Liputan6.com, Poso: Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah Brigadir Jenderal Polisi Aryanto Sutadi di Tentena, Poso, Sulteng, baru-baru ini, menyatakan telah menahan empat orang yang diduga terlibat kasus peledakan bom, Sabtu silam. Tiga di antaranya berinisial H diringkus saat polisi melakukan razia di perbatasan Poso dan Parigi Mautong, Sulteng, Senin kemarin. Seorang lainnya berinisial K dicokok secara terpisah, beberapa jam kemudian. Polisi juga telah memeriksa 30 saksi untuk memburu para tersangka lain. Para saksi itu adalah saksi korban dan sejumlah warga yang ada di sekitar tempat kejadian ketika ledakan terjadi.
Menurut keterangan saksi, empat orang yang ditahan ini terlihat di Tentena, beberapa hari sebelum peledakan. Polisi belum merinci peranan keempatnya. Menurut Aryanto, motif peledakan untuk menggagalkan rekonsiliasi pascakerusuhan Poso beberapa tahun silam. Aksi ini dilakukan untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa kelompok mereka masih tetap eksis.
Kemarin, jasad Arie Ruus, salah satu korban yang tewas dalam tragedi bom Tentena diantar ke rumah orang tuanya di Kelurahan Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, untuk dimakamkan. Kedatangan jenazah disambut histeris keluarga besar korban.
Keluarga korban mengatakan, saat bom kedua meledak, Arie bersama Ani Kawuaan, istrinya, sedang berjualan di toko mereka. Toko pasangan suami istri ini terletak sekitar sepuluh meter dari lokasi ledakan. Diduga, Arie tewas di tempat kejadian. Sedangkan Ani ditemukan luka parah. Ledakan itu juga membuat kedua kaki Ani terpisah dari tubuhnya. Ani kini dirawat di Rumah Sakit Umum Gereja Kristen Tentena.
Sebelum terjadinya konflik di Poso, Arie dan keluarga berdiam di Poso. Namun, saat Poso rusuh sekitar enam tahun lalu, keluarga itu pindah ke rumah orang tua Arie di Manado. Pasca-Deklarasi Malino, Arie kembali pindah ke Tentena karena menganggap kawasan itu lebih kondusif dibanding Poso.(MAK/Tim Liputan 6 SCTV)
Menurut keterangan saksi, empat orang yang ditahan ini terlihat di Tentena, beberapa hari sebelum peledakan. Polisi belum merinci peranan keempatnya. Menurut Aryanto, motif peledakan untuk menggagalkan rekonsiliasi pascakerusuhan Poso beberapa tahun silam. Aksi ini dilakukan untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa kelompok mereka masih tetap eksis.
Kemarin, jasad Arie Ruus, salah satu korban yang tewas dalam tragedi bom Tentena diantar ke rumah orang tuanya di Kelurahan Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, untuk dimakamkan. Kedatangan jenazah disambut histeris keluarga besar korban.
Keluarga korban mengatakan, saat bom kedua meledak, Arie bersama Ani Kawuaan, istrinya, sedang berjualan di toko mereka. Toko pasangan suami istri ini terletak sekitar sepuluh meter dari lokasi ledakan. Diduga, Arie tewas di tempat kejadian. Sedangkan Ani ditemukan luka parah. Ledakan itu juga membuat kedua kaki Ani terpisah dari tubuhnya. Ani kini dirawat di Rumah Sakit Umum Gereja Kristen Tentena.
Sebelum terjadinya konflik di Poso, Arie dan keluarga berdiam di Poso. Namun, saat Poso rusuh sekitar enam tahun lalu, keluarga itu pindah ke rumah orang tua Arie di Manado. Pasca-Deklarasi Malino, Arie kembali pindah ke Tentena karena menganggap kawasan itu lebih kondusif dibanding Poso.(MAK/Tim Liputan 6 SCTV)