Pinisi, Kapal Penuh Filosofi

Membuat pinisi tak boleh sembarangan karena ada filosofi tertentu yang harus diikuti. Bagi warga Desa Tana Beru membuat perahu tradisional khas Suku Bugis merupakan bagian dari napas kehidupan mereka.

oleh Liputan6Diterbitkan 04 Desember 2005, 14:59 WIB
Liputan6.com, Bulukumba: Teknologi boleh saja berkembang, tetapi nilai-nilai tradisi tak harus ditinggalkan. Meski banyak bermunculan kapal yang didesain dengan teknologi maju, tidak dapat menghapuskan eksistensi pinisi. Bahkan sebuah desa hingga kini masih mengkhususkan diri membuat kapal khas Suku Bugis, Sulawesi Selatan itu.

Desa Tana Beru, contohnya. Daerah yang terletak sekitar 24 kilometer dari Bulukumba, Sulsel itu telah menjadi sentra pembuatan pinisi di Nusantara sejak ratusan tahun lampau. Keterampilan membuat kapal layar tradisional ini diwariskan secara turun-temurun oleh sebagian besar warga di Desa Tana Beru.

Dari pantauan SCTV, baru-baru ini, sekitar 10 kapal dalam proses pengerjaan. Pembuatan pinisi ini bisa memakan waktu delapan bulan hingga satu tahun. Para warga membuat kapal tanpa menggunakan gambar. Semuanya seperti telah tergambar di kepala masing-masing [baca: Pembuatan Pinisi di Tanah Tetangga].

Menurut pemilik bengkel Haji Yusuf, membangun pinisi tak boleh sembarangan. Sebab ada filosofi tertentu yang harus diikuti. "Digambarkan seperti manusia, lambungnya [pinisi] seperti tulang rusuk manusia," Yusuf. Dia menambahkan, pinisi biasanya dijual dengan harga bervariasi mulai dari Rp 600 juta.

Belakangan, Tana Beru sepi order. Kalaupun ada, berasal dari mancanegara. Namun warga tetap menggantungkan diri dari usaha pembuatan kapal dengan melayani pembuatan perahu ikan. Bagaimanapun membangun perahu tradisional sudah menjadi bagian dari napas kehidupan warga Tana Beru.(JUM/Sella Wangkar dan Gatot Setiawan)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya