Sukses

Dita Karang Sempat Putus Asa Mengadu Nasib di AS dan Korsel

Liputan6.com, Seoul - Pencapaian Dita Karang yang debut sebagai anggota grup K-Pop Secret Number membuat banyak orang kagum. Namun tak banyak orang tahu bahwa ia menjalani lika-liku kehidupan yang tak kalah berat.

Dita Karang bahkan pernah merasakan putus asa menjalani kehidupan sebagai seorang performer. Hal ini ia ceritakan dalam sesi Instagram live bersama Dian Sastrowardoyo, Minggu (24/5/2020).

Pertama-tama, Dita Karang menceritakan, sudah sejak lama ia merasa tampil di atas panggung adalah jalan hidupnya.

2 dari 5 halaman

Masuk AMDA

“Setiap habis perform, kayak ada adrenaline rush yang bikin aku senang banget. Kalau habis turun panggung itu kayak the best feeling ever,” kata dia.

Untuk mengasah kemampuan, wanita kelahiran 25 Desember 1996, ini masuk ke American Musical and Dramatic Academy (AMDA) di New York, Amerika Serikat.

3 dari 5 halaman

Dunia Kerja

Selama dua tahun di AMDA, ia begitu bersemangat karena mendapat berbagai ilmu baru. Termasuk akting dan nyanyi, walau tak dipelajari secara mendalam.

Namun semangatnya amblas begitu lulus dari sana dan menghadapi dunia kerja. Bolak-balik audisi, Dita Karang tak juga berhasil meraih peran besar.

“Aku cuma diterima di project-project kecil yang individual, tapi kayak it’s not my main goal,” tuturnya. Ketimbang berlama-lama meratapi nasib, Dita memilih memperluas kemampuannya, dengan mengikuti kelas dance K-Pop, genre yang telah menarik perhatiannya sejak lama. Langkah ini membuka jalannya untuk terjun ke industri idola Negeri Ginseng. 

4 dari 5 halaman

Salah Jalan?

Tak hanya di New York, rasa putus asa juga menghampirinya saat menjalani masa trainee di Korea Selatan. Salah satunya soal kepastian debut yang belum jelas.

Ia bahkan sempat meragukan keputusannya untuk menjadi idola K-Pop. “Waktu di sini (Korea) karena aku ngerasa... my skill kok segini-gini aja. Ini salah jalan apa, ya?" ia menjelaskan. 

5 dari 5 halaman

Hasil Ngobrol

Akhirnya pelantun “Who Dis” ini bisa mengatasi rasa putus asa berkat bantuan teman-teman dan juga merenungi keputusannya ini.

“Akhirnya aku ngobrol-ngobrol sama temanku yang sudah tujuh tahun, lima tahun (menjadi trainee). Dan this is my responsibility, aku yang milih ini,” tuturnya.

Bila waktu diulang pun, Dita akan memilih keputusan yang sama. “Enggak ada gunanya nyerah. This is what I want,” tuturnya.

Semangat terus, Dita!