Liputan6.com, Jakarta: Ketika nama roti buaya didengungkan maka akan terbayang sebuah ritual adat perkawinan khas Betawi. Sebab, roti buaya itu biasanya dibawa mempelai laki-laki sebagai salah satu persembahan barang bawaan dalam melangsungkan akad nikah. Namun, bagi Achmad Barlian di Jakarta, roti buaya tersebut menjadikan langkah awalnya sebagai seorang pengusaha roti.
Kini, setelah 35 tahun usahanya dirintis, Achmad mulai membuat berbagai jenis roti lain. Namun roti buaya tetap menjadi produk adalannya. Menurut Achmad, usaha keluarganya dirintis secara kebetulan. Awalnya, hanya ingin memanfaatkan telur-telur dagangan yang pecah. Setelah dibuat, para tetangganya ikut mencicipinya. Kemudian keluarga ini memutuskan serius membuat roti buaya.
Keluarga Achmad mencoba lebih kreatif dalam membuat roti buaya. Mereka mulai mengembangkan rasa, kalau dulu rasanya tawar kini sudah tidak lagi. Ada roti buaya rasa keju atau coklat. Apapun pilihannya, rasanya tetap lezat. Kini, tambah Achmad, roti buatannya sudah dinikmati berbagai kalangan.
Roti buaya buatan keluarga Achmad dijual dengan harga bervariasi antara Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu, tergantung panjang roti. Namun demikian, penjualan roti buaya itu tidak terus menerus dapat laku setiap hari akan tetapi ada musimnya.
Achmad mengatakan lonjakan penjualan roti buaya biasanya terjadi sehabis Hari Raya Idul Fitri, karena warga Betawi umumnya memanfaatkan waktu tersebut untuk menyelenggarakan pesta perkawinan. Biasanya di saat ramai tersebut penerimaan pesanan roti buaya meningkat hingga lima pasang roti buaya per minggunya, tambah Achmad.(ZIZ/Muhammad Achir dan Doni Indradi)
Kini, setelah 35 tahun usahanya dirintis, Achmad mulai membuat berbagai jenis roti lain. Namun roti buaya tetap menjadi produk adalannya. Menurut Achmad, usaha keluarganya dirintis secara kebetulan. Awalnya, hanya ingin memanfaatkan telur-telur dagangan yang pecah. Setelah dibuat, para tetangganya ikut mencicipinya. Kemudian keluarga ini memutuskan serius membuat roti buaya.
Keluarga Achmad mencoba lebih kreatif dalam membuat roti buaya. Mereka mulai mengembangkan rasa, kalau dulu rasanya tawar kini sudah tidak lagi. Ada roti buaya rasa keju atau coklat. Apapun pilihannya, rasanya tetap lezat. Kini, tambah Achmad, roti buatannya sudah dinikmati berbagai kalangan.
Roti buaya buatan keluarga Achmad dijual dengan harga bervariasi antara Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu, tergantung panjang roti. Namun demikian, penjualan roti buaya itu tidak terus menerus dapat laku setiap hari akan tetapi ada musimnya.
Achmad mengatakan lonjakan penjualan roti buaya biasanya terjadi sehabis Hari Raya Idul Fitri, karena warga Betawi umumnya memanfaatkan waktu tersebut untuk menyelenggarakan pesta perkawinan. Biasanya di saat ramai tersebut penerimaan pesanan roti buaya meningkat hingga lima pasang roti buaya per minggunya, tambah Achmad.(ZIZ/Muhammad Achir dan Doni Indradi)