Desa Tana Beru, contohnya. Daerah yang terletak sekitar 24 kilometer dari Bulukumba, Sulsel itu telah menjadi sentra pembuatan pinisi di Nusantara sejak ratusan tahun lampau. Keterampilan membuat kapal layar tradisional ini diwariskan secara turun-temurun oleh sebagian besar warga di Desa Tana Beru.
Dari pantauan SCTV, baru-baru ini, sekitar 10 kapal dalam proses pengerjaan. Pembuatan pinisi ini bisa memakan waktu delapan bulan hingga satu tahun. Para warga membuat kapal tanpa menggunakan gambar. Semuanya seperti telah tergambar di kepala masing-masing [baca: Pembuatan Pinisi di Tanah Tetangga].
Advertisement
Menurut pemilik bengkel Haji Yusuf, membangun pinisi tak boleh sembarangan. Sebab ada filosofi tertentu yang harus diikuti. "Digambarkan seperti manusia, lambungnya [pinisi] seperti tulang rusuk manusia," Yusuf. Dia menambahkan, pinisi biasanya dijual dengan harga bervariasi mulai dari Rp 600 juta.
Belakangan, Tana Beru sepi order. Kalaupun ada, berasal dari mancanegara. Namun warga tetap menggantungkan diri dari usaha pembuatan kapal dengan melayani pembuatan perahu ikan. Bagaimanapun membangun perahu tradisional sudah menjadi bagian dari napas kehidupan warga Tana Beru.(JUM/Sella Wangkar dan Gatot Setiawan)