Sukses

Peneliti Kembangkan Kulit Buatan dengan Fungsi Layaknya Kulit Alami

Liputan6.com, Jakarta - Para peneliti di RIKEN Center for Biosystems Dynamics Research (BDR) telah mengembangkan kulit buatan yang berfungsi hampir setara kulit alami.

Mengutip Eurekalert, Selasa (11/3/2020), kulit buatan ini akan meningkatkan analisis mendalam tentang fungsi fisiologis kulit. Selain itu, kulit buatan ini juga diharapkan dapat memberikan solusi untuk masalah kulit yang disebabkan oleh penyakit atau penuaan, dan mengurangi kebutuhan pengujian hewan.

Kulit berfungsi antara lain sebagai penghalang dan bantalan fisik yang melindungi tubuh dari lingkungan luar.

Selain merespons rangsangan fisik eksternal seperti tekanan dan ketegangan, secara konstan kulit berada dalam keadaan "homeostasis tensional". Pada kondisi ini sel-sel di dekat lapisan luar kulit mempertahankan ketegangan stabil melalui serat kolagen.

Ketegangan itu membantu menjaga struktur internal tetap kuat, tetapi tetap fleksibel. Ketika kulit dipotong dari suatu organisme, ia berkontraksi ke arah yang sama di mana serat kolagen, tekstur, dan garis rambut sejajar.

Model kulit buatan memang sejak lama telah dikembangkan sebagai alternatif atas pengujian kulit hewan dalam pengembangan produk perawatan kulit yang aman dan fungsional. Namun, para peneliti masih mengalami kesulitan untuk mempelajari distribusi ketegangan dalam tubuh karena kompleksitasnya.

2 dari 2 halaman

Bekerja sama dengan ROHTO

Bekerja sama dengan ROHTO Pharmaceutical Co., Ltd., tim peneliti yang dipimpin oleh Takashi Tsuji di RIKEN BDR mengembangkan buatan yang disebut setara kulit alami manusia. Kulit ini mampu mereproduksi keseimbangan ketegangan kulit alami, dan mengeksplorasi peran homeostasis tensional dalam mengendalikan struktur kulit dan fungsi.

Tim tersebut pertama kali bereksperimen dengan cara membuat model kulit yang mereproduksi homeostasis tensional. Model kulit buatan konvensional mengalami penyusutan selama proses konstruksi dan hal itu menghilangkan ketegangan, sehingga kolagen dan sel dalam dermis tidak berorientasi dengan benar.

Atas dasar itu, tim mengembangkan model baru dengan mengapit kulit buatan di dalam wadah kultur dan memperbaiki tingkat kontraksi. Pendekatan ini mereproduksi homeostasis tensional alami. Model ini juga tidak menyusut selama kultur dan struktur jaringannya mirip dengan kulit alami.