8 Maestro Indonesia yang Lagu atau Karyanya Tetap Populer Setelah Puluhan Tahun

Simak daftar maestro Indonesia yang lagu atau karyanya tetap populer setelah puluhan tahun. Temukan jejak legendaris Ismail Marzuki, Gesang, hingga Raden Saleh.

Liputan6.com, Jakarta - Karya seni bertaraf mahakarya memiliki sifat abadi yang melintasi batasan waktu dan generasi. Di Indonesia, warisan artistik dari para komponis hingga seniman rupa legendaris terbukti tidak pudar tergerus zaman. Meskipun telah diciptakan puluhan bahkan ratusan tahun lalu, komposisi musik dan rekam jejak visual mereka terus dihidupkan kembali melalui daur ulang, pameran, serta apresiasi dari generasi muda masa kini.

Siklus regenerasi seni ini diperkuat oleh riset serta kajian akademis yang meninjau pentingnya preservasi warisan budaya. Ini karena, karya para maestro musik Indonesia memiliki daya hidup yang luar biasa karena karakter lirik dan refleksinya yang meaningful serta powerful, sehingga tetap relevan dinyanyikan dalam berbagai era aransemen. Hal senada juga diekspresikan dalam studi etnografi seni rupa yang menempatkan karya maestro lukis Klasik Nusantara sebagai fondasi identitas visual bangsa di kancah internasional.

Keberlanjutan popularitas karya-karya ini menjadi bukti nyata kekayaan intelektual Indonesia yang tak lekang oleh waktu. Berikut adalah deretan maestro Indonesia yang lagu atau karyanya tetap populer setelah puluhan tahun beserta jejak historis di balik keabadian karya mereka, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Selasa (13/10/2026).

1. Ismail Marzuki

Ismail Marzuki (1914–1958) merupakan maestro komponis legendaris yang dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional berkat kontribusi besarnya dalam mengobarkan semangat perjuangan serta romansa Nusantara. Karya-karya ciptaannya seperti "Rayuan Pulau Kelapa" (1944), "Sepasang Mata Bola" (1946), "Indonesia Pusaka", hingga "Gugur Bunga" tetap menjadi lagu wajib nasional dan soundtrack kebangsaan yang terus direkam ulang oleh berbagai band modern seperti Endank Soekamti dan Sheila On 7.

Dedikasi Ismail Marzuki dalam meramu harmoni musik yang menggugah jiwa membuat namanya diabadikan sebagai pusat kesenian dan kebudayaan utama di ibu kota, yaitu Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Puluhan tahun setelah kepulangannya, ratusan komposisi musiknya tetap menjadi fondasi penting dalam sejarah musik pop dan keroncong Indonesia.

2. Gesang Martohartono

Dikenal luas sebagai "Maestro Keroncong Indonesia", Gesang Martohartono (1917–2010) mengukir sejarah lewat karya fenomenalnya, "Bengawan Solo", yang diciptakan pada tahun 1940 saat usianya baru 23 tahun. Lagu tersebut melampaui sekat negara dan telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 13 bahasa asing, termasuk bahasa Jepang, Rusia, Inggris, dan Mandarin.

Penghormatan terhadap karya Gesang bahkan diwujudkan secara internasional melalui pendirian Taman Gesang di Jepang. Hingga saat ini, nomor-nomor keroncong klasik seperti "Jembatan Merah" dan "Caping Gunung" ciptaannya terus dirawat oleh komunitas musik muda dan kerap dibawakan dalam festival musik lintas generasi.

3. Titiek Puspa

Titiek Puspa merupakan maestro musik Indonesia yang telah mengukir perjalanan kreatif lebih dari enam dekade. Salah satu mahakarya paling ikonik yang ia ciptakan adalah "Kupu-Kupu Malam" pada tahun 1977, sebuah lagu bernuansa empati tinggi yang memotret sisi humanis kehidupan tanpa stigma negatif.

Lagu-lagu ciptaannya tidak pernah kehilangan relevansi dan terus diinterpretasikan ulang oleh musisi papan atas Indonesia. Salah satunya adalah ketika grup band Peterpan (kini NOAH) membawakan ulang "Kupu-Kupu Malam" dengan aransemen modern yang sukses memperkenalkan karya megah tersebut kepada generasi pendengar millennial dan Gen Z.

4. I Gusti Putu Gede Wedhasmara

I Gusti Putu Gede Wedhasmara (1932–2017) adalah komponis maestro asal Bali yang melahirkan lagu-lagu legendaris bernuansa puitis pada era 1960-an dan 1970-an. Karya-karyanya seperti "Senja di Batas Kota", "Kau Selalu di Hatiku", dan "Berpisah di St. Carolus" dipopulerkan oleh penyanyi legendaris Ernie Djohan dan Retno, serta diakui oleh majalah Rolling Stone Indonesia dalam jajaran pencipta lagu terbaik sepanjang masa.

Meskipun lagunya lebih populer daripada sosoknya, lirik ciptaan Wedhasmara dikenal sangat powerful dan ekonomis dalam pemilihan kata. Hingga kini, lagu-lagunya terus diarasemen ulang dalam berbagai genre mulai dari pop hingga electronic dance music (EDM) dalam pergelaran seni nasional.

 

5. James F. Sundah

James F. Sundah merupakan pencipta lagu berbakat yang menggebrak industri musik Tanah Air saat menulis lagu "Lilin-Lilin Kecil" di usia 21 tahun untuk ajang Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors 1977. Komposisi emosional lagu tersebut tidak hanya melejitkan nama penyanyi Chrisye, tetapi juga menjadi anthem harapan yang terus bertahan melintasi dekade.

Menurut catatan diskografi nasional, "Lilin-Lilin Kecil" tercatat telah direkam ulang oleh lebih dari 50 penyanyi dan grup musik lintas generasi. Keabadian komposisi ciptaan James F. Sundah membuktikan kekuatan struktur melodi dan lirik yang mampu menyentuh hati pendengar dari masa ke masa.

6. Raden Saleh

Dalam ranah seni rupa, Raden Saleh (1811–1880) diakui sebagai pionir lukisan modern Indonesia yang membawa aliran romantisme Nusantara ke kancah internasional. Mahakaryanya yang berjudul Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857) menjadi simbol perlawanan kultural dan salah satu benda cagar budaya paling bernilai tinggi yang dikoleksi oleh negara.

Lukisan-lukisan sejarah dan alam karyanya terus dipelajari dalam literatur akademis seni rupa global serta dipamerkan di berbagai museum ternama dunia. Pengaruh dan teknik lukisannya yang detail menjadikannya acuan utama perkembangan seni lukis modern di Asia Tenggara.

7. Affandi Koesoema

Affandi Koesoema (1907–1990) merupakan maestro seni lukis ekspresionis Indonesia yang diakui secara global berkat teknik melukisnya yang sangat unik, yakni memplototkan cat langsung dari tube ke atas kanvas. Lukisan-lukisan ikoniknya seperti Potret Diri dan Ibuku menyimpan energi emosional yang sangat kuat.

Hingga saat ini, ribuan karya abadi Affandi tersimpan rapi dan menjadi pusat studi seni di Museum Affandi Yogyakarta. Nilai artistik dan histori dari karya-karyanya terus menginspirasi para perupa muda serta menjadi bahan kajian kritikus seni internasional.

8. Basoeki Abdullah

Basoeki Abdullah (1915–1993) adalah maestro lukis beraliran realisme dan naturalisme yang terkenal akan kemahirannya menangkap keindahan alam, tokoh-tokoh penting dunia, hingga mitologi Nusantara. Salah satu karya legendarisnya yang terus diperbincangkan adalah Diponegoro Memimpin Pertempuran serta lukisan potret keluarga kerajaan Eropa.

Karya-karya Basoeki Abdullah dipamerkan secara permanen di Museum Basoeki Abdullah Jakarta dan menjadi bagian dari koleksi Istana Kepresidenan Republik Indonesia. Daya tarik visual lukisannya tetap memikat apresiasi publik serta mempertahankan nilai estetika tinggi setelah puluhan tahun.

Pertanyaan Umum Seputar Maestro Indonesia

Q: Mengapa karya lagu para maestro Indonesia tetap populer meski sudah puluhan tahun?

A: Lagu-lagu ciptaan maestro memiliki kedalaman lirik, kekuatan melodi yang universal, serta tema yang tak lekang oleh zaman. Selain itu, proyek daur ulang (cover) oleh musisi muda dengan aransemen segar turut memperkenalkan karya tersebut kepada generasi baru.

Q: Siapa maestro yang karyanya paling banyak dibawakan ulang oleh penyanyi lain?

A: Komponis seperti Ismail Marzuki, Gesang, dan James F. Sundah merupakan beberapa maestro yang karyanya tercatat paling banyak direkam ulang. Sebagai contoh, lagu "Lilin-Lilin Kecil" karya James F. Sundah telah dinyanyikan ulang oleh lebih dari 50 penyanyi dan grup musik.

Q: Di mana kita dapat melihat langsung karya abadi maestro seni rupa Indonesia?

A: Karya-karya maestro seni lukis Indonesia dapat dinikmati di berbagai galeri dan museum resmi, seperti Galeri Nasional Indonesia, Museum Affandi di Yogyakarta, Museum Basoeki Abdullah di Jakarta, serta koleksi Istana Kepresidenan RI.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6