Hari Film Nasional, Ini 10 Tokoh Horor Indonesia Legendaris Sepanjang Masa

Menyambut Hari Film Nasional, kami merilis 10 tokoh horor legendaris dalam sejarah sinema film Indonesia. Yang mana favorit Anda?

Diterbitkan 30 Maret 2020, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Selamat Hari Film Nasional! Ya, pada 30 Maret kita memperingati Hari Film Nasional. Tak terasa sudah 20 tahun industri layar lebar Indonesia bangkit. Ini ditandai dengan meledaknya film Petualangan Sherina (2000) yang mendatangkan anak-anak ke bioskop.

Setahun kemudian, Jelangkung bikin geger bioskop. Harus diakui, genre horor seperti Jelangkung memiliki peran besar dalam menciptakan antrean panjang di bioskop. Setelah Jelangkung, ada Pocong 2 dan Kuntilanak yang menyerap lebih dari sejuta penonton. Tak hanya laris manis, film horor Tanah Air melahirkan sejumlah tokoh ikonis yang dikenang hingga kini.

Menyambut Hari Film Nasional, kami merilis 10 tokoh horor legendaris dalam sejarah sinema film Indonesia. Pemilihan didasarkan pada popularitas, dampaknya terhadap karier pemain, dan efeknya terhadap industri. Sekali lagi, selamat Hari Film Nasional. Simaklah.

1. Alisa (Sundel Bolong, 1981)

“Hah, Alisa siapa, deh?” mungkin begitu protes Anda dalam hati mendapati karakter Alisa nangkring di urutan pertama dalam daftar kami. Alisa boleh jadi asing di kuping. Namun dialog dan adegan berlatar warung satai Madura ini pasti Anda tahu.

“Satai 200 tusuk makan di sini,” kata perempuan berambut panjang, bergaun putih, dengan muka pucat pasi. “Cepetan, Mas,” imbuhnya. Beberapa detik kemudian ia menghampiri tempat pembakaran satai lalu mengambil semuanya.

“Jek (masih -red.) mentah, Jeng,” sela si penjual.

“Biarin, mentah juga enak,” jawab Mbak Alisa. Lalu kita tahu apa yang kemudian terjadi.

2. Mak Lampir (Misteri dari Gunung Merapi, 1989)

Lakon Sembara dan Mak Lampir populer lewat sandiwara radio di era 1980-an lalu diangkat ke layar lebar. Farida Pasha dipercaya memerankan Mak Lampir. Konon, Mak Lampir dulu cantik. Ia menjadi buruk rupa dan jahat karena mengorbankan kecantikannya demi menghidupkan pangeran yang dicintainya. Sang pangeran bukannya berterima kasih malah menyangkanya penjahat pengacau desa.

Sakit hati atas perlakuan pangeran, putri cantik ini benaran jadi jahat lalu dijuluki Mak Lampir. Ajaibnya, julukan ini menembus ruang dan waktu. Zaman sekarang pun, cewek julid yang jadi public enemy biasanya dijuluki Mak Lampir oleh orang-orang di sekitarnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Darmina menjadi pembantu keluarga Munarto (W.D. Mochtar) dan kedua anaknya, Rita (Sisca Karebety) dan Tommy (Fachrul Rozy). Salah satu adegan paling mencekam, saat Darmina menyambangi permakaman lalu membangkitkan sejumlah mayat. Diperankan dengan apik oleh Ruth Pellupessy, Darmina bukan sekadar biang teror. Pesan yang dibawa karakter fiktif ini sangat jelas dan relevan hingga kini. “Kami akan selalu datang di setiap diri manusia selagi agama cuma menjadi kedoknya,” ucap Darmina jelang akhir film. Dialog ini entah kenapa cocok dengan kondisi masyarakat kita belakangan. Ya, kan?

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan