Kini sebulan setelah namanya muncul, Ongen angkat suara. Ongen Latuihamalo pada hari ini (6/6), akhirnya muncul. Adapun polisi dan pihak kejaksaan hingga kini hakul yakin bakal dapat mengungkap siapa dalang pembunuh Munir. Adalah novum atau bukti baru yang membangkitkan kembali semangat untuk menyibak misteri kematian pejuang HAM tersebut. Bukti baru mengindikasikan Munir diracun ketika transit di Bandar Udara Changi, Singapura, September 2004 [baca: Setengah Jam yang Mematikan di Changi].
Ongen selama ini disebut sebagai tokoh kunci untuk mengungkap pembunuhan Munir, tiga tahun silam. Namun dalam keterangan pers di Jakarta, Ongen membantah terlibat dalam kasus kematian Munir. Ia pun mengaku tak mengenal Pollycarpus Budihari Priyanto, terdakwa yang akhirnya dibebaskan Mahkamah Agung dalam putusan kasasinya. Adapun pada pekan terakhir bulan silam, Kepala Badan Reserse dan Kriminal Markas Besar Polri Komisaris Jenderal Bambang Hendarso Danuri yakin mengantongi bukti kuat dan saksi kunci Ongen [baca: Polisi Siap Mengajukan PK].
Advertisement
Yang terang dan diketahui oleh khalayak luas, Munir tewas dalam penerbangan Jakarta menuju Amsterdam, Belanda. Namun, temuan baru mengindikasikan mantan Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) itu tewas di Bandara Changi, Singapura. Laboratorium forensik di Seattle, Amerika Serikat, menyimpulkan bahwa Munir diracun setengah hingga satu setengah jam sebelum mengembuskan napas terakhir. Fakta ini kemudian menggiring polisi pada kesimpulan: aktivis HAM itu diracun saat transit di Bandara Changi [baca: Polri Menyerahkan Bukti Baru Kasus Munir].
Ketika transit seorang saksi bernama Drupadi mengaku sempat melihat pejuang HAM itu berbincang dengan dua orang lainnya di sebuah kedai kopi. Seorang di antaranya belakangan diidentifikasi sebagai Ongen Latuihamalo. Sementara pesawat Boeing milik Garuda yang membawa Munir transit di Bandara Changi, Singapura, sekitar pukul 00.40 waktu setempat. Saat itulah Munir turun dan berjalan sendirian menuju tempat transit. Seorang saksi menyebut di pintu D-42, Munir kelihatan seperti sedang menunggu seseorang [baca: Sulitkah Menguak Kematian Munir?].
Tepat pukul 01.53 waktu Singapura, pesawat bernomor penerbangan GA-974 itu lepas landas. Ketika itulah racun mulai bekerja. Munir yang kembali ke kursinya di kelas ekonomi, mulai merasakan sakit perut. Empat puluh menit kemudian, Munir terlihat bolak-balik ke toilet atau kamar kecil. Setelah tak tahan, Munir menghampiri Tarmizi Hakim, seorang dokter yang kebetulan ada di pesawat tersebut.
Tarmizi mengaku sempat memberikan empat butir obat diare dan penahan sakit yang ada di tasnya. Setelah tak kunjung membaik, Tarmizi kemudian menyuntikkan obat tambahan. Tak lama berselang, Munir ditidurkan telentang di lantai pesawat. Dan di atas langit gelap Rumania, Munir menutup mata untuk selamanya [baca: Arsen Menutup Rapat Mulut Munir Selamanya].
Fakta baru bahwa Munir dibunuh di Bandara Changi, membuat polisi kembali menyigi orang-orang yang terlihat bersamanya di sana. Setelah Pollycarpus, nama Ongen Latuihamalo kini dibidik polisi. Setidaknya Ongen sebagai saksi kunci pembunuhan Munir.
Ongen Latuihamalo selama ini masih misterius. Tak banyak yang mengetahui latar belakang dan kegiatan Ongen. Sejak namanya disebut terkait pembunuhan Munir, Ongen sekarang makin membenamkan diri dengan aktivitas religius. Akan tetapi, saat ini, Ongen harus menghadapi tuduhan serius. Betapa tidak, ia dianggap mengetahui apa yang terjadi di balik kematian aktivis HAM tersebut.
Menghabiskan waktu bersama keluarga. Itulah rutinitas Ongen Latuihamalo dalam sebulan terakhir. Maklum, sejak namanya dikaitkan dengan kematian Munir, Ongen memilih menghindar dari publikasi media massa. Walau demikian, adanya tuduhan terlibat pembunuhan Munir, membuat berat badan Ongen turun sekitar delapan kilogram.
Hanya saja, bagi Ongen, tiada hari yang dilewatkan tanpa berdoa. Dengan status saksi yang disandang suaminya, menurut sang istri, Henriette Ivonne Patinasarany, keluarga lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Sedangkan di mata pendeta Gilbert Lumondong, Ongen Latuihamalo adalah seorang pelayan Tuhan yang unik. Meski berambut gondrong, dia aktif di gereja. Dalam pandangan adik iparnya, Poppy, Ongen termasuk lelaki yang sangat lembut. "Dari dulu, dia itu hobinya hanya menyanyi, mencipta lagu, dan berkumpul dengan keluarga," ucap Poppy.
Boleh dibilang, Ongen Latuihamalo adalah penyanyi dan pencipta lagu yang lumayan ngetop pada era 80-an. Bahkan, kala itu ia sempat mengorbitkan beberapa penyanyi. Itu dahulu, sekarang Ongen telah ditetapkan sebagai saksi dalam kasus pembunuhan Munir. Polisi menyebut Ongen sebagai saksi kunci untuk mengungkap misteri di balik kematian Munir. Status yang membuat pria tersebut sekarang senantiasa mendapat pengawalan ketat dari polisi, ke mana pun ia pergi.
Adapun sebelum menggelar jumpa pers, Ongen Latuihamalo memberi waktu untuk wawancara khusus dengan SCTV. Kedatangan Ongen ke Studio Liputan 6 SCTV didampingi kuasa hukumnya, Ozhak Emanuel Sihotang. Ongen pun diwawancarai langsung oleh wartawan SCTV Rosianna Silalahi [baca: Ongen Latuihamalo Menggelar Jumpa Pers].
Mengawali perbincangan, Ozhak membantah dirinya menyimpan kliennya untuk berbicara kepada media massa. Ia beralasan, ketika Ongen dipanggil penyidik Mabes Polri, di sana ada proses. "Klien saya sudah beberapa kali memberikan keterangan di sana [Mabes Polri], tetapi kemudian pada tanggal 4 April [2007] itu ia harus berangkat ke Belanda untuk promo albumnya dia," ungkap Ozhak.
Ozhak mengungkapkan pula, Ongen berada di Belanda sekitar dua minggu. Di samping itu, menurut Ozhak, masih ada proses berita acara pemeriksaan terhadap kliennya. "Dan itu cukup lama waktunya. Jadi bukan saya menyembunyikan klien saya dalam hal ini," ujar Ozhak, menegaskan.
Keterangan Ozhak diamini Ongen. Lebih lanjut Ongen mengungkapkan, dirinya memang berencana kembali ke Tanah Air pada 20 April 2007. Hal itu pun sudah diketahui penyidik. Pada tanggal itulah Ongen bertemu dengan penyidik kepolisian di Kuala Lumpur, Malaysia. Kemudian mereka pulang bersama-sama ke Indonesia. Ia pun mengatakan kepulangannya itu tidak mendapat paksaan dari pihak kepolisian.
Dan ketika ditanyakan ada tidaknya rebutan kewenangan memeriksa saksi antara Badan Intelijen Negara dan Mabes Polri, Ongen mengatakan tidak tahu [baca: Syamsir Siregar: BIN Siap Membantu Kepolisian]. Hanya saja, Ongen menegaskan, saat kepulangan dirinya memang dijemput oleh penyidik dari kepolisian. Adapun pengacaranya menyatakan kepulangan Ongen memang atas sepengetahuan pihak keluarga. Ozhak pun mengetahui kepulangan kliennya dari Ongen maupun keluarga.
