Lumpur Panas Menelan Korban Jiwa

Yuli Eko Hartanto meninggal dunia setelah terkena semburan lumpur panas pada Jumat pekan silam. Ratusan warga Desa Keboguyang, menuntut empat mesin pompa air yang terpasang di Kali Porong untuk segera dicabut.

oleh Liputan6Diterbitkan 01 September 2006, 14:42 WIB
Liputan6.com, Magetan: Luapan lumpur panas dari sumur eksplorasi PT Lapindo Brantas akhirnya menelan korban jiwa. Yuli Eko Hartanto, operator alat berat PT Trikarya Graha Utama, Surabaya, Jawa Timur ini meninggal dunia setelah terkena semburan lumpur panas pada Jumat pekan silam. Yuli sempat dirawat selama sepekan dan sekali dioperasi di Rumah Sakit Umum Daerah dokter Soetomo.

Kedatangan jasad Yuli di rumah duka di Desa Sarangan, Plaosan, Magetan, Jatim disambut isak tangis kalangan keluarga. Istrinya, Sumirah bahkan menangis histeris mendapati pria yang dinikahinya empat bulan silam itu terbujur kaku. Setelah disemayamkan di rumah duka, jasad pria berusia 23 tahun itu dikuburkan di Tempat Pemakaman Umum Kemandoran, Plaosan.

Kejadian yang menimpa Yuli berawal saat dia bekerja bersama 10 anggota Batalyon Zeni Tempur (Yon Zipur) V Malang berjarak sekitar 50 meter dari sumber semburan. Tiba-tiba terjadi ledakan disertai semburan kuat. Yuli berusaha lari, namun terjatuh. Korban mengalami patah pada tulang pinggul. Dia pun dirawat di RSUD dokter Soetomo selama sepekan.

Sementara itu ratusan warga Desa Keboguyang, Jabon, Sidoarjo, berunjuk rasa di Jembatan Kali Porong. Mereka menuntut empat unit mesin pompa air yang terpasang di sungai dicabut kembali karena diduga akan digunakan untuk membuang lumpur. Bahkan warga minta mesin itu harus segera dibongkar. Dalam aksi ini sempat terjadi kericuhan antara warga dan polisi.

Dalam orasinya, warga meminta agar Lapindo tak pilih-pilih dalam membuat tanggul. Mereka takut desanya terendam lumpur akibat kesalahan pihak Lapindo dalam membuat tanggul. Demonstrasi sempat menjurus anarkis setelah warga merusak dan membakar tenda para pekerja Lapindo yang mengerjakan proyek pemasangan pompa dan pipa pembuangan lumpur.

Belakangan diketahui, warga sempat menutup jalan Tol Porong-Gempol di Kilometer 40+900. Mereka duduk-duduk di jalan akibatnya arus lalu lintas macet total. Setelah dilakukan tindakan persuasif pengunjuk rasa akhirnya bubar. Buat mengantisipasi hal yang tak diinginkan, aparat keamanan diturunkan di lokasi unjuk rasa.(JUM/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya