Liputan6.com, Bangkok: Perdana Menteri Thailand Somchai Wongsawat menolak seruan mundur serta permintaan untuk membubarkan parlemen, Rabu (8/10). Padahal, tekanan dan kekerasan yang belakangan terjadi telah membuat Deputi Perdana Menteri Chaovalith Yongchaiyudh mengundurkan diri.
Unjuk rasa yang berujung bentrok Selasa kemarin telah meningkatkan ketegangan di Kota Bangkok. Jalan-jalan di sekitar Gedung Parlemen tampak sepi sehari setelah terjadinya unjuk rasa berdarah. Namun, polisi antihuru-hara masih terus bersiaga di jalan-jalan kota dan memblokade jalan menuju markas besar kepolisian Thailand sebagai langkah antisipasi aksi balasan pengunjuk rasa.
Demonstran sendiri telah berkumpul lagi di Kantor PM yang telah mereka duduki sejak akhir Agustus lalu. Setelah PM Samak Sundaravej lengser dari jabatannya, aksi protes diarahkan kepada PM terpilih, Somchai, yang dituntut mundur karena dituding sebagai kroni mantan PM Thaksin Shinawatra.(ADO)
Unjuk rasa yang berujung bentrok Selasa kemarin telah meningkatkan ketegangan di Kota Bangkok. Jalan-jalan di sekitar Gedung Parlemen tampak sepi sehari setelah terjadinya unjuk rasa berdarah. Namun, polisi antihuru-hara masih terus bersiaga di jalan-jalan kota dan memblokade jalan menuju markas besar kepolisian Thailand sebagai langkah antisipasi aksi balasan pengunjuk rasa.
Demonstran sendiri telah berkumpul lagi di Kantor PM yang telah mereka duduki sejak akhir Agustus lalu. Setelah PM Samak Sundaravej lengser dari jabatannya, aksi protes diarahkan kepada PM terpilih, Somchai, yang dituntut mundur karena dituding sebagai kroni mantan PM Thaksin Shinawatra.(ADO)