Tapi, kasus itu benar-benar terjadi di Desa Mbengkong, Loceret, Nganjuk, Jawa Timur. Di desa itu, Mbah Inem (nama samaran), seorang tukang pijat pada 25 September silam, diperkosa Suparman, pelanggannya. Mbah Inem empat hari dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara karena pendarahan hebat pada kemaluannya akibat trauma "benda tumpul". "Karena lukanya empat sentimeter, pendarahan tidak bisa ditangani. Dia dioperasi dan dijahit dengan enam jahitan," kata dokter Prima Heru, Kepala RS Bhayangkara.
Mbah Inem kemudian mengadu kepada polisi. Dan, Sukarman akhirnya diciduk di Kediri. Sukarman yang kini mendekam di Markas Kepolisian Sektor Loceret mengelak tuduhan Mbah Inem. Dia mengaku perbuatan itu dilakukan atas dasar suka sama suka. Sukarman bahkan mengatakan, mereka sudah lima kali berhubungan intim.
Advertisement
Pengakuan berbeda datang dari Mbah Inem. Pada malam nahas itu, Sukarman datang minta dipijat. Karena sudah lama menjadi langganan, Mbah Inem bersedia meladeni. Ketika badannya dipijit-pijit Sukarman rupanya merasa terangsang. Dia lantas memaksa Mbah Inem telentang di tikar. "Pakaian saya dibuka Sukarman. Setelah itu, dia memperkosa saya," papar Mbah Inem. Karena sudah uzur dan lelah sehabis memijat korban tak sanggup melawan. Usai memuaskan nafsu bejatnya Sukarman ngeloyor pergi.
Mbah Inem cukup lama terbaring. Awalnya, tak seorang pun datang menolong nenek yang hidup sebatang kara itu. Suaminya tutup usia 20 tahun silam tanpa meninggalkan anak. Dengan suara lemah Mbah Inem meminta tolong. Suara korban didengar Makinem, tetangganya yang bergegas memburu rumah korban. "Saat itu, darah banyak mengalir di kedua kakinya [Mbah Inem]," jelas Makinem. Dia makin tercengang begitu mendengar Mbah Inem mengaku disetubuhi Sukarman.
Sementara Sukarman mengaku tidak ingat kenapa libidonya bergejolak saat badannya dipijat Mbah Inem. "Nggak sadar gitu," kata lelaki berambut potongan tentara itu. Yang paling terkejut dengan ulah Sukarman tentu saja Suyati, istrinya. Anehnya, Suyati tetap memaafkan Sukarman. Bahkan saat dipertemukan di Mapolsek Loceret, Suyati masih bersedia dipeluk dan diciumi suaminya.
Suyati pasrah menghadapi kejadian itu karena dirinya sadar untuk melakukan hubungan suami istri memang sudah tidak mampu. Selain mengidap darah tinggi, Suyati pernah terserang stroke, enam tahun silam. "Saya sudah memaafkan [Sukarman] dan tetap akan merawat dia," kata Suyati yang kini tinggal sendiri di kawasan Mojoroto, Kediri.
Meski kejadian yang menimpanya sudah satu bulan berlalu, Mbah Inem masih trauma. Untuk menenangkan diri dia mengungsi ke rumah kerabat di desa seberang. "Saya masih kesal, kok keterlaluan banget saya sudah tua begini masih diperlakukan seperti itu," ujar Mbah Inem. Kemarahan Mbah Inem sedikit surut lantaran Sukarman sudah mendekam di balik terali besi.(KEN/Erlangga Wisnuaji dan Kurnia Supriyatna)