Kelaparan di Papua, 55 Orang Meninggal

Sekitar 55 orang meninggal dan ratusan lain sakit parah akibat kelaparan melanda Yahukimo, Papua, sejak 11 November silam. Kondisi ini membuat Presiden SBY marah dan mempertanyakan keberadaan pejabat daerah.

oleh Liputan6Diterbitkan 09 Desember 2005, 12:39 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Sekitar 55 orang dilaporkan meninggal dan 112 dirawat di rumah sakit akibat kelaparan di Kabupaten Yahukimo, Papua. Berita ini membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono marah. Dia mempertanyakan keberadaan pejabat setempat saat peristiwa ini terjadi. "Di desa ada kepala desa. Di kecamatan ada camat, di kabupaten ada bupati, provinsi ada gubernur. Di mana beliau-beliau ini?" kata Yudhoyono di Istana Negara, Jakarta, Jumat (9/12).

Kematian puluhan orang karena kelaparan ini mendapat respon cepat dari pemerintah. SBY tadi malam langsung memerintahkan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie ke Papua untuk mengambil langkah darurat sambil membawa makanan dan obat-obatan. "Pertama, memberikan perawatan bagi yang sakit dan yang lapar. Kedua, memberikan bantuan makanan. Ketiga, melakukan investigasi mengapa peristiwa itu terjadi," seru SBY. Presiden juga meminta pemerintah daerah menyelidiki dan menanggulangi agar kejadian ini tak terulang di daerah lain.

Kelaparan di Kabupaten Yahukimo terjadi di 17 titik sejak 11 November silam. Tepatnya, di tujuh distrik dan 10 pos peninjauan pemerintah. Mereka umumnya tinggal di pegunungan dan mengandalkan umbi-umbian sebagai makanan pokok. Akibat curah hujan yang tinggi, umbi yang ditanam penduduk gagal panen. "Apa yang mereka tanam selama empat bulan itu hasilnya hanya ubi sebesar ibu jari karena kelebihan air," kata Wakil Bupati Yahukimo, Daniel Rending ketika dihubungi SCTV.

Daniel mengaku telah meninjau lokasi kelaparan tadi pagi bersama Bupati Yahukimo Ones Pahebol. Para korban yang sakit parah hanya dirawat di pusat kesehatan masyarakat karena letak rumah sakit yang sangat jauh. Daniel tak bisa memastikan ke-55 korban meninggal akibat kelaparan atau penyakit lain. Sebab dia memperoleh data itu dari pihak gereja setempat. Dia berjanji menurunkan tim medis besok untuk menyelidiki lebih lanjut kasus ini.

Sejauh ini para korban belum bisa mendapat bantuan. Pihak Pemkab Yahukimo baru memberikan bantuan secara simbolis ketika rombongan Ones Pahebol meninjau lokasi. Kondisi ini terjadi karena korban kelaparan berada di pegunungan yang hanya bisa dijangkau oleh pesawat. Kesulitan ini diperparah dengan cuaca yang kurang bersahabat.

Menurut Daniel, pihaknya telah meminta bantuan kepada daerah lain. Di sisi lain, Pemkab Yahukimo juga sedang mempersiapkan bantuan untuk diterbangkan ke lokasi musibah. Sayangnya jumlah bantuan yang akan diterima para korban akan habis dalam waktu dua minggu. "Kami tak mampu lagi karena kami daerah baru dibuka, baru dimekarkan," kata Daniel.

Kelaparan di Yahukimo sebenarnya bukan hanya terjadi kali ini. Pada 1997 kasus ini pernah terjadi dengan jumlah korban tak kalah banyak. Berbeda dengan kelaparan kali ini, menurut Daniel, penyebab kelaparan tahun silam akibat kemarau berkepanjangan. Kasus ini kembali terulang karena warga setempat hanya menanam umbi-umbian. "Tak ada pesawahan kecuali mereka dipindahkan ke daerah dataran," saran Daniel.(YAN/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya