Saksi mata menyebutkan selama di Changi, Munir terlihat berbincang dengan dua orang: Pollycarpus Budihari Priyanto dan Ongen Latuihamalo. Bahkan yang disebut terakhir sudah tiga kali diperiksa sebagai saksi.
Ongen yang dikenal sebagai pencipta lagu asal Maluku kini sedang berada di luar negeri. Orang-orang terdekatnya menolak bila Ongen dikaitkan dengan pembunuhan Munir hanya karena dirinya terlihat bersama almarhum saat di Changi. Istilah mereka, Ongen ada di tempat dan waktu yang salah.
Advertisement
Kasus Munir memasuki babak baru. Ternyata dia dihabisi dalam perjalanan dari Singapura ke Belanda, bukan seperti dugaan sebelumnya dari Jakarta ke Singapura. Pemeriksaan contoh racun di tubuh Munir mengindikasikan, sang aktivis tewas setengah hingga satu setengah jam setelah diracun.
"Tingkat reaksi racun sangat cepat. Munir diracun di Bandara Changi," kata Kapolri Jenderal Polisi Sutanto. Tapi seorang saksi meragukan Munir dikerjai di Changi. "Saya melihat mereka berbincang, tapi tak melihat mereka makan bersama," ungkap Nyonya Drupadi.
Munir terbang dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, 6 September 2004. Pesawat Garuda Boeing 747-300 nomor penerbangan 974 yang ditumpangi Munir berangkat sekitar pukul 20.00 WIB. Menempati kursi kelas ekonomi nomor 40 G, Munir kemudian pindah ke kelas bisnis atas tawaran Pollycarpus.
Pukul 00.40 waktu Singapura, pesawat transit di Bandara Changi. Munir turun dan di pintu D42 tampak seperti sedang menunggu seseorang. Tak lama seorang pria berambut ikal berkacamata dan seorang berbadan tegap berambut gondrong menghampirinya. Pria berkacamata adalah Pollycarpus, sedangkan lelaki berbadan tegap belakangan diketahui sebagai Ongen.
Sekitar setengah jam ketiganya bicara. Sekitar pukul 01.53 waktu Singapura pesawat kembali terbang. Tak lama berada dalam pesawat Munir mulai merasa sakit perut dan 40 menit kemudian mulai bolak balik ke toilet. Setelah tak tahan enam kali diare, Munir menghampiri dokter Tarmizi Hakim, dokter yang kebetulan satu pesawat dengannya.
Tarmizi mengaku sempat memberikan empat butir obat diare dan penahan sakit yang ada di tasnya. Setelah tak kunjung membaik Tarmizi menyuntikkan obat tambahan. Sesaat kemudian Munir ditidurkan terlentang di lantai kelas bisnis. Dan, ketika kapal berada di atas langit Rumania, Munir mengembuskan napas terakhir.
Fakta itulah yang sedang digali Polri. "Pembunuhan sudah direncanakan sejak awal. Bisa jadi Polly kembali diseret ke pengadilan," kata Usman Hamid, bekas Sekretaris Tim Pencari Fakta Kasus Munir. Polisi, tambah dia, juga harus melindungi keselamatan para saksi.
Selain membidik Polly dan Ongen, polisi bahkan sudah mencokok dua bekas petinggi Garuda: Indra Setiawan dan Rohainil Aini. Mereka berkomplot memuluskan jalan bagi pembunuhan terhadap Munir. Saat kejadian Indra adalah orang nomor satu di Garuda sedangkan Rohainil menjabat Sekretaris Kepala Pilot Garuda [baca: Dua Tersangka Kasus Munir Ditahan].
Mohammad Assegaf, pengacara yang ditunjuk untuk mendampingi Indra dan Rohainil menetapkan, penetapan kliennya sebagai tersangka baru tak akan menjawab pertanyaan masyarakat tentang siapa dalang di balik pembunuhan Munir. Apalagi bila kasus ini sampai kembali menyeret Polly. "Nggak logis," kata Assegaf.
Assegaf pun tak percaya Polly adalah dalang semua kasus ini. Menurut dia, fakta adanya 27 kali pembicaraan antara Polly dengan Direktur V Bidang Penggalangan Badan Intelijen Negara (BIN) Muchdi P.R. sangat lemah buat kembali dijadikan dasar untuk membidik kliennya. Muchdi pun tegas membantah tuduhan yang dialamatkan kepadanya.(ICH/Tim Liputan 6 SCTV)