Sukses

Waspada, Flexing Berlebihan di Media Sosial Berpotensi Jadi Petaka

Liputan6.com, Jakarta - Tidak dapat dimungkiri, teknologi informasi di dunia berkembang dengan sangat pesat dan masif.

Di Indonesia saja, saat ini ada lebih dari 202 juta pengguna internet yang berlokasi di berbagai kota di Tanah Air.

Hal ini juga mengubah bagaimana gaya hidup masyarakat menjadi serba digital, dengan berbagai kemudahan dan kepraktisan dalam beraktivitas.

Salah satu gaya hidup serba digital yang saat ini sedang tren dikalangan influencer atau konten kreator media sosial adalah flexing.

Flexing merupakan perilaku memamerkan kekayaan, termasuk pamer yang berlebih-lebihan akan pencapaian.

<p>Webinar Makin Cakap Digital 2022 tentang perilaku flexing di media sosial. (Doc: Istimewa)</p>

Beberapa contoh dari perilaku flexing adalah berfoto dengan barang mewah milik pribadi, membagikan foto barang mewah, memamerkan foto pribadi dengan pencapaian yang dimiliki, menulis tentang kisah tentang kekayaan yang dimiliki.

"Berbagi berlebihan di media sosial akan rentan dengan peretasan data pribadi," ujar Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Al-Azhar Indonesia, Cut Meutia Karolina, saat webinar perdana Makin Cakap Digital 2022 baru-baru ini.

Dia mengatakan, flexing akan membawa kerugian jika kebablasan. Salah satunya informasi penting secara tidak sengaja bocor karena tidak sadar telah membagikan hal penting di media sosial.

"Secara nyata perilaku flexing mempermudah pelaku kejahatan. Ibarat pemilik rumah memberikan kunci untuk membobol rumah kepada pelaku kejahatan," katanya.

Perilaku flexing biasanya tanpa sadar dilakukan ikut mengungkap data pribadi saat membuat konten.

Contohnya adalah mengungkap data KTP, data Ijazah, identitas lengkap vaksinasi, foto lengkap kartu kredit, foto lengkap kartu keluarga, termasuk data kesehatan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Hati-Hati Belanja Online

Ilustrasi Belanja Online, e-Commerce, eCommerce, Online Marketplace, Bisnis Online

Tak hanya terkait dengan perilaku pamer di media sosial. Keamanan digital yang turut menjadi perhatian saat aktivitas berinternet semakin masif adalah berbelanja online.

Pegiat Literasi Digital dan Dosen Fikom Universitas Pancasila, Anna Agustina mengungkap, interaksi pengguna internet di Indonesia semakin tinggi untuk belanja online.

Kini generasi milenial sudah terbiasa untuk bertransaksi membeli game online.

Anna mengatakan, pengguna sering kali kurang detail memerhatikan izin layanan saat mengundu aplikasi di mana biasanya pihak pengelola meminta akses.

Begitu juga penekanan pada kerahasiaan password, alamat email, nomor telepon, rekening bank dan berbagai jenis data yang mungkin bocor hingga bisa dimanfaatkan untuk kejahatan di dunia maya.

"Ingat kembali keamanan digital sebagai proses untuk memastikan pengguna layanan digital baik secara daring dan luring dapat dilakukan secara aman," ucap Anna.

"Tidak hanya untuk mengamankan data yang kita miliki, melainkan juga melindungi data pribadi yang bersifat rahasia."

 

3 dari 3 halaman

Webinar Makin Cakap Digital 2022

Kepraktisan internet membuat penggunanya jadi lebih mudah untuk mengakses segala informasi

Adapun webinar Makin Cakap Digital 2022 ini merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Siber Kreasi.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama.

Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Kali ini hadir pembicara-pembicara yang ahli dibidangnya untuk berbagi terkait keamanan digital pertama ada Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Al-Azhar Indonesia, Cut Meutia Karolina.

Selanjutnya materi mengenai keamanan saat berbelanja online oleh Pegiat Literasi Digital dan Dosen Fikom Universitas Pancasila, Anna Agustina.

Dilanjutkan pengetauan keamanan digital oleh Managing Director Imfocus Digital Consultant, Alex Iskandar.

(Ysl/Isk)