Sukses

Prediksi Stephen Hawking: Bumi Kiamat 100 Tahun Lagi

Liputan6.com, London - Stephen Hawking, fisikawan terkemuka yang terkenal dengan teori fisika kuantum, meninggal dunia di usia 76 tahun pada Rabu (14/3/2018).

Diduga kuat, penyebab meninggalnya pria yang dikenal dengan teori di bidang fisika kuantum tersebut dikarenakan komplikasi penyakit sklerosis lateral amiotrofik.

Stephen Hawking terkenal dengan berbagai teori masa depan. Kontribusi terbesarnya di bidang fisika kuantum meliputi beberapa teori, mulai teori kosmologi, gravitasi kuantum, lubang hitam, radiasi Hawking, dan masih banyak lagi.

Salah satu pernyataan Hawking yang sangat sensasional adalah soal kehancuran Bumi yang bakal terjadi 100 tahun lagi. Ya, pria kelahiran Oxford, Inggris tersebut sempat berkata dalam kurun waktu 100 tahun lagi, manusia harus bergegas mencari 'Bumi' baru agar tidak musnah.

Pria yang menimba ilmu PhD di University of Cambridge tersebut juga menuturkan, Bumi kini tengah memasuki fase ancaman alam yang berbahaya.

Beberapa di antaranya bahkan sudah terjadi dan akan berlangsung di kemudian hari, seperti perubahan iklim, serangan asteroid, pertumbuhan populasi yang tak terkontrol, dan penyebaran wabah penyakit.

"Saya pikir, kita tak akan bisa bertahan 100 tahun lagi. Jika bisa bertahan pun, semua pasti sudah hancur," kata Stephen Hawking sebagaimana Tekno Liputan6.com kutip dari Mirror.

"Dengan bertambahnya risiko, bukan tidak mungkin generasi di masa depan terpaksa harus mencari eksistensi baru di luar Bumi. Jika tak ingin musnah, mereka harus mencari planet baru," ia melanjutkan.

1 dari 3 halaman

Kemungkinan Menggapai Alpha Centauri

Teori Hawking juga dipaparkan dalam seri dokumentasi bertajuk "Expedition New Earth". Dalam seri itu, Hawking dan ilmuwan Christophe Galfard meneliti keterkaitan antara ilmu astronomi, biologi, dan teknologi roket untuk memastikan kemungkinan manusia bisa tinggal di sebuah planet selain Bumi.

Apa yang diucapkan Hawking ternyata tak main-main. Diketahui, sebelum wafat, pria berkacamata tersebut telah bekerja sama dengan NASA membangun wahana nano-starship yang fungsinya untuk terbang ke sebuah planet dalam kecepatan cahaya.

Wahana robot mini bernama "StarChip" tersebut, konon bisa mencapai Alpha Centauri, yaitu bintang terdekat Tata Surya yang jaraknya berkisar 4,37 tahun cahaya dari Bumi.

Dilaporkan Tech Insider, robot dirancang dalam bentuk pesawat antariksa yang didorong dengan kecepatan cahaya agar bisa mencapai area Alpha Centauri.

2 dari 3 halaman

Jalan Pintas

Meski begitu, Hawking belum bisa memastikan apakah ini memang akan menjadi 'jalan pintas' untuk menggapai Alpha Centauri atau tidak.

Jika program ini berhasil dieksekusi, jarak tempuh robot tersebut ke Alpha Centauri hanya memakan waktu dua dekade. Dan nantinya, ia akan menciptakan wahana dalam skala lebih besar untuk menampung manusia beranjak dari Bumi.

"Kami merancang pesawat antariksa robotik ini dengan bantuan sorot cahaya dan layar yang ringan. Dengan begitu, perjalanan ke Alpha Centauri bisa ditempuh dalam satu generasi," pungkas Hawking.

Setelah meninggalnya Hawking, apakah prediksi dan upaya ini akan terus dilanjutkan? Apa memang umat manusia percaya dengan teorinya kalau Alpha Centauri bisa dihuni manusia kelak?

Semoga saja, warisan prediksi dan teori ilmiah Hawking bisa diteruskan oleh para ilmuwan agar berguna di masa depan.

(Jek/Isk)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Artikel Selanjutnya
3 Komentar Stephen Hawking Seputar Donald Trump dan Politik Dunia
Artikel Selanjutnya
9 Fakta Menarik tentang Stephen Hawking