ChatGPT Sempat Alami Gangguan Global, Riwayat Percakapan Pengguna Hilang!

Layanan ChatGPT dilaporkan mengalami gangguan global, beberapa pengguna mengeluhkan hilangnya percakapan dan sulit mengakses layanan.

Diterbitkan 03 Desember 2025, 09:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Layanan kecerdasan buatan (AI) ChatGPT milik OpenAI dilaporkan mengalami gangguan global pada Rabu pagi waktu setempat. Sejumlah pengguna di berbagai negara melaporkan tidak dapat mengakses percakapan mereka, bahkan beberapa di antaranya kehilangan seluruh riwayat chat.

Pengguna yang terdampak umumnya menerima pesan eror saat mencoba mengajukan pertanyaan dengan ChatGPT.

Dilansir Bleeping Computer, Rabu (3/12/2025), halaman ChatGPT hanya menampilkan proses loading dan respons tidak pernah muncul.

Selain itu, beberapa pengguna mengeluhkan percakapan lama yang hilang dan pesan baru yang tak kunjung muncul. Menurut data Down Detector, lebih dari 30 ribu laporan gangguan dari pengguna masuk dalam waktu singkat.

OpenAI menyampaikan pernyataan resmi bahwa mereka sedang berupaya memperbaiki gangguan yang terjadi. Perusahaan mengonfirmasi adanya peningkatan tingkat kesalahan saat pengguna mencoba mengakses ChatGPT.

OpenAI mengatakan telah mengidentifikasi peningkatan kesalahan saat mengakses ChatGPT pagi ini, karena laporan pada Down Detector terus menumpuk.

“Kami telah mengidentifikasi bahwa pengguna mengalami peningkatan kesalahan pada layanan yang terdampak,” kata OpenAI sebagaimana dikutip dari Bleeping Computer.

Sekitar pukul 03.14 WIB sebagian pengguna melaporkan ChatGPT sudah mulai dapat diakses kembali. Namun, layanan masih berjalan lambat dan belum sepenuhnya pulih.

Sementara OpenAI belum memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai penyebab gangguan tersebut.

Kasus Bunuh Diri Remaja Gara-Gara ChatGPT Kembali Jadi Sorotan, OpenAI Buka Suara!

Di sisi lain, Matthew dan Maria, orangtua Adam Raine, menggugat OpenAI dan CEO Sam Altman pada Agustus 2025. Namun, perusahaan membantah tuduhan kelalaian atas kasus bunuh diri remaja 16 tahun tersebut.

Melalui dokumen tanggapan yang diajukan ke pengadilan, perusahaan menegaskan mereka tidak dapat dimintai pertanggung jawaban atas kematian Adam.

Mengutip Tech Crunch, Jumat (28/11/2025), OpenAI mengklaim selama kurang lebih sembilan bulan penggunaan, ChatGPT mengarahkan Raine untuk mencari bantuan lebih dari 100 kali.

Dalam gugatan, keluarga Raine menuding ChatGPT memberi petunjuk teknis terkait berbagai metode bunuh diri, mulai dari overdosis obat hingga keracunan karbon monoksida. Bahkan menyebut rencana itu sebagai “bunuh diri yang indah”.

OpenAI menyatakan, Adam memanfaatkan celah untuk melewati sistem pengaman, sebuah tindakan yang disebut sebagai pelanggaran terhadap ketentuan layanan. Dalam aturan tersebut, pengguna dilarang mengabaikan langkah-langkah perlindungan atau mitigasi keamanan yang telah disediakan.

Perusahaan juga menekankan halaman Frequently Asked Question (FAQ) mereka memperingatkan agar pengguna tidak mengandalkan output ChatGPT tanpa verifikasi mandiri.  

“OpenAI berusaha mencari-cari kesalahan orang lain, termasuk yang mengejutkan, mengatakan Adam sendiri melanggar syarat dan ketentuannya dengan berinteraksi dengan ChatGPT sesuai dengan cara yang diprogramkan unuk bertindak,” ujar Jay Edelson, pengacara yang mewakili keluarga Raine, sebagaimana dikutip dari Tech Crunch.

Dalam dokumen pengadilan, OpenAI menyertakan kutipan dari catatan percakapan Adam dan ChatGPT yang diajukan secara tertutup sehingga tidak dapat diakses publik. Perusahaan mengklaim, log percakapan menunjukkan konteks yang lebih lengkap, termasuk riwayat depresi dan pikiran bunuh diri Adam yang telah muncul jauh sebelum ia menggunakan ChatGPT.  2 dari 5 halaman

ChatGPT for Teachers Meluncur, Janjikan Keamanan Data Siswa dan Gratis Sampai 2027

Hadirnya platrform AI, seperti ChatGPT, tak dipungkiri memberikan kemudahan di berbagai bidang, termasuk pendidikan.

Akan tetapi, kemudahan ini justru memunculkan kekhawatiran besar. AI disebut mendorong perubahan pola pikir pelajar untuk fokus meraih nilai tinggi, alih-alih mengerti pada proses pembelajarannya.

Dilansir Gizmodo, Selasa (25/11/2025), OpenAI memutuskan untuk melawan kritik dengan memberikan akses ChatGPT for Teachers kepada pada pendidik. Akhirnya, guru dapat menggunakan chatbot untuk menilai pekerjaan para siswa. 

ChatGPT for Teachers dirancang untuk membantu para pendidik menyiapkan materi untuk kelas dan akan mendukung persyaratan Undang-Undang Hak Pendidikan dan Privasi Keluarga (FERPA) di Amerika Serikat (AS).

Ini berarti, informasi yang dibagikan guru tidak akan digunakan untuk melatih model AI secara default, akan tetapi menawarkan ketenangan pikiran di ruang kelas yang sensitif data.

Pembaruan jenis ini ini dirancang khusus untuk pendidik yang bekerja dengan siswa K-12 (setara SD hingga SMA) dalam tugas sehari-hari. Mulai dari menyiapkan materi pembelajaran, membuat adaptasi kurikulum, hingga berkolaborasi dengan sesama rekan guru.

Fitur utama yang ditawarkan

Dikutip dari laman resmi OpenAI, ChatGPT for Teachers menghadirkan beberapa alat bermanfaat di ChatGPT, seperti pesan tanpa batas dengan GPT-5.1 Auto, pencarian, mengunggah dokumen, konektor, dan pembuatan gambar dari materi kelas dan informasi siswa, berkolaborasi dengan kolega, dan belajar dari pendidik lain.

Infografis 4 Rekomendasi Chatbot AI Terbaik. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)