Sukses

Perburuan: Karya Richard Oh Yang Paling Mudah dan Enak Diikuti

Liputan6.com, Jakarta - Pada 15 Agustus 2019, tiga film Indonesia dirilis di bioskop, yakni Bumi Manusia, Makmum, dan Perburuan.

Sesuai prediksi Bumi Manusia yang berdurasi hampir 3 jam memimpin dengan 90 ribuan penonton pada hari pertama penayangan. Makmum di luar dugaan menyodok Perburuan. Ia mengumpulkan 50 ribuan penonton sementara karya Richard Oh ini harus puas dengan 7 ribuan.

Diprediksi setidaknya mampu merangkul 50 ribu penonton hingga turun layar, Perburuan tampaknya kesulitan. Senin (19/8/2019), film ini harus puas dengan 17 ribuan jiwa. 

Apa sebab Perburuan kurang direspons? Belum lama ini kami menyaksikan Perburuan. Richard Oh memulai kisahnya dengan perjalanan Hardo (Adipati) memasuki Blora, Jawa Tengah. Rambutnya gondrong, acak-acakan. Pakaiannya lusuh, tak ubahnya gembel.

 

 

2 dari 3 halaman

Hardo Diburu

Melintasi sebuah persawahan, Hardo yang dulu memperkuat pasukan PETA (Pembela Tanah Air) bertemu Lurah Kaliwangan (Egy). Lurah mempertanyakan apa yang menimpa Hardo, bahkan awalnya ia menyangka Hardo bukan manusia. 

Kabar Hardo memasuki Blora menyebar bak wabah. Indonesia kala itu tengah dijajah Jepang. Hanya 3,5 tahun namun menyakitkan dan “sukses” memiskinkan penduduk. Kolonel (Nobuyuki) memerintahkan anak buahnya memburu Hardo. Sahabat Hardo Karmin (Khiva) mengikuti perintah Kolonel. Ia berupaya melacak keberadaan Hardo, mengorek keterangan lurah, hingga menemui kekasih Hardo, Ningsih (Ayushita) yang menjadi pengajar. Gagal meringkus Hardo, Jepang menangkapi orang-orang yang selama ini dekat dengannya. 

Perburuan menjadi semacam kisah satu malam yang dijahit dengan detail. Detail itu setidaknya terlihat dari susunan dialog yang dirancang Richard bersama Husein berbasis novel Pramoedya Ananta Toer. Dibuat berdasarkan era, sekitar tahun 1945, kita menemukan sejumlah kosa kata yang kini jarang dipakai. Misalnya, penggeropyokan (penyergapan atau penggerebekan) dan memperkatakan (mengatakan, menyatakan). Kata engkau juga lebih sering digunakan. Kesan klasik tampak jelas dari diksi, kostum, dan riasan. 

Richard dalam Perburuan tak senjelimet karya sebelumnya seperti Terpana. Sumbernya memang jauh berbeda, tak bisa dibandingkan apel dengan apel. Sebenarnya, bisa saja Perburuan dikemas eksentrik dengn alur maju mundur agar tampak lebih bergaya. Namun kali ini, Richard memilih jalur sederhana. Perburuan diceritakan apa adanya agar lebih mudah diresapi. Novel Perburuan yang relatif tipis diterjemahkan dalam dialog-dialog intim. Sejumlah gambar bahkan muncul mengikuti irama percakapan tokoh.

 

 

3 dari 3 halaman

Air Mata Menggenang

Misalnya, saat seorang tokoh membahas Tanah Air. Gambar yang muncul mengikuti unsur-unsur yang disebutkan. Terasa lincah dan selaras. Adipati Dolken yang memimpin cetita tampil konsisten, tak banyak bicara, namun sayangnya juga tampak seperti tak punya daya. Sebagai pelarian, hingga di titik akhir film ia tampak tak berdaya. Grafik hidupnya terasa menurun dan dramatis. Ia membuat Perburuan ini semakin pilu. Tokoh lain seperti Ningsih tampak tenang dan Dipo (Ernest Samudra) meledak-ledak. Ledakan ini juga tertahan lama.  

Perburuan di tangan Richard Oh tak serta merta memperlihatkan kehebohan atau adegan kolosal. Penokohan dan sebagian konfliknya dikemas menyerupai pertunjukan teater. Salah satu adegan yang terasa teaterikal terjadi di pertengahan film. Hardo bersembunyi di sebuah gubuk, lalu si pemilik gubuk yang sudah sepuh dan pandangannya kabur datang. Percakapan tentang seorang anak, nostalgia soal istri, dan bagaimana ibu memandang putranya terasa amat menyentuh. Suasananya hening namun emosinya menusuk. 

Perburuan ditutup dengan adegan yang membuat mata berlinang. Di sanalah, emosi sejumlah tokoh yang tadinya terasa malu-malu alias kalem akhirnya tumpah. “Ayo kawan, bunuh aku!” teriak seorang tokoh di depan beberapa penduduk sipil yang memegang tombak dan bambu runcing. Momen dramatis ini muncul setelah seseorang menjatuhkan bendera Jepang ke tanah lalu mengibarkan sang merah putih. Penutupan yang mengentak dan membuat air mata menggenang. 

Bagi kami, Perburuan dengan alur linear menjadi karya Richard yang paling mudah dan enak diikuti. Menyenangkan, melihat film bertema cinta Tanah Air dikemas sederhana, jauh dari ingar-bingar perang dan desau timah panas, kotbah seputar nasionalisme, atau cinta yang manja. Bisa jadi karena kesenyapan inilah Perburuan kurang mendapat respons positif. Padahal, di film ini Richard lebih simpel dan komunikatif. Atau mungkin karena posternya kurang heboh? (Wayan Diananto)