Liputan6.com, Banyuwangi: Letusan gunung api di kawasan Indonesia menjadi peristiwa berkala sejak ratusan tahun silam. Gugusan gunung api aktif berjajar sepanjang 7.000 kilometer di Kepulauan Indonesia. Jumlahnya mencapai 129 buah atau sekitar 13 persen dari jumlah gunung api yang ada di dunia.
Terbentuknya jalur gunung api ini terkait dengan posisi Indonesia yang berada pada pertemuan tiga lempeng besar. Yakni lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, dan lempeng IndoAustralia.
Cairan magma dari perut bumi yang melaju dan mendorong ke permukaan membuat lempeng terus bergeser, bergerak, dan bertumbukan. Proses perjalanan magma dan pergeseran inilah faktor pembetuk gunung api. Salah satu gunung api itu adalah Gunung Ijen yang berada di bagian paling Timur Pulau Jawa, tepatnya di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Gunung Ijen memiliki karakteristik yang khas dibanding gunung api lainnya. Selain mengeluarkan asap belerang yang cukup tinggi, gunung ini juga memiliki danau di puncaknya. Danau ini lazim disebut Danau Kawah Ijen. Luas danau mencapai 45 hektare dengan kedalaman mencapai 176 meter.
Derajat keasaman air Danau Kawah Ijen sangat tinggi, dengan suhu air berkisar antara 20 hingga 50 derajat celscius. Sebagian peneliti berkesimpulan, ini terjadi akibat proses pendinginan lava di bagian dalam gunung. Lava yang mendingin mengeluarkan asap yang mengandung belerang.
Gas sulfatara yang mengepul di sekitar areal puncak Ijen dimanfaatkan para pemburu belerang. Dengan teknologi yang cukup sederhana, gas sulfatara disublimasi menggunakan pipa. Mereka memasang pipa-pipa pada lubang pengeluaran gas sulfatara dan mengalirkannya ke bawah. Tekanan suhu pada pawon akan mencairkan gas sulfatara yang mengalir dari puncak ke lereng.
Gas sulfatara yang mengalir melalui pipa-pipa memiliki suhu yang cukup tinggi. Untuk menghindari pecahnya pipa, para penambang akan menyiram pipa dengan air yang disebut pendinginan. Tak hanya itu, jika pipa dalam kondisi dingin gas yang mencair akan lebih banyak.
Saat menetes ke tanah, cairan belerang akan memadat. Bongkahan belerang yang masih bercampur dengan pasir akan dicairkan kembali ke dalam pawon. Setelah mendapatkan hasil bongkahan sempurna, para pemburu akan bersiap membawa ke dataran yang lebih rendah.
Kawah Ijen yang menghasilkan belerang telah membawa sebagian penduduk sekitar untuk menekuni profesi sebagai penambang belerang. Kelompok-kelompok penambang atau pemburu belerang tinggal sementara atau selama masa penambangan di kawasan dua kilometer dari puncak Gunung Ijen.
Pukul enam pagi, para penambang akan begerak menuju puncak gunung. Butuh waktu sekitar dua jam untuk mencapai kawasan penambangan. Saat menambang, setiap penambang akan membekali diri dengan masker. Bila tidak memiliki masker, penambang akan memanfaatkan kain basah yang digigit. Dengan cara ini, gas belerang yang terhirup akan lebih sedikit. Sebab, air pada kain yang digigit akan memberi tambahan oksigen ke dalam tubuh.
Cara bernapasnya pun tidak menggunakan hidung, melainkan dengan mulut. Sekali turun dari areal penambangan, setiap penambang mampu membawa 100 kilogram belerang padat. Dalam sehari, rata-rata mereka mampu menambang dua kali.
Bongkahan-bongkahan belerang yang didapat dijual kepada para pengepul. Harga per kilogramnya rata-rata Rp 400. Ini berarti setiap penambang hanya mampu menghasilkan uang Rp 80 ribu per hari.
