Liputan6.com, Cebu: Konferensi Tingkat Tinggi ke-12 ASEAN di Cebu, Filipina, Ahad (14/1), ditutup dengan penekenan Deklarasi Cebu. Perjanjian yang bertujuan untuk saling menjaga dan tolong menolong dalam komunitas ASEAN itu berisi sejumlah kesepakatan penting. Kesepakatan tersebut adalah perlindungan pekerja migran, cetak biru Piagam ASEAN, dan percepatan perwujudan komunitas ekonomi ASEAN dari 2020 menjadi 2015. Selain itu, KTT menghasilkan konvensi tentang kontra terorisme.
Meski resmi ditutup, KTT ke-12 ASEAN itu dilanjutkan dengan dialog bersama mitra ASEAN. Dialog diikuti Presiden Korea Selatan Roh Moo Hyun, Perdana Menteri Cina Wen Jia Bao, dan PM Jepang Shinzo Abe. Acara tersebut digelar dengan topik utama berkaitan dengan masalah nuklir Korea Utara [baca: Abdullah Badawi Menentang Resolusi DK PBB].
Dalam kesempatan itu, Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo menyatakan dukungannya kepada ASEAN untuk mengakhiri kebuntuan berbagai persoalan di meja perundingan. Selain Cina, Jepang, dan Korsel, perwakilan dari Australia dan Selandia Baru dijadwalkan menggelar pertemuan dengan para pemimpin ASEAN.
Penutupan KTT ASEAN sempat diwarnai unjuk rasa kelompok spiritual Falun Gong. Mereka memprotes pemerintah Cina yang menghambat dan melakukan penganiayaan terhadap aktivis kelompok itu.(ZIZ)
Meski resmi ditutup, KTT ke-12 ASEAN itu dilanjutkan dengan dialog bersama mitra ASEAN. Dialog diikuti Presiden Korea Selatan Roh Moo Hyun, Perdana Menteri Cina Wen Jia Bao, dan PM Jepang Shinzo Abe. Acara tersebut digelar dengan topik utama berkaitan dengan masalah nuklir Korea Utara [baca: Abdullah Badawi Menentang Resolusi DK PBB].
Dalam kesempatan itu, Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo menyatakan dukungannya kepada ASEAN untuk mengakhiri kebuntuan berbagai persoalan di meja perundingan. Selain Cina, Jepang, dan Korsel, perwakilan dari Australia dan Selandia Baru dijadwalkan menggelar pertemuan dengan para pemimpin ASEAN.
Penutupan KTT ASEAN sempat diwarnai unjuk rasa kelompok spiritual Falun Gong. Mereka memprotes pemerintah Cina yang menghambat dan melakukan penganiayaan terhadap aktivis kelompok itu.(ZIZ)