Wapres Bertemu Korban Penembakan Pasuruan

Dalam kunjungan singkat di Kota Malang, Jatim, Wapres Jusuf Kalla bertemu dengan korban penembakan di Pasuruan. Hingga kini proyektil peluru yang menembus dada Choirul Anwar belum diangkat.

oleh Liputan6Diterbitkan 02 Juni 2007, 14:03 WIB
Liputan6.com, Malang: Dua korban insiden penembakan di Pasuruan, Jawa Timur, dijenguk Wakil Presiden Jusuf Kalla di Rumah Sakit Syaiful Anwar, Malang, Jatim. Kunjungan singkat tersebut antara lain digunakan Kalla melihat kondisi Choirul Anwar, bayi berusia tiga tahun yang di dadanya masih bersarang sebutir proyektil peluru. Operasi pengangkatan proyektil belum bisa dilakukan karena kondisi Choirul masih lemah [baca: Kondisi Bocah Korban Penembakan Membaik].

Tim dokter Rumah Sakit Syaiful Anwar, Malang, Jawa Timur, menemukan sejumlah serpihan metal di tubuh Choirul Anwar dan Herwanto. Namun, kondisi Choirul sudah berangsur membaik karena sudah melewati masa kritis.

Dokter yang merawatnya belum bisa memastikan pengangkatan pecahan proyektil peluru. Tapi, jika kondisinya tidak memungkinkan, proyektil peluru bisa dibiarkan dan tidak akan mengganggu kesehatan korban.

Pecahan proyektil peluru juga ditemukan di tubuh Herwanto. Pecahan metal itu berada di sekitar kantung kecing serta usus korban hingga terkoyak. Namun, kondisi korban mulai membaik setelah menjalani operasi pemutusan usus sepanjang 40 sentimeter.

Di RS dokter Sudarsono, Purut, Pasuruan, dua korban penembakan, Rochman dan Nasum masih dirawat intensif. Rencananya, Rochman yang mengalami luka patah di tangan akan dioperasi Senin mendatang. Sedangkan Nasum harus dilakukan tambah darah karena banyak kehilangan darah

Sementara itu, meninggalnya Dewi Khotijah dalam insiden Rabu silam, hingga kini masih menorehkan luka. Saat peristiwa, Dewi yang hamil lima bulan sedang membuat kue di depan sebuah musala untuk dihidangkan bagi anggota TNI dari kesatuan Marinir. Mendengar bunyi tembakan, Dewi lantas lari ke dapur rumahnya. Ketika mengintip keluar, sebutir peluru menembus kepalanya. Dewi pun terkapar.

Menurut keluarga, Dewi biasa membuatkan kue dan kopi untuk anggota Marinir yang kerap menyambangi desa mereka. Ironisnya, dia justru tewas diterjang timah panas anggota Marinir. Kini, Novianto, seorang bocah berusia empat tahun, harus menjalani hidup tanpa kasih sayang Dewi, ibunya.

Dari Surabaya, Jatim, dilaporkan, pemeriksaan terhadap 13 anggota Marinir yang ditahan di Markas Polisi Militer Angkatan Laut terus berlangsung. Seluruh prajurit yang sudah berstatus tersangka itu mengatakan penembakan dilakukan semata-mata untuk membela diri. Kendati demikian, penahanan tetap dilanjutkan karena sudah cukup bukti adanya penembakan [baca: Tiga Belas Marinir Ditetapkan Sebagai Tersangka].

Sementara itu, insiden penembakan warga Alas Telogo masih terus mengundang reaksi berbagai elemen masyarakat. Misalnya, testimoni yang dihadiri Komisi I DPR beserta unsur muspida dan tokoh masyarakat di Pendopo Kabupaten Pasuruan, terungkap ada sekitar 30 anggota Marinir saat terjadinya bentrokan.

Menanggapi hal itu, Komandan POMAL Kolonel Totok Budi Susanto mengaku pihaknya belum mendengar informasi tersebut. Namun, jika benar, dia akan mempertimbangkan temuan itu, karena pihaknya terbuka menerima informasi dari pihak mana pun.(ADO/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya