Liputan6.com, Jakarta: Ketika menjabat sebagai Kepala Kepolisian Resor Jakarta Utara di tahun 1985, Surojo Bimantoro harus dipindah menjadi Kapolres Jakarta Barat. Bukan tanpa alasan. Sang atasan menginginkan Bimantoro tak terlalu kaku. Tapi, bagi Bimantoro, ia cuma ingin memegang teguh prinsip dan tak mau main-main dalam menjalankan tugas. Selisih paham yang tak begitu jelas detail perkaranya itu, seolah menjadi pertanda bahwa Bimantoro memang orang yang tak mudah begitu saja dipatahkan seperti kayu, tak mudah dihancurkan seperti batu. Kini, pada saat Presiden Abdurrahman Wahid melakukan serangkaian tindakan yang membuat posisinya terusik, sikap memegang teguh prinsip itu pun seolah bangkit kembali.
Proses perjalanan karir Bimantoro memang berliku dan kerap kali membentur banyak batu terjal. Pria kelahiran Gombong, Jawa Tengah, 3 November 1946 ini mengawali karirnya sebagai perwira pertama di Polda Metro Jaya, bidang Samapta. Ia lulusan angkatan pertama Akademi Kepolisian tahun 1970. Sebenarnya ia tak ingin menjadi polisi. Ia lebih suka menjadi tentara angkatan darat. Tapi soba karibnya, Prayitno Parjan, menyarankan untuk menjadi polisi saja. Bimantoro menurut. Sahabatnya itu pun mengantarkan mendaftar. Ternyata pilihan itu tidak salah. Pria kelahiran Gombong, Jawa Tengah, 3 November 1946 itu berhasil menduduki jabatan puncak di kepolisian.
Setelah menjabat sebagai Kapolres Jakbar, lelaki ini pun diparkir di Sekolah Staf dan Pimpinan Polri, sebagai pengajar. Di tempat yang kerap dianggap buangan itu, Bimantoro mampu menunjukkan prestasinya. Di sana ia sempat menjadi Inspektur Utama. Empat tahun kemudian, ia pun ditarik kembali ke Jakarta menjadi Sekretaris Pribadi Kapolri, Kunarto. Karirnya pun melonjak. Sekitar dua tahun menjadi Sespri, ia dipromosikan menjadi Kapolwiltabes Surabaya, Jawa Timur. Dari sana, Bimantoro ditugaskan menjadi Waka Polda Nusra. Delapan bulan di sana, ia menjadi Waka Polda Bali. Tidak sampai setahun, ia pun menjadi Kapolda Bali. Tak sampai setahun pula, ia ditarik kembali ke Jakarta menjadi Asisten Operasi Kapolri, 1998.
Di penghujung tahun silam, Kapolri Roesmanhadi merekomendasikan Bimantoro dan Bibid S. Riyanto sebagai calon pimpinan Polri, setelah dirinya. Roesmanhadi bersama Bimantoro dan Bibid S Riyanto sudah pula menghadap Wahid. Waktu itu, terbetik kabar, Gus Dur sudah menyetujui Bimantoro menjadi Kapolri menggantikan posisi Roesmanhadi. Sementara Bibid diposisikan sebagai Wakapolri. Bahkan, isunya, Presiden sudah menandatangani surat keputusannya. Ternyata ketika diumumkan, yang muncul sebagai Kapolri adalah Rusdihardjo. Bimantoro tak disinggung sama sekali akan menjabat apa.
Tak lama kemudian, kabar baik pun berembus ke telinga Bimantoro. Ia diangkat menjadi Wakapolri dan dilantik pada 2 Februari 2000. Posisi ini seolah menjadi tempat magang yang paling efektif bagi alumuni Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian ini untuk menjadi Pelaksana Harian Kapolri. Sewaktu Kapolri Rusdihardjo mengadakan angket --untuk menguji siapa yang paling tepat menggantikan dirinya-- pada peserta pertemuan para perwakilan alumni Akademi Kepolisian dan PTIK di Jakarta, nama Bimantoro pun keluar menjadi pengumpul suara terbanyak.
Kasus peledakan Gedung Bursa Efek Jakarta setahun silam agaknya menjadi tonggak karir Bimantoro, bersamaan saat Presiden Wahid mencopot Rusdihardjo. Bimantoro bergerak bak kilat. Hasilnya, beberapa tersangka pengeboman berhasil ditangkap. Karisrnya pun kian bersinar. Sampai pada akhirnya, watak kerasnya terusik kembali, justru ketika ia sedang berada di puncak karirnya sebagai polisi. Di penghujung masa pensiunnya, Bimantoro harus merasakan lelahnya "perang terbuka" dengan orang nomor satu di republik ini. Entah siapa yang "menang dan kalah", kita lihat saja nanti.
Proses perjalanan karir Bimantoro memang berliku dan kerap kali membentur banyak batu terjal. Pria kelahiran Gombong, Jawa Tengah, 3 November 1946 ini mengawali karirnya sebagai perwira pertama di Polda Metro Jaya, bidang Samapta. Ia lulusan angkatan pertama Akademi Kepolisian tahun 1970. Sebenarnya ia tak ingin menjadi polisi. Ia lebih suka menjadi tentara angkatan darat. Tapi soba karibnya, Prayitno Parjan, menyarankan untuk menjadi polisi saja. Bimantoro menurut. Sahabatnya itu pun mengantarkan mendaftar. Ternyata pilihan itu tidak salah. Pria kelahiran Gombong, Jawa Tengah, 3 November 1946 itu berhasil menduduki jabatan puncak di kepolisian.
Setelah menjabat sebagai Kapolres Jakbar, lelaki ini pun diparkir di Sekolah Staf dan Pimpinan Polri, sebagai pengajar. Di tempat yang kerap dianggap buangan itu, Bimantoro mampu menunjukkan prestasinya. Di sana ia sempat menjadi Inspektur Utama. Empat tahun kemudian, ia pun ditarik kembali ke Jakarta menjadi Sekretaris Pribadi Kapolri, Kunarto. Karirnya pun melonjak. Sekitar dua tahun menjadi Sespri, ia dipromosikan menjadi Kapolwiltabes Surabaya, Jawa Timur. Dari sana, Bimantoro ditugaskan menjadi Waka Polda Nusra. Delapan bulan di sana, ia menjadi Waka Polda Bali. Tidak sampai setahun, ia pun menjadi Kapolda Bali. Tak sampai setahun pula, ia ditarik kembali ke Jakarta menjadi Asisten Operasi Kapolri, 1998.
Di penghujung tahun silam, Kapolri Roesmanhadi merekomendasikan Bimantoro dan Bibid S. Riyanto sebagai calon pimpinan Polri, setelah dirinya. Roesmanhadi bersama Bimantoro dan Bibid S Riyanto sudah pula menghadap Wahid. Waktu itu, terbetik kabar, Gus Dur sudah menyetujui Bimantoro menjadi Kapolri menggantikan posisi Roesmanhadi. Sementara Bibid diposisikan sebagai Wakapolri. Bahkan, isunya, Presiden sudah menandatangani surat keputusannya. Ternyata ketika diumumkan, yang muncul sebagai Kapolri adalah Rusdihardjo. Bimantoro tak disinggung sama sekali akan menjabat apa.
Tak lama kemudian, kabar baik pun berembus ke telinga Bimantoro. Ia diangkat menjadi Wakapolri dan dilantik pada 2 Februari 2000. Posisi ini seolah menjadi tempat magang yang paling efektif bagi alumuni Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian ini untuk menjadi Pelaksana Harian Kapolri. Sewaktu Kapolri Rusdihardjo mengadakan angket --untuk menguji siapa yang paling tepat menggantikan dirinya-- pada peserta pertemuan para perwakilan alumni Akademi Kepolisian dan PTIK di Jakarta, nama Bimantoro pun keluar menjadi pengumpul suara terbanyak.
Kasus peledakan Gedung Bursa Efek Jakarta setahun silam agaknya menjadi tonggak karir Bimantoro, bersamaan saat Presiden Wahid mencopot Rusdihardjo. Bimantoro bergerak bak kilat. Hasilnya, beberapa tersangka pengeboman berhasil ditangkap. Karisrnya pun kian bersinar. Sampai pada akhirnya, watak kerasnya terusik kembali, justru ketika ia sedang berada di puncak karirnya sebagai polisi. Di penghujung masa pensiunnya, Bimantoro harus merasakan lelahnya "perang terbuka" dengan orang nomor satu di republik ini. Entah siapa yang "menang dan kalah", kita lihat saja nanti.