Liputan6.com, Jakarta Pengamat Valas, Farial Anwar memperkirakan pencalonan Joko Widodo (Jokowi) sebagai Calon Presiden (Capres) bukan satu-satunya alasan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penguatan. Pasalnya pemulihan kurs rupiah telah terjadi sebelum Gubernur DKI Jakarta ini mengambil langkah berani itu.
"Tren penguatan rupiah memang besar sebelum pencapresan Jokowi," kata dia kepada Liputan6.com, Senin (17/3/2014).
Alasannya, tambah Farial, karena dana asing mulai membanjiri Indonesia (capital inflow). Dia menilai, ini akibat dari maraknya investor yang lari dari Thailand dan memutuskan untuk menanamkan modalnya di Tanah Air.
"Pemilu Thailand rusuh, Ukraina bermasalah, pasar Eropa masih lemah sehingga investor keluar mencari tempat yang aman dan itu ada di Indonesia. Jadi ada capital inflow ke sini, sehingga mata uang rupiah menguat," lanjutnya.
Begitupula dengan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dia mengatakan, penguatan bursa saham Indonesia lebih dikarenakan aksi borong saham dari investor.
"Mereka lari ke pasar saham dengan cara menjual dolarnya. Sehingga suplai dolar AS turun dan pembelian surat utang meningkat. Jadi bukan karena Jokowi," papar Farial.
Dia meramalkan nilai tukar rupiah sampai akhir tahun ini bisa menembus Rp 10 ribu per dolar AS. Ini adalah optimisme jangka panjang apabila pemilu legislatif maupun Capres dan Cawapres berjalan dengan lancar serta damai. Kondisi tersebut menurutnya sangat bagus untuk kurs rupiah.
"Bisa tembus Rp 10 ribu per dolar AS di 2014 kalau tidak ditahan oleh Bank Indonesia (BI). Sebab BI bisa saja menahannya karena ingin melihat rupiah bergerak sesuai fundamentalnya," pungkas Farial.
Advertisement