Kesederhanaan Suku Komoro

Sebagian besar Suku Komoro tinggal di pinggir-pinggir pantai yang terdapat di pesisir selatan Kota Timika, Papua, seperti di Pulau Karaka. Kepiting bakau dan sagu merupakan penganan mereka sehari-hari.

oleh Liputan6Diterbitkan 11 November 2006, 15:36 WIB
Liputan6.com, Papua: Pantai dan hutan bakau adalah kehidupan pesisir di Papua. Karena itu, pedalaman di wilayah Mimika Timur merupakan surga bagi ekosistem hutan bakau. Area ini digenangi oleh air pasang yang berasal dari Laut Arafuru. Tidak jauh dari tepian pantai terdapat permukiman Suku Komoro, salah satu penduduk asli Kabupaten Mimika. Hampir sebagian besar dari mereka hidup di pinggir-pinggir pantai, seperti di Pulau Karaka.

Kebanyakan dari Suku Komoro tinggal di rumah kayu nonpermanen. Kondisi ini cukup menggambarkan bahwa kehidupan mereka jauh dari sejahtera. Namun saat ini ada beberapa Suku Komoro bermukim di rumah permanen pemberian dari perusahaan tambang internasional yang beroperasi di Timika. Walau terseret arus modernisasi, tapi dalam kehidupan suku ini tetap menjalankan warisan tradisi seni ukir.

Konon, dari tradisi seni ukir ini mereka dapat mengenal perjalan hidup nenek moyang Suku Komoro hingga akhirnya terdampar di Pesisir Selatan Kota Timika. Dari kisah tersebut mereka juga dapat mengetahui asal kata Komoro yang memiliki arti manusia yang hidup. Syahdan, cerita kehidupan di pesisir pantai pun terus bergulir hingga sekarang.

Sebagai sumber penghidupan, Suku Komoro mengandalkan hasil laut. Kaum laki-laki bertugas membuat perahu guna mencari ikan. Sementara perempuan membikin sagu sebagai penganan mereka sehari-hari. Ini karena tidak mampu membeli beras. Apalagi mereka tidak mempunyai pekerjaan tetap. Rata-rata Suku Komoro hanya lulusan sekolah dasar dan tidak mampu bersekolah tinggi.

Keluarga Mama Maria, misalnya, yang berdiam di Daerah Pomako. Wanita berusia 60 tahun ini tidak pernah khawatir jika gelombang air pasang meninggi. Yang peting bagi Mama Maria, ia dan keempat anaknya bisa makan. Karena itu, setiap hari dengan menggunakan perahu mereka menjelajahi Sungai Wania di tengah lebatnya mencari karaka atau kepiting bakau.

Karaka yang didapat oleh keluarga Mama Maria hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan. Pasalnya, sumber makanan yang bisa dijangkau oleh perahu lesung hanya di aliran sungai. Meski demikian, pencarian karaka tradisional sangat bergantung dengan kondisi pasang surutnya air sungai yang bermuara ke Laut Arafuru. Kondisi berair dan berlumpur merupakan habitat alamiah bagi karaka.

Bagi Suku Komoro, para wanitalah biasanya mencari makan untuk keluarga mereka di tengah hutan. Sementara anak serta menantu pria lebih berperan mengendarai dan menjaga perahu. Mereka harus mencari karaka sebelum matahari terbenam. Sebab pada malam hari akan sulit mencari binatang di hutan bakau.

Keluarga Mama Maria terus melanjutkan perburuan karaka ke wilayah hutan bakau yang dapat mereka tapaki. Tanpa alat bantu penjaring kepiting mereka menyusuri setiap lahan rawa yang telah surut. Suku Komoro hanya berbekal parang dan kapak untuk membelah pohon bakau yang sudah lapuk.

Kaum perempuan Suku Komoro sangat piawai untuk mengetahui jejak persembunyian karaka. Tanpa ada rasa takut digigit capit kepiting besar, Mama Maria kemudian mengambil karaka dan menaruhnya di daun bakau.

Di tengah pencarian karaka, Suku Komoro gemar mengudap ulat pohon bakau atau disebut tambelo.  Mereka kerap mencari di pohon bakau yang sudah tumbang dan melapuk. Bagi Suku Komoro, tambelo merupakan sumber protein dan dapat menjaga tubuh mereka dari serangan nyamuk malaria. Tambelo yang layak untuk dimakan adalah berwarna putih bening serta tak terdapat kotoran kulit kayu di dalamnya.

Ketika noken atau tas makanan di punggung telah penuh, maka sudah waktunya keluarga Mama Maria
bergegas pulang. Sesampainya di bivak, mereka kemudian membuat kayu bakar untuk memasak karaka yang didapat. Di tengah hangatnya api unggun, keluarga Mama Maria lalu berkumpul dan merayakan kehidupan serta menyantap hidangan sehari-hari yang istimewa, sagu dan kepiting bakar.

Potret Suku Komoro menjalani kehidupan adalah secara tradisional dan sederhana. Kehidupan alami yang tak menghiraukan kekisruhan dunia. Kesederhanaan Komoro adalah manusia yang hidup.(BOG/Harjuno Pramundito dan Budi Sukmadianto) 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya