Sukses

[OPINI] 5 Tren Mobile Terbesar di 2016

Liputan6.com, Jakarta - Awal tahun adalah momen di mana para marketers menaruh optimisme tinggi terhadap rencana marketing tahunan yang telah dirancang dengan seksama.

Kini saatnya membahas tentang hal-hal apa saja yang telah menggerakkan industri mobile di 2015, dan memprediksikan bagaimana hal-hal tersebut akan berjalan di 2016.

Berdasarkan riset yang dilakukan Opera Mediaworks mengenai State Mobile Advertising 2015, Indonesia merupakan salah satu dari Asia Pasifik "P4" (Power 4) sub-region, bersama dengan India, Vietnam, dan Filipina.

Sub-region ini telah mengalami peningkatan yang dramatis sebesar 545 persen dalam adopsi smartphone sejak 2013, dan merupakan salah satu kawasan yang paling cepat berkembang di dunia.

Berikut adalah lima hal yang wajib diketahui para marketer di Indonesia tentang dunia mobile di 2016:

1. Semuanya serba video, setiap saat

Jika kita ingin menggambarkan tren keseluruhan di 2015, kita dapat melakukannya dengan menunjuk ke satu hal: pertumbuhan pesat bagi mobile video.

Pertumbuhan mobile video didorong oleh konsumsi dari beragam sistem operasi, carriers, dan negara-negara yang menjadikan perangkat mobile sebagai layar pertama yang dilihat konsumen, melampaui televisi dan desktop dalam hal waktu yang dihabiskan.

Ada permintaan yang sangat tinggi serta adopsi yang sangat cepat pada mobile video ads di berbagai wilayah di dunia, termasuk APAC. Hal ini tentunya disebabkan oleh brand dan penerbit yang semakin gencar membuat berbagai konten video yang ramah terhadap ekosistem mobile, sehingga jumlah penonton dari mobile bahkan bisa menggeser televisi.

Tentunya pertumbuhan pesat ini sebagian besar disumbang oleh adopsi perangkat platfrom Android. Menurut data yang dimiliki Opera Media Works, sistem operasi Android meraih peringkat pertama dalam penguasaan pasar serta impression yang dihasilkan dari perangkat mobile dengan jumlah yang mendekati hingga 70 persen di wilayah P4.

Asia Pasifik sendiri secara keseluruhan diprediksikan akan memiliki 2 miliar pengguna smartphone pada 2019, dan waktu rata-rata yang dihabiskan untuk menggunakan layar perangkat mobile di APAC bahkan lebih tinggi dari rata-rata global. Tentunya ini semua berkat permintaan yang sangat tinggi terhadap konsumsi video.

Faktanya, konsumsi terhadap video ini akan berdampak besar pada pengeluaran brand yang akan bertambah besar, lebih besar dari yang dapat kita bayangkan.

Native videos akan meraih momentum di Facebook, Instagram, Twitter, Snapchat, dan lain-lain. Di 2016, kita akan melihat peningkatan adopsi format native video di antara pengiklan dan penerbit premium.

2. Mobile apps memimpin – mobile web mengikuti

Jumlah waktu yang dihabiskan orang di beberapa negara di perangkat mobile – khususnya di Mobile apps – sekarang lebih besar daripada waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi.

Tren saat ini, yang menunjukkan bahwa mobile apps mendapatkan lebih banyak traffic daripada aktivitas browsing biasa di mobile web, akan mengalami peningkatan. Mobile apps memiliki format yang lebih kaya dan menghadirkan pengalaman jauh lebih baik dari mobile web.

Jika mobile ad-blocking diterapkan, penerbit akan dipaksa untuk berupaya fokus membuat konten dan menciptakan pengalaman yang lebih baik untuk mobile apps mereka. 

Di masa mendatang, kita akan menyaksikan integrasi konten in-app yang lebih mendalam dan kreatif. Sebagai tambahan, berdasarkan riset Opera Media Works, masyarakat Indonesia mengonsumsi lebih banyak konten bisnis, keuangan serta investasi yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia.

3. Regulasi, larangan, dan reaksi pelanggan

Ad-blocking menjadi pusat perhatian di 2015, karena hal ini akan sangat berpengaruh terhadap keseluruhan ekosistem konten dan periklanan.

Setidaknya, perlawanan dari konsumen terhadap iklan yang mengganggu haruslah dianggap sebagai sebuah peringatan, sehingga kita berharap bahwa para pengiklan, penerbit, dan pembuat regulasi di seluruh dunia akan lebih memperhatikan isu ini.

Kita juga akan melihat lebih banyak penerapan pengawasan pemerintah terhadap kualitas iklan, penggunaan data, dan dorongan terhadap transparansi dalam segala hal, tidak hanya dalam hal kualitas media yang dibeli, tetapi juga data. Perusahaan juga harus lebih transparan saat menjelaskan bagaimana mereka menggunakan data konsumen.

4. Format baru, hiburan baru, alat-alat baru

Di pasar Asia-Pasifik, smartphone akan menutup kesenjangan yang selama ini ada, dan mulai mengalahkan jumlah feature phone. Karena perangkat yang terkoneksi ini, kehadiran artificial intelligence yang lebih pintar dan pembayaran tanpa batas dengan mobile semakin populer.

M-commerce secara bertahap menjadi pusat perhatian di negara-negara berkembang yang sangat kuat penetrasi mobile-nya.

Pembayaran mobile akan menjadi hal yang umum. Kita juga akan melihat kemunculan pemain-pemain baru di bidang data publik, dan tahun ini kita akan menyaksikan konsolidasi kekayaan data dari telekomunikasi, bank, dan penyedia jasa ritel dalam sebuah platform umum yang akan mampu menyediakan mobile audiences yang tepat sasaran bagi industri.

5. Ini bukan mengenai "brand" atau "performance" – ini tentang "brand" dan  "performance"

Perbedaan antara "brand" dan "performance" dalam strategi periklanan menjadi semakin sulit untuk dideteksi – dan hal ini menjadi semakin nyata ketika masuk ke ranah mobile. Di 2016, kita akan melihat perbedaan yang semakin menipis antara dua jenis iklan ini.

Performa business di industri mobile tentunya akan semakin berkembang pesat, dan tahun 2016 ini para developer akan mengurangi fokus untuk sekadar mengejar jumlah instal, tapi akan lebih memusatkan perhatian untuk menemukan dan menargetkan pengguna berkualitas.

Tidak hanya itu, kita tidak akan melihat lagi brand mengejar performance hanya dalam perangkat mobile. Kami melihat terjadinya pengembangan platform ke saluran seperti televisi dan OOH (out-of-home) untuk mempercepat kesuksesan.

Ketika ini sudah menjadi praktik yang umum, nantinya kampanye brand berbasis mobile akan memasukkan unsur respon secara langsung.

Penulis adalah Vikas Gulati, Managing Director APAC Opera Mediaworks