Para penambang sadar belerang kawah Ijen telah memberikan penghidupan. Namun, para penambang tidak sadar jika belerang itu juga sedang menggerogoti kesehatan mereka.(BOG/Tim Potret)
Terbentuknya jalur gunung api ini terkait dengan posisi Indonesia yang berada pada pertemuan tiga lempeng besar. Yakni lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, dan lempeng IndoAustralia.
Cairan magma dari perut bumi yang melaju dan mendorong ke permukaan membuat lempeng terus bergeser, bergerak, dan bertumbukan. Proses perjalanan magma dan pergeseran inilah faktor pembetuk gunung api. Salah satu gunung api itu adalah Gunung Ijen yang berada di bagian paling Timur Pulau Jawa, tepatnya di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Gunung Ijen memiliki karakteristik yang khas dibanding gunung api lainnya. Selain mengeluarkan asap belerang yang cukup tinggi, gunung ini juga memiliki danau di puncaknya. Danau ini lazim disebut Danau Kawah Ijen. Luas danau mencapai 45 hektare dengan kedalaman mencapai 176 meter.
Derajat keasaman air Danau Kawah Ijen sangat tinggi, dengan suhu air berkisar antara 20 hingga 50 derajat celscius. Sebagian peneliti berkesimpulan, ini terjadi akibat proses pendinginan lava di bagian dalam gunung. Lava yang mendingin mengeluarkan asap yang mengandung belerang.
Gas sulfatara yang mengepul di sekitar areal puncak Ijen dimanfaatkan para pemburu belerang. Dengan teknologi yang cukup sederhana, gas sulfatara disublimasi menggunakan pipa. Mereka memasang pipa-pipa pada lubang pengeluaran gas sulfatara dan mengalirkannya ke bawah. Tekanan suhu pada pawon akan mencairkan gas sulfatara yang mengalir dari puncak ke lereng.
Gas sulfatara yang mengalir melalui pipa-pipa memiliki suhu yang cukup tinggi. Untuk menghindari pecahnya pipa, para penambang akan menyiram pipa dengan air yang disebut pendinginan. Tak hanya itu, jika pipa dalam kondisi dingin gas yang mencair akan lebih banyak.
Saat menetes ke tanah, cairan belerang akan memadat. Bongkahan belerang yang masih bercampur dengan pasir akan dicairkan kembali ke dalam pawon. Setelah mendapatkan hasil bongkahan sempurna, para pemburu akan bersiap membawa ke dataran yang lebih rendah.
Kawah Ijen yang menghasilkan belerang telah membawa sebagian penduduk sekitar untuk menekuni profesi sebagai penambang belerang. Kelompok-kelompok penambang atau pemburu belerang tinggal sementara atau selama masa penambangan di kawasan dua kilometer dari puncak Gunung Ijen.
Pukul enam pagi, para penambang akan begerak menuju puncak gunung. Butuh waktu sekitar dua jam untuk mencapai kawasan penambangan. Saat menambang, setiap penambang akan membekali diri dengan masker. Bila tidak memiliki masker, penambang akan memanfaatkan kain basah yang digigit. Dengan cara ini, gas belerang yang terhirup akan lebih sedikit. Sebab, air pada kain yang digigit akan memberi tambahan oksigen ke dalam tubuh.
Cara bernapasnya pun tidak menggunakan hidung, melainkan dengan mulut. Sekali turun dari areal penambangan, setiap penambang mampu membawa 100 kilogram belerang padat. Dalam sehari, rata-rata mereka mampu menambang dua kali.
Bongkahan-bongkahan belerang yang didapat dijual kepada para pengepul. Harga per kilogramnya rata-rata Rp 400. Ini berarti setiap penambang hanya mampu menghasilkan uang Rp 80 ribu per hari.
Para penambang sadar belerang kawah Ijen telah memberikan penghidupan. Namun, para penambang tidak sadar jika belerang itu juga sedang menggerogoti kesehatan mereka.(BOG/Tim Potret)