Pemprov Sulsel Perketat Pengawasan Distribusi Pupuk Bersubsidi

Pemerintah provinsi Sulawesi Selatan akan memperketat pengawasan pendistribusian pupuk bersubsidi seiring jatah pupuk bersubsidi turun.

oleh Eky Hendrawan diperbarui 21 Mar 2014, 11:20 WIB
Pekerja membongkar Pupuk Urea sebanyak 1000 Ton yang akan dikirim ke Sampit, Kalteng di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta. (Antara)

Liputan6.com, Makassar - Petani gelisah akibat jatah pupuk bersubsidi turun di Sulawesi Selatan pada 2014. Petani khawatir minimnya pasokan akan dimanfaatkan oknum tertentu untuk mencari keuntungan pribadi.

Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) menegaskan, pendistribusian pupuk bersubsidi akan mendapatkan pengawasan ekstra ketat.

Kepala Bidang Sarana Prasarana Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Sulsel, Hermanto menjelaskan, penyaluran pupuk besubsidi kepada petani di Sulsel harus tepat sasaran. Hal ini penting lantaran penggunaaan pupuk bagi petani sangat penting untuk meningkatkan hasil produksi pertanian.

"Kami akan berusaha menyalurkan pupuk bersubsidi dengan sistem pengawasan aparat terkait, yakni Komisi Pengawasan Pupuk Dan Pestisida (KP3) di tiap kabupaten dan kota. Diharapkan penyelewengan pendistribusian dapat diminimalisir dan tepat sasaran,” tegas Hermanto, di Makassar, yang ditulis Jumat (21/3/2104).

Hermanto menambahkan, berdasarkan data, jatah pupuk bersubsidi Sulsel pada 2013 lebih besar dibanding2014, yakni sebesar 36.578,30 ton.

Jatah pupuk bersubsidi Sulsel sasaran 2014  hanya sebesar 211.400 ton, terbagi atas ZA rencana 49.600 ton,  SP-36 rencana 34.200 ton, NPK rencana 67.000 ton, organik 24.800 ton. “Tahun ini terjadi penurunan rata rata sebesar 10% dari tahun lalu,” kata Hermanto.

Walau bantuan pupuk bersubsidi menurun dari tahun kemarin, namun pihaknya tetap optimistis meningkatkan produksi beras. Pihaknya mengoptimalkan kuota pupuk untuk 24 kabupaten yang tersebar di Sulsel.

“Penurunan kuota pupuk bersubsidi secara nasional pasti akan berpengaruh pada tiap gapoktan. Tetapi, dengan minimnya kuota diharapkan menjadi pelajaran agar pupuk bersubsidi mampu dimanfaatkan secara optimal oleh petani agar lebih mandiri,” ujar Hermanto.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya