<i>May Day</i> Semarak di Berbagai Daerah

Peringatan Hari Buruh Sedunia di Semarang, Jateng, diwarnai unjuk rasa berbagai elemen masyarakat. Mereka menuntut pendidikan dan kesehatan gratis, kenaikan upah buruh, dan penghapusan sistem buruh kontrak.

oleh Liputan6Diterbitkan 01 Mei 2005, 19:51 WIB
Liputan6.com, Semarang: Hari Buruh Sedunia yang jatuh pada Ahad (1/5) ini diperingati ribuan buruh di berbagai pelosok Tanah Air. Di Semarang, Jawa Tengah, puluhan anak-anak sekolah dasar terlihat bergabung dengan sejumlah elemen dan organisasi massa yang berunjuk rasa di kota itu. Mereka meneriakkan yel-yel dan nyanyian perjuangan para buruh untuk memeriahkan hari yang dikenal dengan sebutan May Day itu. Mereka juga menuntut pendidikan dan kesehatan gratis, kenaikan upah buruh, dan penghapusan sistem buruh kontrak.

Aksi serupa digelar ribuan buruh di Bandung, Jawa Barat. Demonstrasi dimulai di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Secara bergantian, pengunjuk rasa menyampaikan sejumlah tuntutan yang selama ini mereka perjuangkan. Di antaranya peningkatan kesejahteraan dan penghapusan kerja kontrak. Sekitar setengah jam kemudian, massa melanjutkan aksi dengan berjalan kaki menyusuri sejumlah jalan di Kota Kembang.

Unjuk rasa juga terjadi di Medan, Sumatra Utara. Massa bergerak dari Lapangan Merdeka berjalan kaki sejauh lima kilometer menuju Taman Makam Pahlawan Bukit Barisan. Aksi ini juga diikuti massa Partai Keadilan Sejahtera Sumut. Dalam aksinya, para buruh mendesak pemerintah untuk menetapkan upah minimum provinsi sebesar Rp 1 juta per bulan dan ditetapkannya 1 Mei sebagai hari libur umum bagi kaum buruh.

Isu yang dilontarkan para buruh ini senada dengan tuntutan yang disuarakan ribuan buruh di Jakarta. Di antaranya peningkatan kesejahteraan, hak libur dan cuti, dan perlakuan adil untuk buruh di Indonesia. Massa juga menuntut revisi Undang-undang Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003, khususnya pasal kriminalisasi perburuhan yang sebetulnya sudah diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana [baca: Buruh Memperingati May Day di Bundaran HI].

Pemutusan hubungan kerja atau PHK sepihak oleh perusahaan memang kerap terjadi. Namun, tak banyak orang yang mengetahui dampak nyata PHK terutama bagi pekerja kelas bawah. Lehay misalnya, buruh tua yang di-PHK secara sepihak perusahaannya kini harus hidup di bawah garis kemiskinan.

Pria berusia hampir 65 tahun ini telah bekerja selama 10 tahun sebagai petugas kebersihan di sebuah perusahaan garmen di Bekasi, Jabar. Namun tiba-tiba, perusahaan memutuskan untuk memberhentikan Lehay pada akhir tahun silam.

Apa boleh buat. Umur yang tak lagi muda dan keterampilan atau keahlian yang kurang memadai membuat Lehay harus bertahan hidup dengan segala kemampuannya. Kini ia dan istrinya terpaksa mengumpulkan barang bekas untuk sekadar mencari makan. Usaha ini jelas jauh dari mencukupi. Sebab, Lehay hanya bisa mengumpulkan Rp 50 ribu hingga Rp 80 ribu per bulan untuk kebutuhan istri dan kedua anaknya.

Keluarga Lehay tinggal di sebuah rumah kecil di daerah Cipendawa, Bekasi Timur. Rumah tersebut adalah warisan orang tua. Namun Lehay tak memiliki surat kepemilikan atas tanah dan bangunan sehingga ia harus siap terusir dari rumah tersebut. Sebab pemilik tanah yang sah kabarnya akan mendirikan bangunan. Jika akhirnya mereka terusir nanti, Lehay tak tahu lagi harus berteduh di mana.

Sementara itu unjuk rasa memperingati Hari Buruh Sedunia di Korea Selatan diwarnai bentrokan dengan aparat keamanan. Bentrokan bermula dari ulah pengunjuk rasa yang melempar batu dan batang bambu ke gedung perusahaan minyak terbesar di Korsel yakni SK Corporation. Aksi ini memancing kemarahan polisi yang mencoba menghentikannya.

Bentrokan juga terjadi dalam unjuk rasa peringatan May Day di Kota Manila, Filipina. Protes yang diikuti para pekerja dan pendukung mantan Presiden Joseph Estrada ini menuntut mundur Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo. Mereka menuduh Arroyo telah menyebabkan naiknya harga-harga dan merebaknya korupsi.

Bentrokan terjadi saat pengunjuk rasa mencoba mendekati Istana Kepresidenan Malacanang. Polisi yang telah bersiap-siap segera pasang badan dan menghalangi niat pengunjuk rasa. Tak dilaporkan adanya korban luka-luka dalam kejadian ini. Namun pihak keamanan menahan sejumlah demonstran.(TOZ/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya