Liputan6.com, Jakarta: Tidak beda jauh. Kira-kira itulah rentang jarak kualitas pelukis pinggir jalan (girlan) dengan karya pelukis elite. Keduanya sama-sama lahir dari imajinasi dalam menangkap keberadaan kehidupan sehari-hari. Karya-karya seniman pinggir jalan itu bisa dilihat di Galeri Cipta, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, baru-baru ini. Sekitar 114 karya dari 45 seniman dipamerkan di sana.
Perbedaan kualitas itu bisa dicermati tatkala mengamati coretan-coretan kanvas karya S. Widodo mengenai bencana Tsunami yang melanda Nanggroe Aceh Darussalam, 26 Desember silam. Keprihatinan Widodo yang dituangkan dalam kanvas itu mencoba menceritakan bahwa masih ada harapan bagi anak-anak di Serambi Mekah.
Karya seniman pinggir jalan ini bahkan ada yang dihargai sampai Rp 75 juta. Itu terdapat pada lukisan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama ibundanya yang merupakan karya Agus Suhendar dengan judul Kemesraan. Selain itu ada juga karya-karya tokoh seperti keenam wajah presiden di Indonesia, Ade Rai serta Bunda Theresa.
Kritik terhadap pemerintahan SBY-Jusuf Kalla pun ikut dituangkan dalam kanvas. Seperti karya S. Wito. Dalam goresannya itu, ia ingin menceritakan bahwa masih ada anak bangsa dengan jiwa nasionalis yang menaruh harapan terhadap para pemimpin di tengah keadaan yang serba terpuruk.
Sejumlah karya pelukis jalanan itu dimulai dari pinggiran trotoar. Mereka menggelar karyanya berupa kartu ucapan dan tulisan indah. Di tengah maraknya seni lukis modern itu, girlan bagai sekumpulan seniman yang tersisihkan. Mungkin kini, dengan digelarnya pameran seperti itu, stigma pelukis pinggiran yang tak layak diperhitungkan bisa terhapus.(AIS/Wendy Surya)
Perbedaan kualitas itu bisa dicermati tatkala mengamati coretan-coretan kanvas karya S. Widodo mengenai bencana Tsunami yang melanda Nanggroe Aceh Darussalam, 26 Desember silam. Keprihatinan Widodo yang dituangkan dalam kanvas itu mencoba menceritakan bahwa masih ada harapan bagi anak-anak di Serambi Mekah.
Karya seniman pinggir jalan ini bahkan ada yang dihargai sampai Rp 75 juta. Itu terdapat pada lukisan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama ibundanya yang merupakan karya Agus Suhendar dengan judul Kemesraan. Selain itu ada juga karya-karya tokoh seperti keenam wajah presiden di Indonesia, Ade Rai serta Bunda Theresa.
Kritik terhadap pemerintahan SBY-Jusuf Kalla pun ikut dituangkan dalam kanvas. Seperti karya S. Wito. Dalam goresannya itu, ia ingin menceritakan bahwa masih ada anak bangsa dengan jiwa nasionalis yang menaruh harapan terhadap para pemimpin di tengah keadaan yang serba terpuruk.
Sejumlah karya pelukis jalanan itu dimulai dari pinggiran trotoar. Mereka menggelar karyanya berupa kartu ucapan dan tulisan indah. Di tengah maraknya seni lukis modern itu, girlan bagai sekumpulan seniman yang tersisihkan. Mungkin kini, dengan digelarnya pameran seperti itu, stigma pelukis pinggiran yang tak layak diperhitungkan bisa terhapus.(AIS/Wendy Surya)