Lebih jauh Ozhak mengungkapkan, ketika itu penyidik menyebutkan bahwa situasi di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, saat kepulangan Ongen memang tidak bagus dan berbahaya. Ozhak sempat meminta kejelasan. Namun, penyidik mengatakan kepada Ozhak untuk berbicara nanti saja di Mabes Polri. "Pihak penyidik, tetapi kelihatan tegang. Tapi saya tidak tahu apa yang dimaksud ada orang lain atau pihak lain, dalam hal ini berebutan, kita tak mengerti," kata Ozhak. Yang dimengertinya, saat itu dirinya bersama pihak keluarga hanya bermaksud menjemput Ongen. Begitu penyidik meminta mereka langsung menuju Mabes Polri, Ozhak segera menuruti kehendak tersebut.
Menyoal novum atau bukti baru yang menyebutkan Munir diracun saat transit di Bandara Changi, Singapura, Ongen mengakui saat itu dirinya memang berada di Coffee Bean, kedai kopi di lapangan udara tersebut. "Saksi-saksi juga melihat saya ada di situ, tetapi...saya hanya sendiri masuk di situ," ungkap Ongen. Menurut Ongen, dia masuk ke kedai itu karena ingin minum obat lantaran kondisi tubuhnya sedang tidak sehat. Ia pun membantah dirinya bersama Munir. Menjawab jauh tidaknya jarak dia dengan Munir, Ongen mengatakan mereka terpisah.
Lebih jauh Ongen mengungkapkan, saat itu Coffee Bean buka meski pengunjungnya tak terlalu banyak. Menurut Ongen, jarak dirinya dengan Munir hanya terpaut sekitar dua meter, tepatnya di sebelah kanannya. Ia mengaku tak sempat dikenalkan dengan Munir, hanya bertegur sapa. "Halo, gitu aja," kata Ongen.
Ketika itu, Ongen melihat Munir bersama dengan seseorang. Namun, ia tak mengenal orang tersebut. Ongen pun mengaku tak mengenal Munir. Dia hanya mengetahui Munir sebagai seorang figur publik.
Ongen mengetahui kematian Munir saat pesawat mendarat di Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda. Waktu itu, ungkap Ongen, seluruh penumpang tidak boleh turun. Menurut Ongen, para penumpang termasuk dirinya bertanya-tanya ada kejadian apa. "Kemudian setelah kami diperbolehkan turun, kami turun," ucap Ongen. Sesampai di bawah, imbuh Ongen, dirinya diberitahu mengenai kabar kematian Munir dari temannya dari Garuda, calon kepala stasiun Garuda di Schiphol. "Munir lewat, Munir sudah lewat," tutur Ongen, menirukan ucapan kawannya tersebut.
Mendengar kabar itu, Ongen mengaku sangat terkejut, terlebih dirinya sempat bertemu. Dan sebelumnya di dalam pesawat, Ongen yang duduk persis di depan lorong menuju toilet mengaku sempat melihat Munir tiga sampai empat kali lebih mondar-mandir masuk ke kamar kecil.
Ketika dicecar pertanyaan apakah dia membunuh Munir, Ongen mengatakan alangkah sialnya dirinya. Ini lantaran dirinya berada di sana sehingga menjadi sasaran empuk untuk dituduh sebagai tersangka. Ia pun menyatakan dirinya tentu harus hati-hati menyikapi tudingan berat seperti itu. "Ini sama sekali tidak berperikemanusiaan dan tidak berketuhanan," kata Ongen.
Ia pun menjelaskan kepentingan dirinya bolak-balik Jakarta dan Belanda. Menurut Ongen, kegiatan di Belanda adalah dalam rangka memperkenalkan kebudayaan Maluku dan Indonesia melalui lagu-lagu. Selama di Negeri Kincir Angin, Ongen pun menyempatkan diri menyanyi di gereja. Ia mengaku pula tak pernah bertemu dengan Suciwati. Ongen juga tidak pernah memberikan kepada istri mendiang Munir tersebut. Dan mengakhiri perbincangan, Ongen mengakui pembawaan dirinya memang lembut dan halus. Ini jelas berbeda dengan perawakannya yang terkesan angker.
