Selama sepekan ini, ribuan warga Perumahan Total Persada harus bertahan di sejumlah tempat pengungsian termasuk di bangunan sekolah. Selama itu pula, warga akrab dengan sampan dan bahkan batang pisang sebagai sarana transportasi. Betapa tidak, banjir telah memutus ruas transportasi darat di kawasan tersebut.
Warga setempat mengaku kecewa dengan Pemerintah Daerah setempat yang tak sigap dengan kondisi tersebut. Pemerintah dinilai tak belajar dengan musibah serupa lima tahun silam. Saat banjir besar 2002, Perumahan Total Persada terrendam banjir dan baru surut sebulan kemudian.
Advertisement
Penderitaan juga masih dirasakan warga korban banjir di sejumlah kawasan Tangerang. Mereka mengungsi dan berdesak-desakan bertahan hidup di pengungsian. Tak jarang, mereka harus berebutan jatah makanan lantaran bantuan makanan ternyata tak mencukupi.
Mi instan menjadi makanan keseharian bagi anak-anak dan balita di tempat pengungsian. Jatah nasi bungkus yang kadangkala hadir sebagai sumbangan dari masyarakat menjadi suatu hal yang mewah bagi pengungsi banjir. Sebenarnya tak banyak yang mereka minta. Warga hanya berharap bisa pulang ke rumah segera dan tak lagi didera banjir yang memporakporandakan tempat tinggal mereka.
Sementara itu, banjir juga belum mau beranjak dari Kelurahan Semanan, Kalideres, Jakarta Barat. Ratusan rumah masih terendam. Bahkan seusai hujan turun, ketinggian air naik sampai dua meter. Meski begitu, warga setempat menolak mengungsi dan memilih bertahan di atap rumah. Mereka mengaku terpaksa menunggui rumah meski banjir sudah terjadi selama delapan hari [baca: Air di Pintu Karet Kembali Meluap].
Bagi warga Semanan, banjir mungkin hal biasa. Namun kali ini, banjir yang datang lebih parah dibanding banjir besar lima tahun silam. Kawasan ini bahkan terisolasi sehingga pasokan makanan bagi korban terlambat.(TOZ/Tim Liputan 6 SCTV)