Sukses

Produksi iPhone di AS Masih Mustahil Dilakukan, Ini Alasannya

Liputan6.com, Jakarta - Tuntutan pemerintah Donald Trump agar komputer dan berbagai produk Apple harus diproduksi di Amerika Serikat (AS), tampaknya masih belum bisa diwujudkan.

Sekrup kecil yang dibutuhkan untuk membuat produk, menjadi salah satu penyebabnya.

The New York Times melalui publikasinya pada Jumat (1/2/2018), menggambarkan pentingnya sekrup untuk mewujudkan keinginan pemerintah AS tersebut.

Chief Executive Officer (CEO) Apple, Tim Cook, pada 2012 mengumumkan bahwa Apple akan membuat komputer Mac di AS.

Perangkat tersebut merupakan produk pertama Apple yang diproduksi oleh pekerja AS. Bahkan Mac Pro dilabeli "Assembled in USA".

Masalah muncul ketika komputer seharga US$ 3.000 itu mulai diproduksi di Austin, Texas.

Menurut tiga orang sumber, Appke kesulitan memenuhi suplai sekrup yang dibutuhkan.

Apple di Tiongkok bergantung pada pabrik-pabrik yang dapat memproduksi sekrup khusus dengan jumlah besar, dalam waktu singkat.

Sementara di Texas, yang disebut dapat memproduksi dalam jumlah lebih besar, justru kekurangan suplai sekrup. Manufaktur kontrak Apple di AS hanya mampu memproduksi 1.000 sekrup per hari.

Kekurangan suplai sekrup hanya salah satu dari sekian masalah yang menangguhkan produksi komputer Apple di AS selama beberapa bulan. Hingga akhirnya komputer itu siap diproduksi massal, Apple harus memesan sekrup dari Tiongkok.

2 dari 3 halaman

Kekuatan Produksi di Tiongkok

Tantangan di Texas menggambarkan salah satu masalah yang dihadapi Apple, jika mencoba memindahkan produksi produknya dalam jumlah besar dari Tiongkok.

Apple sejauh ini dinilai tidak menemukan satu negara pun, termasuk AS, yang bisa menyamai kombinasi skala, kemampuan, infrastruktur, dan biaya di Tiongkok dalam urusan manufaktur.

Tiongkok merupakan salah satu pasar penting bagi Apple, dan ketergantungan terhadap negara itu semakin terlihat dalam sebulan terakhir.

Apple pada 2 Januari mengumumkan pemangkasan prediksi pendapatan untuk pertama kali dalam 16 tahun, disebabkan melemahnya penjualan iPhone di Tiongkok.

Selain urusan penjualan, menurut seorang eksekutif Apple, perusahaan telah melakukan berbagai cara untuk mendiversifikasi rantai pasokannya, dan hasilnya mengarah pada India dan Vietnam.

Para eksekutif Apple khawatir ketergantungan besar terhadap Tiongkok akan berisiko di tengah ketegangan politik dengan AS.

Pihak Apple sendiri pernah secara terang-terangan memuji fasilitas yang ada di Tiongkok.

"Keterampilan di sini sangat luar biasa. Membuat berbagai produk Apple membutuhkan mesin canggih dan banyak yang tahu cara menjalankannya. Di AS, Anda bisa mengadakan pertemuan tooling engineer dan saya tidak yakin kita bisa memenuhi ruangan, tapi di Tiongkok, Anda bisa mengiri beberapa lapangan sepakbola," ungkap Cook dalam sebuah konferensi di Tiongkok pada akhir 2017.

Apple mengontrak banyak pekerjaan di pabrik-pabrik besar Tiongkok, tempat ratusan ribu pekerja berkumpul untuk menguji dan mengemas berbagai produknya.

Semua pabrik itu melakukan proses perakitan mencakup bagian-bagian yang dibuat di seluruh dunia mulai dari Norwegia, Filipina, hingga Pocatello, Idaho, yang dikirimkan ke Tiongkok.

Isu biaya pekerja yang murah pun kerap dibantah oleh Cook sebagai alasan Apple masih berada di Tiongkok.

Upah minimum di Zhengzhou yang merupakan lokasi pabrik terbesar iPhone, sekira US$ 2,10 per jam, dan sudah termasuk tunjangan.

Apple mengatakan, bayaran awal untuk pekerja yang merakit produk-produknya di sana sekira US$ 3,15 per jam. Gaji untuk pekerjaan serupa di AS jauh lebih tinggi.

3 dari 3 halaman

Waktu Fleksibel di Tiongkok

Alasan lain yang membuat proses produksi di Texas tidak berjalan lebih baik dibandingkan Tiongkok, adalah pekerja Amerika tidak akan bekerja sepanjang waktu.

Pabrik-pabrik di Tiongkok bekerja secara bergantian setiap saat, dan jika perlu kadang pekerja dibangunkan dari tidurnya untuk memenuhi target produksi. Hal semacam itu tidak bisa dilakukan di Texas.

"Tiongkok tidak hanya soal murah. Ini adalah tempat di mana ada pemerintahan yang otoriter, dan Anda dapat mengerahkan 100 ribu orang untuk bekerja sepanjang malam untuk Anda. Itu telah menjadi bagian penting dari strategi peluncuran produk," ungkap profesor ekonomi di Case Western Reserve University di Cleveland, Susan Helper.

Helper mengatakan, Apple dapat membuat lebih banyak produk di AS jika menginvestasikan lebih banyak waktu dan uang, serta lebih mngandalkan sistem robotika dan engingeer khusus.

Perusahaan dinilai tidak akan berhasil jika bergantung pada harapan pekerja dengan upah rendah.

Selain itu, pemerintah dan industri AS juga harus meningkatkan pelatihan kerja, serta mempromosikan pengembangan infrastruktur rantai pasokan. Namun, menurut Helper, sangat kecil hal tersebut bisa terjadi.

Apple saat ini masih merakit Mac Pro di pabrik yang berada di pinggiran Austin, mengingat perusahaan telah berinvestasi pada mesin yang rumit dan dirancang khusus.

Namun penjualan Mac Pro berjalan lambat, dan Apple belum merilis versi terbarunya sejak 2013.

Pada Desember 2017, Apple mengumumkan akan ada penambahan hingga 15 ribu pekerja di Austin, hanya beberapa mil dari pabrik Mac Pro.

Namun diprediksi tidak ada pekerjaan baru yang berhubungan dengan manufaktur.

(Din/Jek)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lihat, Aksi Maling Terekam CCTV

Tutup Video
Loading
Artikel Selanjutnya
Karyawan Facebook Tak Bisa Akses Aplikasi Internal via iPhone
Artikel Selanjutnya
Jumlah iPhone Aktif di Dunia Nyaris Sentuh 1 Miliar Unit