Kini tugas berat ada di pundak kepolisian, untuk menguak tabir gelap kematian Munir yang saat ini menjadi perhatian luas banyak kalangan, baik nasional maupun internasional. Hal ini pun menjadi sorotan Rachland Nashidik, mantan anggota Tim Pencari Fakta Kasus Munir yang juga Ketua Imparsial.
"Kali ini tim penyidik kepolisian melakukan kemajuan dalam penyidikan, tetapi kita memang harus menunda menyatakan puas sampai terbukti bahwa kasus ini tidak berhenti di tengah jalan," ucap Rachland saat berdialog dengan reporter SCTV Andy Budiman di Jakarta, Rabu malam. Walau demikian, Rachland mempercayai kesungguhan Kabareskrim Mabes Polri Komjen Bambang Hendarso Danuri untuk menyibak kabut misteri kematian Munir.
Dalam pandangan Rachland, polisi memang harus membuktikan bahwa pengusutan kembali kasus Munir berada pada jalur hukum yang benar. Hanya saja, menurut Rachland, penyidik kepolisian saat ini mempunyai tugas jauh lebih berat. Terutama buat membuktikan novum dan saksi kunci yang diajukan kali ini mempunyai keterkaitan dengan pembunuhan Munir.
Menengok ke belakang, Rachland mengandaikan kinerja TPF Kasus Munir bersama kepolisian seperti sebuah dongeng yang memunguti remah-remah roti. Namun hingga saat ini, menurut dia, baik TPF maupun kepolisian tidak mengetahui siapakah yang menaruh "remah-remah roti" tersebut. Artinya, suatu jebakan atau menuju ke arah yang benar. Lantaran itulah, ia menyarankan kepada penyidik kepolisian agar tak terjebak kesalahan yang sama.
Rachland pun melontarkan dua pertanyaan penting. Pertama, mengapa Munir dibunuh pada saat momentum menjelang Pemilihan Presiden 2004? Dan mengapa ia dibunuh dengan menggunakan racun? Rachland mengungkapkan, Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh sebelum dicopot sempat menyatakan bahwa Munir dibunuh karena dia adalah aktivis yang tanpa henti serta lelah memperjuangkan pelanggaran HAM dan mendorong kemajuan demokrasi di Tanah Air.
Ia sekaligus mempertanyakan, bila memang Munir dibunuh kenapa bukan dengan cara untuk menimbulkan efek ketakutan yang luas. Misalnya dengan cara diculik, kemudian mayatnya dibuang di jalan seperti kejadian di Aceh, beberapa waktu silam. "Saya ingin mengatakan bahwa Munir dibunuh bukan dengan tujuan untuk menghentikan aktivitasnya, tetapi pembunuhan Munir adalah suatu proyek opini," ujar Rachland, berpendapat. Dengan kata lain, tujuan pembunuhan Munir sepenuhnya adalah politis.
Rachland pun membenarkan ada kesan Munir dibunuh dengan menggunakan kekuasaan yang tinggi. Walau berasumsi seperti itu, Rachland mengaku tak bisa menarik kesimpulan lebih jauh. Menyoal kunjungan Hina Jilani, dia mengungkapkan utusan khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa itu Kamis ini akan menggelar pertemuan tertutup dengan pihaknya membahas kasus Munir [baca: Utusan Khusus PBB Mendatangi MK].
Dia mengingatkan kalangan penyidik maupun pembunuh Munir untuk menghitung efek lain yang bakal terjadi. Artinya, bila terus-menerus terjadi ketidakadilan, maka kasus Munir akan meledak dalam ranah politik nasional dan internasional. Terutama jika penegakan hukum tidak terjadi dan masih adanya ketimpangan rasa keadilan.(ANS/Tim Liputan 6 SCTV)