapan yang disebut 'motel cinta'.
Kebanyakan dari para PSK cilik memalsukan kartu identitasnya. Seperti 2 gadis yang sedang mangkal, mengaku berusia 16 dan 17 tahun --tapi terlihat jauh lebih muda.
"Aku sudah melakukannya selama 2 bulan," kata seorang gadis di antaranya, bisik-bisik. "Uangnya untuk beli barang yang kita butuhkan, pakaian, perlengkapan sekolah."
Kedua gadis itu mengaku tak punya mucikari. Jika pelanggan tak mau bayar, mereka terpaksa harus jalan kaki berjam-jam untuk pulang. (Muhammad Ali)
Baca juga:
`Perbudakan Seks` di Balik Stadion Pembukaan Piala Dunia Brasil