Liputan6.com, Jakarta: Pemerintah kini sedang mempertimbangkan kembali untuk mengubah kebijakan subsidi bahan bakar minyak. Ini disampaikan Menteri Koordinator Perekonomian Aburizal Bakrie usai bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Rabu (24/8). "Presiden mantap merubah kebijakan subsidi BBM menjadi subsidi langsung kepada masyarakat miskin," tutur Aburizal.
Menurut Ical--begitu Aburizal Bakrie kerap disapa--perubahan tersebut dipertimbangkan secara matang, masak-masak dan sungguh-sungguh. Perubahan itu sendiri untuk menambah cadangan devisa dan memperbaiki posisi rupiah. Sedangkan dampak dari perubahan tersebut adalah kembali naiknya harga BBM. Kenaikan bisa saja diberlakukan sebelum Januari 2006.
Mengenai terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, Aburizal menjelaskan, kemerosotan ini karena menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap kekuatan ekonomi Indonesia [baca: Rupiah Makin Terpuruk]. Padahal, menurut Ical, fundamental ekonomi Indonesia sekarang sangat baik. Itu tercermin dari neraca transaksi berjalan saat ini sebesar lebih US$ 4,7 miliar.
Sementara itu, kelangkaan minyak tanah hingga kini masih terjadi di sejumlah daerah [baca: BBM Masih Langka di Berbagai Daerah]. Di Solo, Jawa Tengah, misalnya. Kelangkaan terjadi di seluruh pangkalan maupun pengecer. Ini disebabkan belum normalnya pasokan distribusi minyak tanah. Sejak 18 Agustus silam, truk-truk pengangkut minyak tanah belum kembali memberikan pasokan ke pangkalan-pangkalan.
Kondisi ini mengakibatkan hampir seluruh pangkalan di Kota Solo selalu kehabisan persediaan karena diserbu oleh pembeli. Saat ini, setiap orang hanya dibatasi membeli dua sampai lima liter minyak tanah. Kelangkaan ini dimanfaatkan sejumlah pedagang dengan menaikkan harga eceran hingga Rp 1.500 per liter.
Situasi yang sama dijumpai di Kota Tegal, Jawa Tengah. Kelangkaan minyak tanah itu diakibatkan adanya pengurangan pasokan ke sejumlah agen oleh Pertamina Sub Pemasaran Wilayah Pekalongan. Dalam satu minggu biasanya mendapat pasokan tiga tangki. Kini hanya satu tangki setiap pangkalan minyak. Warga di tiga kecamatan yang telah mengantre selama berjam-jam pun harus kecewa karena tidak bisa mendapatkan minyak tanah.
Sementara di Ternate, Maluku Utara, kelangkaan minyak tanah hingga kini belum teratasi. Warga harus antre hingga berjam-jam untuk mendapatkan jatah minyak tanah yang dibatasi lima hingga sepuluh liter. Pertamina membantah ada kendala distribusi. Karena selama ini minyak tanah selalu dipasok sesuai kebutuhan yaitu 32 kiloliter per hari. Sementara pemilik pangkalan mengaku hanya mendapat pasokan sepekan sekali.(BOG/Tim Liputan 6 SCTV)
Menurut Ical--begitu Aburizal Bakrie kerap disapa--perubahan tersebut dipertimbangkan secara matang, masak-masak dan sungguh-sungguh. Perubahan itu sendiri untuk menambah cadangan devisa dan memperbaiki posisi rupiah. Sedangkan dampak dari perubahan tersebut adalah kembali naiknya harga BBM. Kenaikan bisa saja diberlakukan sebelum Januari 2006.
Mengenai terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, Aburizal menjelaskan, kemerosotan ini karena menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap kekuatan ekonomi Indonesia [baca: Rupiah Makin Terpuruk]. Padahal, menurut Ical, fundamental ekonomi Indonesia sekarang sangat baik. Itu tercermin dari neraca transaksi berjalan saat ini sebesar lebih US$ 4,7 miliar.
Sementara itu, kelangkaan minyak tanah hingga kini masih terjadi di sejumlah daerah [baca: BBM Masih Langka di Berbagai Daerah]. Di Solo, Jawa Tengah, misalnya. Kelangkaan terjadi di seluruh pangkalan maupun pengecer. Ini disebabkan belum normalnya pasokan distribusi minyak tanah. Sejak 18 Agustus silam, truk-truk pengangkut minyak tanah belum kembali memberikan pasokan ke pangkalan-pangkalan.
Kondisi ini mengakibatkan hampir seluruh pangkalan di Kota Solo selalu kehabisan persediaan karena diserbu oleh pembeli. Saat ini, setiap orang hanya dibatasi membeli dua sampai lima liter minyak tanah. Kelangkaan ini dimanfaatkan sejumlah pedagang dengan menaikkan harga eceran hingga Rp 1.500 per liter.
Situasi yang sama dijumpai di Kota Tegal, Jawa Tengah. Kelangkaan minyak tanah itu diakibatkan adanya pengurangan pasokan ke sejumlah agen oleh Pertamina Sub Pemasaran Wilayah Pekalongan. Dalam satu minggu biasanya mendapat pasokan tiga tangki. Kini hanya satu tangki setiap pangkalan minyak. Warga di tiga kecamatan yang telah mengantre selama berjam-jam pun harus kecewa karena tidak bisa mendapatkan minyak tanah.
Sementara di Ternate, Maluku Utara, kelangkaan minyak tanah hingga kini belum teratasi. Warga harus antre hingga berjam-jam untuk mendapatkan jatah minyak tanah yang dibatasi lima hingga sepuluh liter. Pertamina membantah ada kendala distribusi. Karena selama ini minyak tanah selalu dipasok sesuai kebutuhan yaitu 32 kiloliter per hari. Sementara pemilik pangkalan mengaku hanya mendapat pasokan sepekan sekali.(BOG/Tim Liputan 6 SCTV)